Google Ghifari's Sketchbook - Learn Share Inspire
Showing posts with label Islamic Study. Show all posts
Showing posts with label Islamic Study. Show all posts

Generasi Muda Penggerak Sains Islam


   Dunia Islam dapat dikatakan mengalami ketertinggalan pada masa kini. Kemiskinan dan kebodohan seakan melekat. Bahkan cap terorisme pun terkadang disematkan kepada umat Muslim oleh negara-negara Barat. Kita juga tidak dapat memungkiri masih banyak negara Islam atau negara berpenduduk mayoritas Muslim yang merupakan negara miskin dan tertinggal. Beberapa dari negara tersebut bahkan mengalami krisis pangan, air bersih, energi, sumber daya alam (SDA) dan juga sumber daya manusia (SDM). Sedangkan lainnya masih merupakan negara berkembang yang umumnya memiliki kelimpahan sumber daya alam, termasuk Indonesia.

   Tetapi kelimpahan sumber daya alam tersebut tidak menjanjikan kemakmuran dan kesejahteraan bagi warganya. Sebagai contoh negara kita Indonesia justru terkenal sebagai negara pengutang terbesar dengan tingkat kemiskinan yang masih relatif tinggi dan juga pengekspor tenaga kerja kasar. Sumber daya alam yang melimpah seperti minyak bumi dan gas, beragam bahan tambang, produk hutan, hingga kekayaan laut masih belum dimanfaatkan dengan maksimal. Kebanyakan dari hasil alam tersebut hanya diekspor dalam keadaan mentah tanpa proses yang dapat meningkatkan nilai jualnya, atau bahkan dikelola oleh pihak asing yang memiliki teknologi canggih. 

   Lalu apa akibat dari semua itu? Devisa mengalir ke luar negeri, sumber daya alam Indonesia tidak dapat dinikmati oleh bangsa sendiri, Indonesia terlilit hutang ekonomi yang tidak sedikit, dan rakyat yang terkena imbasnya dengan harga bahan kebutuhan yang tinggi sementara kesejahteraan masih rendah. Negara kita luluh lantak oleh produk-produk sains dan teknologi dari negara-negara non-Muslim. Penyebabnya hanya satu, kita sebagai umat Muslim tidak menguasai ilmu pengetahuan, sains dan teknologi, baik teoritis maupun praktis.

   Ilustrasi yang mungkin dapat menjadi gambaran betapa sains dan teknologi dapat menjadi kekuatan suatu bangsa adalah laporan dari Islamic Educational Scientific and Cultural Organization (ISESCO) pada tahun 2000. Berdasarkan laporan tersebut sebanyak 57 negara Islam yang tergabung dalam Organisasi Konferensi Islam (OKI) dan memiliki sekitar 1,1 miliar penduduk atau 20 persen penduduk dunia, mendiami wilayah seluas 26,6 juta kilometer persegi, dan menyimpan 73 persen cadangan minyak dunia hanya memiliki gross national product (GNP) sebesar 1016 miliar dollar US. Suatu angka yang sangat kecil jika dibandingkan dengan GNP satu negara maju seperti Perancis misalnya, yang berpenduduk kurang dari 60 juta jiwa dan mendiami wilayah sekitar setengah juta kilometer persegi dan memiliki GNP sebesar 1293 miliar dollar US.

   Fakta itu dikarenakan negara-negara maju yang mayoritas non-Muslim termasuk Perancis mendasarkan pertumbuhan ekonominya pada ilmu pengetahuan dan teknologi, sementara negara-negara Muslim hanya bergantung pada sumber daya kualitatif seperti minyak bumi, gas, dan produk tambang, maupun kuantitatif seperti sumber daya manusia. Mayoritas negara Islam tidak membangun dasar iptek yang kuat sehingga tidak dapat bersaing secara global dengan negara-negara lain yang memiliki fundamen iptek yang kokoh.

