Google Ghifari's Sketchbook - Learn Share Inspire
Showing posts with label Technology. Show all posts
Showing posts with label Technology. Show all posts

Antara Teknologi dan Evolusi Manusia


"It has become appallingly obvious that our technology has exceeded our humanity."
Albert Einstein

   Kehidupan manusia saat ini, baik kita sadari atau tidak, selalu bersentuhan, berkaitan erat, dan bahkan sangat bergantung kepada teknologi. Teknologi mewarnai hampir seluruh aspek kehidupan manusia, mulai dari komunikasi, informasi, transportasi, ekonomi-bisnis, industri, hingga kehidupan sosial-budaya. Penggunaan teknologi yang begitu luas tersebut tentu menghasilkan dampak dan pengaruh yang luar biasa bagi umat manusia, salah satunya adalah evolusi.

   Sebelum berbicara lebih jauh mengenai pengaruh teknologi pada kehidupan manusia, kita perlu untuk mengetahui makna dari kata ‘teknologi’ itu sendiri. Teknologi terdiri atas dua kata yang berasal dari bahasa Yunani, yaitu techne yang berarti kemampuan, dan logia yang berarti pengetahuan. Secara umum makna dari teknologi adalah pengetahuan mengenai teknik, alat, sistem, atau metode untuk menyelesaikan suatu permasalahan. Pada hakikatnya, teknologi adalah buah pikir manusia yang hadir sebagai jawaban atas berbagai permasalahan yang dihadapi. 

   Teknologi telah hadir dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia semenjak manusia itu sendiri eksis di muka bumi. Penggunaan kapak batu untuk berburu pada zaman batu tua (paleolithicum) jutaan tahun lampau, penemuan metode peleburan dan penempaan tembaga dan perunggu di zaman logam, hingga penggunaan roda pada pembuatan piramida pada zaman Mesir kuno adalah beberapa contoh nyata bahwa teknologi telah melekat di kehidupan manusia sejak lama.

   Salah satu periode paling bersejarah yang kelak akan menentukan dalam perkembangan teknologi hingga saat ini adalah revolusi industri di Inggris. Revolusi industri yang terjadi pada tahun 1760 hingga 1840 mengawali perubahan besar-besaran di bidang industri. Mulai dari industri tekstil, pertambangan, produksi logam dan bahan kimia, penggunaan mesin uap, hingga pembuatan jalan dan jalur kereta. Tidak hanya Inggris tetapi juga Eropa dan seluruh dunia. 

   Bahkan pengaruh revolusi industri pun masih terasa hingga sekarang. Penggunaan mesin canggih di berbagai pabrik produksi, moda transportasi modern seperti mobil dan kereta api, hingga teknologi produksi beragam bahan kimia. Namun ternyata tidak hanya dampak positif, revolusi industri juga berperan menciptakan suatu kelas sosial baru, yaitu kelas buruh yang juga menjadi bagian tak terpisahkan dari evolusi sosial manusia. 

   Gelinding roda teknologi seakan tak dapat dihentikan sejak saat itu. Berbagai ledakan inovasi dan kreativitas para penemu di seluruh dunia menciptakan wajah teknologi hingga seperti dewasa ini. Penemuan lampu pijar oleh Thomas Alva Edison, radio oleh Guglielmo Marconi, telepon kabel oleh Alexander Graham Bell, dan televisi oleh John Logie Baird di awal abad ke-20 adalah beberapa penemuan yang akan selalu terkenang dalam pikiran kita yang juga menjadi tonggak sejarah berdirinya era teknologi modern.

   Abad 20 pun segera menjadi abad teknologi modern. Bahkan teknologi yang hadir pada setiap dekade pada abad ini memiliki perbedaan yang cukup signifikan dengan dekade sebelumnya. Pada periode ini, para penemu, ilmuwan, dan praktisi teknologi berlomba-lomba melahirkan berbagai produk teknologi mencengangkan yang dapat kita nikmati hingga saat ini. Tiga di antaranya adalah penemuan yang berdampak sangat besar terhadap dunia informasi dan komunikasi hingga menjadi sebuah fenomena sampai saat ini: komputer, telepon selular (ponsel), dan internet.

