Google Ghifari's Sketchbook - Learn Share Inspire Ghifari's Sketchbook - Learn Share Inspire

Widgets

Widgets

Kini...


Kini, di sinilah aku berdiri, di sebuah pantai berpasir putih, menghadap cakrawala dan laut yang memantulkan kilatan sinar jingga tanda mentari akan segera terbenam.

Pukul 17.04

Genap 25 jam 46 menit sudah peristiwa itu terjadi. Semenjak itu, berbagai bayangan, dengan bentuk potongan-potongan gambar menyerang dan mendesak pikiranku. Gambar aku tersenyum padamu dan kamu tersenyum balik kepadaku, gambarku menggenggam erat tanganmu, gambarku membelai ujung-ujung rambutmu, gambar kita menyeberang dari satu sisi jalan ke sisi jalan lain, gambar kita sedang belajar bersama, hingga gambarku denganmu bernyanyi bersama. Begitu banyak gambar-gambar merasuki pikiranku dalam waktu singkat, hingga aku mual karenanya. Dan terlebih karena aku tahu, aku sadar bahwa momen itu takkan terulang kembali.

Kata-kata cinta yang begitu tinggi, harapan-harapan indah yang kamu ucapkan, dan tatapan matamu saat mengutarakan hal itu kepadaku teramat membuai pikiranku, membutakan logikaku. Sama sekali tak pernah terpikirkan bahwa hal itu, sekarang, sama sekali bukanlah kenyataan. Begitu cepat, begitu terasa sesak.

Sejenak aku mengamati kedua kakiku yang menginjak pasir lembut ini, dibasuh oleh ombak yang menjilat-jilat pantai tanpa henti, yang mungkin baru berhenti jika sama sekali tak ada laut di depannya, atau apabila Sang Rembulan hancur, atau ketika sangkakala pertanda hari akhir telah dibunyikan. Pikiranku kembali disadarkan oleh ombak yang sedikit besar yang menghantamku hingga celanaku basah, mengembalikanku ke dalam realita.

Aku tidak terlalu suka angin pantai. Terkadang angin pantai yang sangat kencang dapat membuatku masuk angin, pusing, dan mual. Namun senja ini berbeda, angin laut ini hanya semilir ringan, meniup butir pasir dengan lemah, mengusap rambutku dengan lembut, seakan tahu akan suasana hatiku dan membisikkan ketenangan ke dalamnya. Aku harus bersyukur, alam masih sangat bersahabat denganku hari ini. Aku kembali ke dalam lamunanku, masih menatap cakrawala yang kini makin jingga. 

Aku tak pernah tahu kapan awalnya, aku yakin kamu pun begitu. Semuanya terjadi begitu alami, dua insan yang dipertemukan yang kemudian mengalami apa yang disebut orang sebagai cinta. Entah apa yang ada di pikiranmu saat itu, maupun saat ini, aku tak pernah memahami apa isi otak wanita, meskipun volumenya tidak jauh berbeda dari pria.

Cinta memang layaknya energi, tidak dapat kita ciptakan atau musnahkan, hanya dapat bertransformasi dari satu bentuk ke bentuk lain. Dan cinta yang kita alami ini, cinta yang bertransformasi dari persahabatan, dan kemudian berubah lagi menjadi bentuk yang lain, sama sekali tak dapat aku tarik benang merah logikanya.
Semburat awan tipis di cakrawala kini telah menjadi siluet. Angin darat mulai menerpa punggungku, membuatku sedikit merasa sesak dan kedinginan. Dan lagi-lagi, entah kenapa selalu wajahmu yang terbayang. Membayangkan wajahmu selalu membuat hatiku layaknya dua sisi pedang tajam yang menyayat, ada rasa rindu, namun juga sakit.

Ingin sekali aku memberondongmu dengan beribu pertanyaan ini-itu, tetapi seketika itu pula aku sadar bahwa jawabannya hanya akan mengarah ke suatu titik, suatu ujung, suatu sudut: memang begitulah cinta.
Sama sekali aku tidak merasa kesal dengan pilihanmu, aku hanya merasa sangat menyesal karena kamu tidak mengatakan kebenaran, yang memang sudah terlihat olehku. Namun kamu masih saja memungkirinya. Kamu beranggapan cinta itu hanya milik kalian berdua, yang membuat kalian bahagia, tanpa pernah tahu ada insan yang tersakiti karenanya. Tetapi itulah takdirku, takdirmu, takdir kita. Tiada lagi hal yang membuat kita tenang untuk menerima takdir selain dengan keikhlasan.

Kamu telah mengajariku banyak hal. Jujur, sangat ingin aku merasakan bahagia saat kamu merasakan kebahagiaan, seperti janjiku sebelumnya. Tindakan memang selalu tak semudah saat diucapkan. Terkadang aku sedikit menyesal dengan janjiku saat itu. Tetapi aku mencoba, aku mencoba, terus mencoba. Tak lagi ingin aku mengulang kesalahan yang sama. Aku bisa saja kehilangan perasaan itu darimu, namun aku tak ingin kehilangan dirimu, sebagai seorang sahabat yang baik. Semoga perasaanku bisa bertransformasi ke bentuk lain lagi seperti sebelumnya seperti halnya dirimu.

Pukul 17.42

Matahari mulai menampakkan wujudnya yang terjangkau indera. Jingga kemerahan, bersinar lembut, namun tetap terlihat auranya yang digdaya. Betapa aku mengagumi matahari di kala senja. Sekumpulan camar laut yang akan kembali ke sarang-sarangnya sedikit menutupi pandanganku. Perlahan hari semakin menggelap, mentari mulai terbenam, dan esok ia akan kembali terbit di hadapanku layaknya hari-hari sebelumnya. Ia tak pernah alpa akan janjinya.

Sekarang aku terduduk bertopang lengan, menatapi indahnya mentari terbenam, membiarkan diriku diselimuti ombak berpasir. Sejenak aku memejamkan mata, menghirup napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya kuat-kuat. Pikiran dan hatiku sedikit lebih tenang karenanya. Berulang-ulang kutegaskan dalam hati bahwa memang inilah jalannya.

Aku hanya ingin mengenang yang terbaik darimu: senyummu, tawamu, candamu, suaramu, tulisanmu, hadiahmu, rasa khawatirmu, segelas air putih yang kamu berikan saat aku sakit, perhatianmu, belaian lembutmu,  genggaman erat tanganmu yang mengalirkan segenap perasaanmu padaku, dan rasa bahagiamu saat bersamaku. Aku ingin diriku menyadari bahwa kamu yang mengajarkanku tentang semua ini, tentang perasaan ini, tentang cinta ini yang mungkin menjadi salah satu perasaan cintaku yang paling tulus.

Bahwa cinta tidaklah mutlak, cinta adalah memilih...

Dan kamu sudah memilih, begitupun aku, memilih untuk tetap mencintaimu...

Jakarta, 8 November 2011
22.56 WIB
Anda sedang membaca artikel Kini... yang dibuat oleh Abi Sofyan Ghifari dengan URL berikut https://abi-ghifari.blogspot.com/2012/01/kini.html, apabila Anda ingin menggunakan artikel ini sebagai sumber, mohon sertakan link Kini... beserta nama penulis untuk menghargai Hak Cipta penulis dan menghindari plagiarisme. Terima kasih telah berkunjung :)

No comments:

Post a Comment

Thanks for visiting and please leave your comments!! :D

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...