   Sekarang kita dapat melihat perkembangan pesat China dan India yang telah menjadi kekuatan ekonomi global baru yang bahkan telah mengalahkan Amerika Serikat. Kiat mereka serupa, membangun dasar iptek yang kuat dengan mengirimkan banyak pemudanya menimba ilmu di luar negeri yang kemudian kembali lagi untuk mengabdi kepada negara dengan membangun infrastuktur ilmu pengetahuan-teknologi. Hasilnya dapat dilihat saat ini, China merupakan negara pengekspor kedua terbesar di dunia setelah Amerika Serikat dan negara dengan industri manufaktur terbesar di dunia. Sementara India saat ini merupakan negara penyedia SDM untuk teknologi informasi terbanyak dan berkualitas. China dan India, berkat kegigihan mereka membangun dasar iptek, kini telah menuai hasilnya dengan menjadi negara dengan ekonomi adidaya di dunia.

   Indonesia sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia tentu sebenarnya memiliki potensi untuk hal yang sama. Banyaknya penduduk dapat menjadi kekuatan tersendiri seperti yang dicontohkan China dan India. Terlebih lagi, banyak anak muda Indonesia yang telah berprestasi di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, baik di kancah nasional maupun internasional yang tentu merupakan suatu kebanggaan bagi kita semua. Tetapi semangat membangun dasar iptek yang kokoh ini tidak merata di seluruh pelosok Indonesia. Generasi muda Muslim Indonesia saat ini kebanyakan masih berkutat pada permasalahan fiqih dan aqidah yang terus menerus diperdebatkan. Hal ini tentu baik, apabila juga diimbangi dengan semangat membangun kembali sains Islam.

   Dalam rangka untuk membangkitkan semangat membangun sains Islam, yaitu sains yang didasarkan atas iman dan tauhid kepada Allah SWT, kita perlu menengok kembali ke sekitar abad ke-8 hingga abad ke-15. Pada masa dinasti 'Abbasiyah ini, dunia Islam pernah mencapai kejayaannya berkat tradisi intelektual yang melanda para cendekiawan Muslim pada periode itu. Pada masa keemasan Islam ini pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sangat marak dan pesat, diawali dengan translasi masif karya-karya para filsuf Yunani kuno. Cendekiawan Muslim pada masa itu mengembangkan lebih lanjut dan mendalam apa yang ditulis oleh para filsuf Yunani kuno seperti Socrates, Plato, Aristoteles, Hippocrates, dan lainnya menjadi cikal bakal sains dan teknologi modern.

   Di masa keemasan inilah lahir para filsuf, ilmuwan, teknokrat, dan cendekiawan Muslim yang sangat termasyhur dan berjasa pada kehadiran era sains dan teknologi modern saat ini. Mereka tidak hanya dikenang oleh umat Muslim, tetapi juga seluruh dunia berkat keuletan dan inovasi dalam membangun fundamen yang kokoh bagi sains dan teknologi modern. Pada rentang masa itu telah lahir saintis Muslim seperti Jabir Ibnu Hayyan (atau dikenal dengan nama Geber di Eropa) yang dikenal sebagai "Bapak Kimia Modern", Al-Khawarizmi sang "Bapak Matematika" yang namanya diabadikan sebagai ilmu algoritma, dan Ibnu Sina (atau dikenal sebagai Avicenna di Eropa) seorang dokter Muslim yang termasyhur di dunia Timur dan Barat berkat bukunya "Canon of Medicine". Di masa ini juga lahir cendekiawan Muslim ternama lainnya seperti Al-Biruni (fisikawan), Ibnu Rusyd atau Averroes (filsuf dan ahli biologi), Ibnu Haitsam (teknokrat), dan juga Ibnu Khaldun (sosiolog-antropolog). Selain itu ada juga Al-Kindi (filsuf), Al-Razi (kimiawan kedokteran), Al-Bitruji (astronom), dan banyak lagi yang lainnya.

   Sayangnya sejarah besar dunia Islam yang menjadi pionir dan peletak dasar sains dan teknologi modern kini dilupakan, bahkan oleh umat Islam sendiri. Generasi muda umat Islam lebih berfokus pada paradigma fikih dari Al-Qur'an. Padahal apabila ditelisik secara lebih mendalam sebenarnya ayat-ayat fikih di dalam Al-Qur'an hanya berjumlah 150 ayat, coba bandingkan dengan ayat-ayat kauniyah, yaitu ayat tentang alam semesta yang berjumlah hingga 750 ayat. Di dalam ayat-ayat kauniyah tersebut, Allah mengajak kita untuk berpikir, di antara berbagai fenomena alam yang ada terdapat tanda-tanda kekuasaan-Nya. Al-Qur'an bukanlah kitab sains, tetapi kenyataan ini tentu berarti sesuatu, yaitu kita juga perlu mendalami dan membangun sains yang bernafaskan iman dan tauhid seperti yang telah dilakukan oleh para cendekiawan Muslim di abad keemasan Islam.