   Komputer merupakan salah satu penemuan terbesar di abad 20. Sejumlah perusahaan pengembang dan penemu visioner di berbagai negara saling berkontribusi dalam menciptakan algoritma, semikonduktor, mikroprosesor, program, hingga monitor dan keyboard sehingga membentuk komputer seperti yang kita gunakan saat ini. Raksasa teknologi seperti Microsoft, Apple, dan IBM pun memiliki peranan besar dalam pengembangan produk komputer.

   Produk teknologi ini memiliki fungsi dan dampak yang sangat besar bagi manusia. Personal computer (PC) desktop, laptop, notebook, netbook, maupun PC tablet seakan telah menjadi benda wajib, tidak hanya bagi perusahaan tetapi juga sekolah, universitas, perpustakaan, rumah sakit, dan juga berbagai profesi yang menuntut penggunaan komputer. 

   Pengolahan data, penyajian informasi, penyuntingan gambar dan video, membuat dan mendengarkan musik, bahkan hingga penelitian ilmiah dapat dilakukan melalui komputer. Kehebatan komputer yang multifungsi ini tentu menjadi salah satu hal yang mengubah paradigma manusia terhadap teknologi. Hingga saat ini diperkirakan sekitar 900 juta orang telah menggunakan komputer.

   Produk teknologi besutan abad 20 selanjutnya adalah telepon seluler (ponsel) atau telepon jinjing (handphone). Melanjutkan inovasi luar biasa yang dilakukan oleh Graham Bell atas penemuan telepon kabelnya, John F. Mithcell dan Martin Cooper dari perusahaan ponsel ternama Motorola berhasil mendemonstrasikan penggunaan ponsel pertama di dunia pada tahun 1973.

   Pada awalnya telepon nirkabel buatan mereka berbobot sekitar satu kilogram dan hanya dapat melakukan panggilan telepon. Namun pada perkembangannya, ternyata ponsel mengalami evolusi yang cepat dan signifikan. Di akhir abad ke-20 hingga awal abad ke-21, ponsel tidak hanya digunakan untuk melakukan panggilan, tetapi juga untuk mengirim pesan singkat (SMS), pesan multimedia (MMS), bermain game, memutar musik, hingga mengambil gambar dari kamera. 

Evolusi telepon seluler
   Kini, pada dekade kedua di abad 21, penggunaan ponsel cerdas atau lebih dikenal sebagai smartphones semakin marak. Smartphones dapat melakukan berbagai hal layaknya komputer dalam ukuran sebuah ponsel. Pengguna smartphone juga dimanjakan oleh layar sentuh (touchscreen) yang lebar, kualitas suara yang jernih, kamera resolusi tinggi, konektivitas internet juara, hingga variasi aplikasi yang menggiurkan. 

   Saat ini pengguna ponsel diperkirakan mencapai enam miliar pengguna atau setara dengan 87% dari total populasi dunia. Hal ini membuat ponsel telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari gaya hidup dan kehidupan sosial-budaya manusia sehari-hari. Ponsel menjadi salah satu benda yang wajib dibawa kemanapun, kapanpun, dan pada kesempatan apapun. Ponsel pun dapat dikatakan menjadi salah satu faktor yang menyebabkan evolusi perilaku manusia.

   Produk teknologi yang diciptakan pada abad 20 dan tak kalah fenomenal adalah internet yang merupakan akronim dari international network atau jejaring internasional. Berawal dari ide untuk menghubungkan komputer di seluruh dunia, organisasi ilmu pengetahuan Eropa CERN memulai instalasi dan operasi penggunaan internetworking pada berbagai sistem komputer, workstation, komputer pribadi, dan juga sistem akselarator di Eropa pada tahun 1984-1988. 