“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda–tanda  bagi orang–orang yang berakal”. [QS. Ali Imran (3): 190]

   Kita semua tentu telah menyadari bahwa sains dan teknologi benar-benar memiliki peranan penting bagi kesejahteraan dan kemakmuran suatu bangsa dan negara. Indonesia mungkin memang terlambat dan tidak begitu fokus pada pembentukan dasar-dasar iptek yang kokoh sehingga mengalami ketertinggalan saat ini. Namun kita seharusnya sebagai generasi muda Muslim yang berasaskan tauhid dalam mengembangkan sains dan teknologi dapat kembali membangkitkan era kejayaan dunia Islam.

   Sebagai generasi muda Muslim yang sebisa mungkin bermanfaat bagi bangsa, negara, dan juga agama, kita memiliki tanggungjawab untuk membuat kemajuan dengan mengembangkan sains Islam. Sains Islam tidak hanya menjadi identitas kita sebagai umat Islam, tetapi juga dapat menjadi momentum kebangkitan dan kejayaan Islam di kancah global.
  
Read more...

Implementasi Ibadah dan Muamalah dalam Kehidupan Sosial Manusia


   Mendengar kata ibadah,pikiran kita tentu langsung tertuju pada hal-hal seperti shalat, zakat, puasa, dan haji. Ibadah seperti ini merupakan manifestasi dari keyakinan (aqidah) kita kepada kekuasaan Allah SWT, sehingga ibadah ini dapat juga dikatakan sebagai suatu hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhannya, Allah SWT atau hablum minallah. Secara harfiah, kata ibadah dapat berarti menyembah atau beramal baik. Secara istilah, ibadah dapat diartikan sebagai beramal baik kepada Allah SWT dan kepada seluruh makhluk-Nya agar memperoleh ridho dari Allah SWT. Allah SWT berfirman : “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku.” Firman Allah tersebut menyatakan bahwa seluruh umat manusia wajib beribadah kepada-Nya. Allah SWT telah menetapkan bentuk-bentuk ibadah yang bermacam-macam kepada manusia. Hal ini dimaksudkan agar manusia tidak merasa jemu dalam menunaikan ibadah dan dalam pembagiannya terdapat penyucian bagi sisi-sisi yang beraneka macam dan sudut-sudut yang berbeda dari tabiat kemanusiaan dan sesuai dengan segala perangai dan tingkatan yang ada di dalamnya. Ibadah merupakan manifestasi atau perwujudan langsung dari pengamalan aqidah, syariat, dan akhlak.

   Namun, ibadah yang telah ditetapkan oleh Allah kepada manusia tidak hanya mengenai ibadah kepada-Nya dengan selalu beramal kepada Allah SWT, menaati perintah dan menjauhi larangan-Nya, tetapi juga beribadah dengan jalan beramal baik kepada sesama manusia. Hal inilah yang selanjutnya kita kenal sebagai muamalat atau muamalah. Istilah muamalah mengacu kepada suatu ibadah dengan cara berbuat dan beramal baik sesama manusia lewat berbagai macam cara. Istilah ini sangat berkaitan erat dengan hablum minannaas, yaitu menjaga hubungan baik dengan sesama manusia.

   Manusia ditetapkan oleh Allah SWT sebagai makhluk paling mulia dan diutus ke muka Bumi sebagai pemimpin atau khalifah dan menjadi rahmatan lil ‘alamin, rahmat bagi alam semesta. Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat hidup tanpa adanya manusia lainnya. Untuk itu, Allah telah menetapkan amal-amal yang harus dikerjakan manusia untuk manusia lainnya, dan memang sudah menjadi kodrat manusia untuk selalu berbuat dan berakhlak baik kepada dirinya sendiri maupun manusia lainnya. Contoh muamalah sangat lekat dalam kehidupan sehari-hari, bahkan pada saat kita menunaikan ibadah yang bersifat hablum minallah, seperti shalat. Pada saat kita memulai ibadah shalat, melakukan takbiratul ihram, kita melafadzkan takbir “Allahu Akbar”, Allah Maha Besar, suatu ucapan yang mengagungkan dan membesarkan nama Allah SWT, sehingga hal ini termasuk ibadah hablum minallah. Sedangkan ketika mengakhiri shalat kita mengucapkan salam “Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh”, semoga kamu selamat, rahmat, serta berkah Allah selalu menyertaimu. Ucapan ini dapat diklasifikasikan sebagai ucapan ibadah kepada sesama manusia karena salam tersebut ditujukan kepada sesama muslim. Dalam rukun Islam juga terdapat ibadah zakat yang harus ditunaikan oleh seluruh umat Muslim yang mampu. Ibadah ini Allah tetapkan sebagai wujud keharusan kepada manusia agar memiliki kepedulian sosial terhadap manusia lainnya. Selain itu, Islam juga mengenal sistem ekonomi yang berlandaskan syariat Islam yang mengharamkan riba’ sehingga tidak membebani orang-orang yang kurang mampu, sistem ekonomi ini dikenal dengan sebutan sistem ekonomi syariah atau sistem ekonomi muamalah. Contoh-contoh memperlihatkan bahwa ibadah muamalah tak dapat dilepaskan dan dipisahkan dari keseharian umat manusi

   Allah SWT telah menetapkan dan mengatur hubungan baik sesama manusia dan secara kodrati, manusia memang memiliki hasrat dan keinginan untuk berbuat baik di antara mereka dan bersama-sama menuju suatu tujuan bersama. Hal inilah yang kemudian mendasari terbentuknya masyarakat. Secara sosial, manusia-manusia sebagai anggota masyarakat akan memiliki peranan, tugas, dan kewajibannya masing-masing bergantung kepada kapasitas anggota masyarakat tersebut. Peranan perseorangan dalam mewujudkan kewajibannya di dalam masyarakat merupakan cerminan amal ibadah seseorang terhadap masyarakat atau manusia lainnya. Dengan kata lain, dengan menunaikan kewajibannya di masyarakat, seseorang telah beribadah muamalah.

   Teladan yang sempurna dalam mengamalkan nilai-nilai muamalah dalam ajaran Islam dalam kehidupan sosial adalah Rasulullah Muhammad SAW, yang memang beliau diutus oleh Allah ke muka Bumi sebagai uswatun hasanah, teladan yang baik. Beliau memiliki kecerdasan emosi dan sosial yang tinggi dan sudah sepatutnya menjadi contoh bagi umat Muslim untuk berkehidupan di masyarakat. Sikap jujur, tawaddu’, ramah, pemaaf, dan pemikirannya yang rasional sudah sepatutnya menjadi tolak ukur kita dalam mengamalkan nilai-nilai muamalah ke dalam kehidupan sosial kita sehari-hari.

   Sebagai seorang Muslim sudah sewajibnya kita dapat mengimplementasikan nilai-nilai ibadah muamalah karena hal tersebut merupakan manifestasi langsung dari ruang lingkup ajaran Islam yaitu aqidah, syariah, dan akhlak. Dengan mengimplementasikan nilai-nilai ajaran ibadah muamalah maka kita telah mengamalkan ajaran aqidah mengenai keyakinan kita akan kekuasaan dan keesaan Allah SWT, mengamalkan nilai-nilai hukum Islam yang terdapat dalam syariat, serta mengajarkan kita untuk senantiasa berperilaku dan berakhlak mulia (akhlaqul karimah).


REFERENSI
  • Al-Qusyairi, H. Syarif. 1978. Kamus Akbar Arab-Indonesia Disertai Cara Membacanya. Surabaya: Penerbit Karya Ilmu. Halaman: 296
  • Mahmoud, Abdul Halim. 1984. Menyingkap Rahasia Ibadat dalam Islam. Jakarta: Penerbit SA Alaydrus. Halaman: 36
  • Mubarak, Zakky. 2007. Menjadi Cendekiawan Muslim. Jakarta: Yayasan Ukhuwah Ihsaniyah. Halaman: 26
  • Chodjim, Achmad. 2007. Syekh Siti Jenar: Makrifat dan Makna Kehidupan. Jakarta: Serambi. Halaman: 24
  • Bahreisj, Hussein. 1980. Ajaran-Ajaran Akhlak Imam Ghazali. Surabaya: Penerbit Al-Ikhlas. Halaman: 40
  • Hamka. 1983. Lembaga Hidup. Jakarta: Penerbit Pustaka Panjimas. Halaman: 9
  • Al-Jada’, Ahmad. 2005. Meneladani Kecerdasan Emosi Nabi. Jakarta: Penerbit Pustaka Inti. Halaman: 155

Read more...