   Penggunaan metode internet pun menjamur setelah itu. Internet dengan segera menjadi penghubung yang luar biasa antar komputer, ponsel, basis data, dan sistem jejaring di seluruh dunia. Kemajuan pesat internet pun telah mengubah pandangan kita terhadap komunikasi dan informasi. Salah satu contoh nyata yang sehari-hari kita temui adalah berkembangnya mesin pencari seperti Google yang membuat informasi sangat mudah untuk ditemukan. Selain itu, bersosialisasi di dunia virtual via jejaring sosial seperti Twitter dan Facebook, mengobrol lewat aplikasi messenger dan video call, berbagi ide dan gagasan di blog, hingga bertransaksi bisnis melalui internet banking sudah tak lagi asing bagi kita. 

   Ketiga produk teknologi tersebut telah membentuk dunia seperti saat ini. Dunia yang dinamis dimana informasi dari seluruh penjuru bumi dapat diakses dengan cepat dan mudah, komunikasi dapat dilakukan meski terpisah jarak puluhan ribu kilometer, transaksi bisnis dan ekonomi secara real time, serta berbagai ide dan gagasan tersimpan di tiap halaman web. Mungkin tidak pernah terbayangkan sebelumnya oleh para pendahulu kita bahwa semua ‘keajaiban’ tersebut bisa terjadi karena berkembangnya teknologi. 

   Teknologi telah menjadi bagian penting dalam setiap aspek kehidupan manusia. Teknologi yang merupakan hasil pemikiran manusia pada akhirnya akan mengubah dan menjadi bagian dari evolusi manusia itu sendiri. Beberapa contoh nyata sebagian besar telah kita alami sendiri seperti misalnya social networking yang dapat menjadi faktor evolusi sosial-budaya, transaksi internet yang menjadi tonggak evolusi ekonomi, serta penggunaan smartphone yang menjadi faktor evolusi perilaku dan psikologis manusia. 

   Begitupun dengan pesan singkat dan chatting dapat mengevolusi dunia linguistik, penggunaan surat elektronik yang mengurangi penggunaan kertas secara signifikan, hingga berbagi ide dan karya pikir di web yang dapat merubah tatanan ideologi dan cara berpikir. Dapat dibayangkan, betapa besar dampak, baik positif maupun negatif, dari penggunaan teknologi yang dekat dengan kehidupan kita sehari-hari.

   Bagaimanapun, penemuan teknologi adalah salah satu pencapaian terbesar umat manusia yang tetap harus digunakan secara bijak. Selama manusia masih ada di muka bumi, teknologi akan terus berkembang, berinovasi, dan menciptakan berbagai kemudahan yang mungkin tidak pernah kita duga sebelumnya, serta menjadi bagian dari evolusi kehidupan manusia yang akan terus menerus berlangsung.

 Follow @abighifari untuk berkomunikasi lebih lanjut :) 


Read more...

You Are One of Google Books Contributor!

   A few days ago, I got a news from a friend of mine in Twitter that we can download e-books from Google Play Store for free! I was very excited about this, so without any further due I downloaded several epic novels such as "Les Miserables", "The Three Musketeers", "Wuthering Heights", "Frankenstein", and even "Romeo and Juliet". I also downloaded Google Play Book to read them and made my own e-library in my tablet.

My collection on Google Play Book
   Based on my own rough observation, I might conclude that the typical books that can be downloaded in Google Play are fairly old literature books which were published before the beginning of twenty-first century. Maybe, this can be a fair reason why those books are available for free.

   Then I am wondering and questioning myself: are there any other reasons why all of those amazing books are free? What if I say that you are one of contributor that bring those old books to become available for free in digital format?

   However, those free books reminded me of a TED talk by Luis von Ahn of Carnegie Mellon University in 2011 (you may see the video below) about his project, "Captcha" and "Re-Captcha". I assumed that all of you are fairly familiar with those terms. Yeah, you must have found it everywhere across the world wide webs, email services, blogs, internet forums or even while you add your Facebook friend or make a new Twitter account. 

   Basically, "Captcha" is a service which prevents bot activity by providing combination of words, letters, or numbers that must be correctly inputted by users to done some internet activities. This task cannot be done by computers yet, so it may prove that you are a human, not a bot. Thus it can secure the websites, reduce spams, preventing fraud, etc.


   Since the invention, "captcha" were used widely on the internet for the reason of internet security. But, most of internet users found this as an annoying service. For your information, roughly there are 200 million captchas typed everyday around the world and each captcha 'wasted' 10 seconds of your time, every time you typed it. So, essentially around 555 thousands hours of human time are 'wasted' every day because we typed those captchas.

   Based on those facts, Luis von Ahn as the inventor of "Captcha" started feeling bad about this and questioning himself 'is there any way we can use this effort for good of humanity?' Then he came up with a new project "Re-Captcha", as a bright and brilliant solution to bridge internet security problem and book digitization project!

   Like I mentioned before, this captcha cannot be solved by computers yet. So for those 10 seconds of our 'wasted' time to type captcha, basically we are doing something amazing that computer cannot yet do. The idea of "Re-Captcha" itself is the effort of you to type captcha can be used to help computers recognizing words or characters in the paper of old books, newspaper, or other documents which cannot be read or deciphered by computers due to their degraded ink and paper. The scanned images of those papers that contain text were split into words. And then these words are used as captcha images.


    So, every time you solve "Re-Captcha" words, you are not only proving that you are a human, but also contributing to digitize human knowledge. Not surprisingly, Google has acquired "Re-Captcha" from around four years ago to support their own project like Google News and Google Books. And now the answers for my questions above are clearly seen. Literally, without our consideration, we are all contributing to digitize those free books every time we type captcha. Currently, we may see that the projects seems quite well and bring something good for humanity, free books.


Read more...

Optimasi Nanopartikel untuk Aplikasi Komersial


   Nanopartikel saat ini banyak digunakan pada beragam produk komersial mulai dari katalis, media cat dan cairan magnetik, hingga kosmetik dan tabir surya. Suatu review terbaru dari peneliti di Swedia dan Spanyol mendeskripsikan hasil kerja terkini untuk optimasi sintesis, dispersi, dan fungsionalisasi permukaan titania (titanium dioksida), seng oksida, dan seria (serium oksida) -- tiga nanopartikel utama yang digunakan pada fotokatalis, penghalau sinar UV (ultraviolet), dan tabir surya. Review mereka dipublikasikan pada 26 April 2013 di jurnal Science and Technology of Advanced Materials.

    Dengan keberhasilan aplikasi komersial nanopartikel titania untuk kaca swabersih pada jendela di gedung-gedung bertingkat tinggi, kini ketertarikan untuk mengaplikasikan sistem fotokatalisis dan pelapis titania swabersih pada beragam material konstruksi semakin meningkat. Pelapisan ini tidak hanya melindungi permukaan gedung untuk tetap bersih tetapi juga dapat mengurangi konsentrasi polutan berbahaya di udara. Sifat anti-bakteri dari pelapis fotokatalis juga menjadi solusi untuk mengendalikan bakteria berbahaya yang persisten, yang merupakan karakter yang sangat berguna terutama bila digunakan di rumah sakit.

   Sementara itu, pelapis yang memiliki karakter menyerap atau menangkal sinar UV saat ini memiliki dua pemanfaatan utama: sebagai pernis pelindung pada permukaan kayu, dan sebagai pelapis penghalang sinar UV pada permukaan produk maupun peralatan berbasis polimer untuk mencegah pelapukan.

   Studi review tersebut menjelaskan secara struktural dan kimiawi apa saja yang diperlukan dan beragam rute yang dapat digunakan untuk memproduksi fotokatalis transparan serta pelapis dan tabir surya penghalau sinar UV berbasis nanopartikel. Penulis artikel tersebut mengulas metode utama untuk sintesis nanopartikel titania, seng oksida, dan seria, dengan berfokus pada riset terkini mengenai pembuatan serbuk nanopartikel yang tidak teraglomerasi (tidak menggumpal). Penulis juga mengidentifikasi senyawa aditif organik yang merupakan dispersan yang efektif dan mampu meningkatkan kecocokan antara nanopartikel anorganik dengan matriks organik.