Keutamaan Akhlak dan Tuntunan Islam dalam Menyempurnakan Akhlak


   Islam merupakan agama yang senantiasa mengajarkan para penganutnya menjadi manusia dengan fitrah manusia yang seutuhnya, manusia sebagai makhluk yang paling mulia, manusia sebagai khalifah di muka bumi, serta manusia sebagai rahmat bagi semesta alam. Untuk itu, Islam memiliki aturan-aturan serta tuntunan-tuntunan tersendiri agar para penganutnya dapat mencapai tujuan-tujuan tersebut. Di dalam Islam telah dikenal ruang lingkup ajaran agama Islam yang terdiri atas tiga struktur utama, yaitu aqidah, syariat, dan akhlaq [1]. Ruang lingkup tersebut yang kemudian menjadi dasar-dasar perbuatan dan perilaku umat Muslim baik mengenai hubungan dengan Allah (hablum minallah) maupun hubungan dengan sesama manusia (hablum minannaas). Berikut akan dibahas mengenai salah satu ruang lingkup Islam yaitu akhlak.

   Secara terminologis akhlak berasal dari kata “akhlaq” yang merupakan bentuk jamak dari “khulqu” dari bahasa Arab yang artinya perangai, budi, tabiat dan adab. Akhlak itu terbagi dua yaitu akhlak yang mulia atau akhlak yang terpuji (al-akhlakul mahmudah) dan akhlak yang buruk atau akhlak yang tercela (al-ahklakul mazmumah)[2]. Menurut seorang filsuf besar Islam, Imam Al-Ghazali, akhlak merupakan ilmu yang dibentuk oleh syariat Islam di samping mengikuti perkembangan pemikiran dan jalan para Nabi, orang-orang saleh dan syuhada’ serta para ulama Islam yang telah mendapat kasyaf [3]. Selain itu, Ghazali juga memberi pengertian bahwa akhlak dapat disebut juga sebagai ilmu sifat hati dan ilmu rahasia hubungan keagamaan yang kemudian menjadi pedoman akhlaknya orang-orang baik [4].

   Akhlak memiliki keistimewaan tersendiri di dalam ajaran Islam, dimana posisi dan eksistensi akhlak sangat penting dan esensial yang harus dimiliki oleh segenap umat Muslim. Seperti sabda Rasulullah Muhammad SAW, “Sesungguhnya Aku diutus untuk menyempurnakan keluhuran akhlak.” (HR. Malik). Kemudian ketika beliau ditanya mengenai makna agama, beliau menyatakan “bahwa agama adalah akhlak yang baik“[6]. Selain itu keutamaan akhlak yang mulia dalam Islam juga dapat dilihat dari sabda Rasulullah SAW ketika beliau ditanya mengenai kriteria orang yang paling banyak memasuki surga, kemudian beliau menjawab:“Taqwa kepada Allah dan Akhlak yang Baik.” (Hadits Shahih Riwayat Tirmidzi, juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad) [6]. Keistimewaan-keistimewaan tersebutlah yang seharusnya menjadi cambuk bagi kita untuk senantiasa menyempurnakan akhlak yang mulia, karena tujuan diutusnya Nabi Muhammad SAW tidak lain adalah untuk menyempurnakan akhlak umat manusia.