   Selanjutnya artikel ini mendiskusikan lebih jauh mengenai performa teknis dari nanopartikel, terutama kaitannya dengan keberadaannya di lingkungan. Mereka menyimpulkannya dengan menjelaskan prospek masa depan dari nanopartikel dan mengidentifikasi material terbaru yang menjanjikan, seperti pelapis yang multifungsi dan lembaran film hibrid.


ScienceDaily


Read more...

Menjadi Technopreneur Membangun Indonesia



Ilustrasi: Tony Stark a.k.a Iron Man adalah seorang technopreneur.
Sumber gambar: http://rubenlicera.com/ 

    Saya tak meragukan bahwa sebagian besar dari Anda mengenal sosok di atas. Robert Downey Jr menempatkan dirinya sebagai salah satu artis Hollywood paling terkenal di dunia setelah memerankan Tony Stark sekaligus Iron Man dalam film trilogi Iron Man dan The Avenger. Lalu apa hubungan Iron Man dengan judul artikel ini? Saya yakin Anda dapat menebaknya. Ya, Tony Stark sebagai pemilik Stark Industries dalam film tersebut adalah salah satu contoh seorang technopreneur.

   Apa yang pertama kali terlintas di benak Anda ketika mendengar atau membaca istilah "technopreneur" dan "technopreneurship"? Bagi Anda yang belum familiar dengan istilah kewirausahaan atau entrepreneurship mungkin akan bertanya-tanya. Tetapi bagi Anda yang cukup familiar atau setidaknya pernah mendengar istilah tersebut, saya yakin Anda dapat menduga apa yang dimaksud dengan technopreneur dan technopreneurship.

    Ya, seperti namanya technopreneur memang merupakan gabungan dua kata dalam bahasa Inggris, yaitu technology dan entrepreneur. Istilah ini secara harfiah berarti wirausahawan yang menggunakan teknologi tidak hanya sebagai basis produk tetapi juga terintegrasi dan menjadi elemen kunci dalam berbagai aspek bisnisnya untuk meningkatkan performa produk dan layanan. Mungkin contoh yang cukup tepat untuk menggambarkan technopreneur dan technopreneurship saat ini adalah perusahaan-perusahaan teknologi global berikut: Microsoft, Apple, Google, Facebook, Amazon, dan Twitter. Siapa yang tidak kenal mereka saat ini? Mereka merajai produk teknologi komputer dan internet dunia serta dirintis dari nol oleh para pendiri yang memiliki visi jauh ke depan dengan memutuskan menjadi seorang technopreneur.

   Definisi di atas juga mungkin cukup relevan dengan ilustrasi di awal artikel ini yang menampilkan sang superhero favorit dekade ini, Tony Stark atau Iron Man yang memiliki bisnis pengembangan teknologi baju pelindung, senjata, energi, dan lainnya pada film tersebut. Iron Man dapat menjadi contoh yang cukup representatif sebagai technopreneur, meski technopreneur tentu tak harus seperti Iron Man.. :)

   Apabila technopreneur merupakan orang atau pribadi yang melakukan kewirausahaan, maka tentu technopreneurship merupakan segala hal yang berkaitan dengan kewirausahaan berbasis teknologi, baik itu proses, sistem, pihak yang terlibat, produk, konsumen, pelayanan, peraturan, media promosi, hingga faktor-faktor lain yang diperlukan pada kewirausahaan berbasis teknologi. Selain technopreneur beberapa istilah lain yang termasuk ke dalam kategori wirausahawan yang lebih spesifik antara lain adalah creativepreneur (wirausahawan kreatif) dan sociopreneur (wirausahawan sosial).

     Istilah technopreneur sendiri cukup menjadi sorotan utama pada dekade ini, meski telah diperkenalkan sejak tahun 1987. Di tengah kebutuhan masyarakat Indonesia yang mendesak akan lahirnya para wirausahawan (entrepreneur) baru yang mampu menciptakan lapangan kerja, serta perkembangan pesat dunia teknologi informasi dan komunikasi, menjadikan pemahaman mengenai pentingnya teknologi sebagai aspek krusial dalam bisnis oleh para entrepreneur baru sangat diperlukan. Bagaimana tidak, teknologi komunikasi dan informasi yang berkembang pesat saat ini seperti ponsel cerdas (smartphone), gadget, serta internet yang dapat diakses secara bebas dimanapun dan kapanpun memungkinkan kita mengakses beragam informasi dari seluruh dunia secara real-time. Fakta ini tentu juga dapat dimanfaatkan menjadi keuntungan besar oleh para entrepreneur muda untuk mempromosikan dan mengembangkan bisnis mereka secara mudah, cepat, dan tidak memakan banyak biaya yang tentu sangat diperlukan para entreprenur yang tengah merintis bisnis. Hal ini kemudian berpotensi meningkatkan taraf hidup masyarakat dan juga perekonomian bangsa yang merupakan cita-cita kita bersama sebagai bangsa Indonesia.

    Anda mungkin memiliki definisi, opini, deskripsi, maupun pengalaman tersendiri mengenai technopreneur. Saya pun mengalami hal yang serupa, sehingga pada artikel ini saya tidak akan membahas beragam hal mengenai technopreneur dari apa yang tertulis di dalam kamus, ensiklopedia, teori-teori, buku, maupun jurnal ilmiah, tetapi saya akan mengulas technopreneur berdasarkan pengalaman dan pengamatan saya. Semoga saya dan Anda dapat berbagi pengalaman dan pendapat seputar dunia technopreneur sehingga dapat saling menambah wawasan, memperkaya ilmu, dan menjadi masyarakat Indonesia yang paham dalam menggunakan dan membangun teknologi serta menjadi seorang technopreneur dan membangun Indonesia di masa depan.. :)

    Perkenalan saya dengan istilah technopreneur bermula saat melihat publikasi suatu event seminar dan workshop mengenai technopreneur di kampus saya, Universitas Indonesia. Seminar dan workshop pertama di UI yang membahas mengenai technopreneurship tersebut diselenggarakan langsung oleh Direktorat Kemitraan dan Inkubator Bisnis UI bekerja sama dengan Wira Muda UI, suatu organisasi kemahasiswaan yang fokus di bidang entrepreneurship mahasiswa. Acara tersebut dipublikasikan secara masif via media jejaring sosial Twitter dan Facebook dan begitu saya melihat tweet mengenai acara tersebut tanpa ragu lagi saya langsung mendaftar. Acara itu ternyata memang ditujukan untuk mahasiswa dari rumpun ilmu sains dan teknologi yaitu Fakultas MIPA, Fakultas Teknik, dan Fakultas Ilmu Komputer serta dirancang untuk memberikan pemahaman lebih mengenai technopreneurship yang dapat dikembangkan oleh para mahasiswa dari rumpun ini.

   Sesi seminar berlangsung dengan sangat menarik, atraktif, interaktif dan dapat membuat saya memahami lebih jauh mengenai technopreneurship. Para pembicara adalah technopreneur yang merupakan pionir dan mumpuni di bidangnya masing-masing sehingga kami dapat mendengar secara langsung bagaimana pengalaman mereka saat awal merintis usaha tersebut hingga menjadi besar dan terkenal seperti sekarang ini. Technopreneurship ternyata tidak hanya mengenai basis teknologi yang kuat sebagai produk yang saat ini sedang sangat berkembang pesat, tetapi juga mengenai penggunaan teknologi terkini dalam beragam aspek kewirausahaan untuk meningkatkan performa bisnis. Penggunaan teknologi tersebut antara lain adalah untuk desain produk yang inovatif dan solutif, perancangan harga, pembuatan website atau blog yang efektif, strategi promosi dan pemasaran, maksimalisasi penggunaan social media, manajemen waktu dan SDM, hingga perancangan proposal dan presentasi.