   Akhlak yang mulia merupakan akhlak yang diridhoi oleh Allah SWT. Tentu saja hal ini tidak bisa didapatkan begitu saja tanpa adanya usaha dari kita sebagai hamba Allah. Memang manusia selalu memiliki kecenderungan untuk berperilaku baik dan berakhlak makrumah seperti kecondongan individu terhadap hikmah (pengetahuan), kecintaan kepada Allah SWT, keinginan untuk mengenal Allah (ma’rifatullah), dan beribadah kepada-Nya selalu ada karena hal itu termasuk naluri (tabiat) dan merupakan fitrah manusia. Menurut pandangan Ghazali, pendidikan akhlak itu penting untuk dilakukan demi mencapai kesempurnaan beribadah kepada Allah SWT dan mencapai akhlak yang mulia. Ghazali mempertimbangkan adanya perubahan-perubahan akhlak pada manusia yang sangat mungkin terjadi. Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW: “Perbaikilah akhlakmu.”, yang senantiasa ditunjukkan kepada kaum Muslimin agar terus menerus memperbaiki dan menyempurnakan akhlaknya [7].
   Rasulullah Muhammad SAW juga telah memberikan tuntunan hidup beragama Islam yang paling dasar yang dapat menjadi pendidikan akhlak bagi umat Muslim yaitu Rukun Islam. Rukun Islam yang dikenal saat ini merupakan hadis shahih yang berasal dari Abdullah ibnu Umar dan diriwayatkan oleh beberapa imam hadis, yaitu Bukhari, Muslim, Tirmidzi, dan An-Nasa’i. Hadis tersebut redaksinya adalah sebagai berikut [8].
“Buniya al-islamu ‘ala khams syahadah an la ilaha illa Allah wa anna muhammadan rasulullahi wa iqami al-shalah wa itai al-zakah wa al-hajji wa shawmi ramadhan.”
Islam dibangun atas lima tiang, yaitu: syahadat yang menyatakan bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad itu Rasul Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan haji, serta berpuasa pada bulan Ramadhan.

   Rukun Islam sebenarnya adalah landasan hidup kaum Muslimin dalam berperilaku lahiriah yang makrumah, berakhlak mulia. Tetapi, untuk bisa mewujudkan akhlakyang mulia tersebut aplikasi Rukun Islam dalam kehidupan sehari-hai tidak dapat dipisahkan dengan Rukun Iman. Sehingga pada tahap puncaknya, akhlak yang mulia dari individu Muslim merupakan perwujudan dari sikap hidup ihsan.

   Dari uraian di atas, dapat terlihat dengan jelas bahwa Islam merupakan agama yang mengutamakan akhlak yang mengatur hubungan individu Muslim kepada Allah SWT, Sang Pencipta Alam Semesta serta mengatur perilaku terhadap sesama umat Muslim dan kepada sesama manusia dan makhluk Allah SWT. Memiliki akhlak yang mulia memiliki banyak keutamaan dan manfaat, dengan terus-menerus menyempurnakan akhlak, manusia khususnya umat Muslim, dapat menjalani fitrahnya dengan mulia sebagai makhluk yang paling mulia, sebagai khalifah di muka bumi, serta sebagai rahmat bagi semesta alam.


REFERENSI

[1] Zakky Mubarak. Menjadi Cendekiawan Muslim. [Jakarta: Yayasan Ukhuwah Ihsaniyah.2007], hlm: 26
[2] Aribowo. Akhlak. Diambil dari situs http://mediasauna.multiply.com/journal/item/8 diakses pada tanggal
18 Februari 2010.
[3] Dalam Kamus Akbar Arab-Indonesia karangan Syarif Al-Qusyairi, kata kasyaf yang berasal dari kata kasyafa, yaksyifu, kasyafan dapat berarti membukakan atau menampakkan sesuatu. Lebih lanjut dijelaskan dalam buku Ajaran-Ajaran Akhlak Imam Ghazali karangan Hussein Bahreisj, bahwa kata kasyaf merujuk pada istilah terbukanya tabir rahasia.
[4] Hussein Bahreisj. Ajaran-Ajaran Akhlak Imam Ghazali. [Surabaya: Penerbit Al-Ikhlas. 1981], hlm: 39
[5] Andrean El-Fachri. Eksistensi Akhlak Dalam Islam. Diambil dari situs http://andreanelfachri.wordpress.com/akhlaq/eksisitensi-akhlak-dalam-islam/ diakses pada tanggal 18 Februari 2010
[6] Aribowo. Akhlak. Diambil dari situs http://mediasauna.multiply.com/journal/item/8 diakses pada tanggal
18 Februari 2010.
[7] Hussein Bahreisj. Ajaran-Ajaran Akhlak Imam Ghazali. [Surabaya: Penerbit Al-Ikhlas. 1981], hlm: 41
[8] Achmad Chojim. Syekh Siti Jenar: Makrifat dan Makna Kehidupan. [Jakarta: Serambi. 2007], hlm:149

Read more...