   Untungnya saya tidak terlalu asing dengan bahasan yang mengarah kepada entrepreneurship tersebut. Hal itu dikarenakan saya pernah mengambil mata kuliah pilihan Manajemen dan Kewirausahaan saat di tingkat pertama kuliah. Ya, meskipun saya kuliah di jurusan kimia, faktanya mata kuliah tersebut merupakan mata kuliah pilihan luar bidang dengan peminat paling banyak karena paling menarik dan menambah wawasan kewirausahaan. Dosen saya saat itu juga seorang technopreneur yang bergerak di bisnis pendidikan sains dan teknologi untuk anak usia dini hingga sekolah dasar. Saya pun memiliki pengalaman menarik saat mengikuti kuliah ini yaitu di saat business plan saya menjadi juara di antara peserta kuliah lainnya. Ternyata, ide saya saat itu untuk membuat distro (distribution store) yang menyediakan pakaian bertema sains dan teknologi dianggap paling menarik dan dapat direalisasikan dengan baik.

    Hari selanjutnya berlanjut ke sesi workshop yang menurut saya sangat interaktif dan inspiratif. Kami diminta untuk membuat focus group yang berisi lima orang minimal dari tiga fakultas berbeda (karena hanya tiga fakultas yang diperbolehkan mengikuti acara tersebut). Kemudian kami diminta untuk membuat suatu desain produk beserta rancangan harga, strategi pemasaran, struktur organisasi, hingga simulasi presentasi di depan investor. Sangat menarik, hal ini belum pernah saya alami sebelumnya jadi merupakan pembelajaran yang baik bagi saya dan seluruh peserta workshop.

   Saya dan keempat orang teman kelompok saya (satu dari FMIPA, satu dari FT, dan dua dari Fasilkom) sepakat untuk berbisnis aplikasi mobile game yang dapat diunduh dari berbagai smartphone seperti Android, BlackBerry, dan iPhone. Game tersebut kami rancang juga untuk memperkenalkan dongeng, fabel, dan legenda dari Indonesia yang sebenarnya banyak mengandung nilai-nilai moral yang baik tetapi saat ini sudah dilupakan oleh kebanyakan anak-anak Indonesia yang sudah telalu fokus pada gadget yang mereka miliki. Berangkat dari permasalahan itulah kami memiliki ide untuk menghadirkan game ini. Game yang tidak hanya seru dan interaktif, tetapi juga edukatif. Saya pun bertindak sebagai presenter yang memperkenalkan produk kami pada "calon investor" pada saat simulasi berlangsung. Meski tidak keluar sebagai pemenang, kelompok kami termasuk salah satu kelompok favorit dengan "dana investasi" terbanyak. Betapa sangat berharganya pengalaman saya saat itu.

  Berdasarkan pengalaman-pengalaman saya mengenai technopreneur tersebut, saya dapat menarik dan merangkum beberapa pelajaran yang mungkin berguna bagi saya dan Anda yang ingin, sedang, atau bahkan telah merintis usaha sebagai seorang technopreneur. Semoga hal-hal ini dapat menginspirasi kita semua.. :)

# Berangkat dari kebutuhan masyarakat

   Hampir seluruh produk berbasis teknologi yang sangat terkenal dan banyak dibeli saat ini adalah yang berangkat dari kebutuhan masyarakat. Mobil, motor, telepon seluler, televisi, internet, provider seluler, social media, beragam produk elektronik, hingga beragam gadget berawal dari kebutuhan masyarakat akan kemudahan bertransportasi, berkomunikasi, dan bersosialisasi serta gaya hidup. Jika ingin menjadi seorang technopreneur berangkatlah dari kebutuhan dan permasalahan masyarakat sehingga kita dapat memiliki ide atau gagasan tertentu untuk memberikan solusi melalui teknologi yang dapat kita kembangkan menjadi suatu business core. Hal ini pun menjadikan produk kita diminati masyarakat sehingga kita dapat terus mengembangkannya menjadi lebih baik lagi.

# Perkaya diri dengan ide dan inspirasi

   Di era yang sangat kompetitif ini, kita diharuskan memiliki ide yang brilian untuk memulai bisnis dan mempertahankannya. Produk yang kita hasilkan tidak perlu baru, tetapi harus inovatif dengan memodifikasi sesuatu yang sudah ada dan menjadikan fungsinya jauh lebih baik atau beragam. Ide dan inspirasi memang terkadang dapat datang dengan sendirinya, namun cara terbaik adalah dengan mendatangkan ide dan inspirasi itu sendiri. Bagaimana caranya? Tentu sangat mudah. Perkaya wawasan dengan membaca, mengikuti seminar atau workshop mengenai technopreneurship, atau berbincang dengan para technopreneur secara langsung. Hal-hal tersebut kita sadari atau tidak akan menimbulkan suatu ide orisinal yang dapat kita kembangkan sebagai bisnis kita sendiri.

# Rencanakan dengan matang akan tetapi lakukan dengan cepat

   Seorang technopreneur harus mampu menganalisis pasar, mendesain suatu produk, membuat strategi pemasaran, menentukan harga dan target pasar, menyusun struktur organisasi, serta memegang tanggung jawab terhadap seluruh proses bisnis. Kemampuan itulah yang harus dimiliki entrepreneur secara umum dalam membuat suatu rancangan bisnis (business plan). Tetapi tentu rencana itu tidak akan menjadi kenyataan apabila tidak diwujudkan. Jadi, mulailah secepatnya atau bahkan sekarang juga. Mulailah dari hal-hal yang mudah dan sederhana seperti mencari inspirasi, mendesain produk atau membuat strategi promosi.

# Tambahkan value pada produk

   Produk yang kita hasilkan bisa saja sama persis dengan wirausahawan lain. Tetapi ada satu hal yang membuat suatu produk tertentu lebih disukai dan lebih laris dibandingkan produk lainnya yang serupa, yaitu nilai (value). Value yang kita dapat tambahkan kepada produk kita tentunya beragam dan sesuai dengan inovasi dan kreativitas masing-masing technopreneur. Perlu diingat, value yang dijelaskan di sini bukanlah mengenai harga (price) melainkan suatu nilai tambah. Sebagai contoh kita dapat menambahkan suatu value pendidikan sains dan teknologi pada mobile games yang kita kembangkan dan kita jual di beragam application store. Hal tersebut tentu akan menambah nilai jual produk, terutama kepada masyarakat yang menginginkan game yang tidak hanya sekedar menghibur tetapi juga edukatif.

   Tentu ada sangat banyak pelajaran yang bisa saya bagi dari beragam pengalaman menarik saya seputar dunia technopreneurship. Tetapi untuk saat ini saya rasa beberapa hal yang sudah saya rangkum dalam artikel ini mampu mewakili kiat-kiat yang dapat saya dan Anda implementasikan demi meraih impian dan cita-cita menjadi seorang technopreneur. Sungguh banyak hal yang dapat kita raih dengan menjadi technopreneur. Tidak hanya untuk kepuasan atau meraih kesuksesan pribadi kita semata. Tetapi dengan menjadi seorang entrepreneur kita juga turut berkontribusi meningkatkan taraf hidup masyarakat Indonesia dengan menghasilkan lapangan pekerjaan dan membangun perekonomian sekaligus teknologi Indonesia.  

Menjadi technopreneur membangun Indonesia!!

Tulisan ini berhasil menjadi juara ketiga dalam Blog Competition Technopreneurship: "Write Your Idea to Build Technopreneurship for Indonesia" 2013 yang diselenggarakan oleh Master of Business Administration (MBA) Institut Teknologi Bandung (ITB).

Personal Identity
Name  : Abi Sofyan Ghifari
Email  : abi.ghifari@gmail.com

Statement of Disclaimer:
"I hereby declare that my article entitled "Menjadi Technopreneur Membangun Indonesia" is a work of its own and has not been submitted in any form to any competition or social media posting. Sources of information derived or quoted from published and unpublished works from the other authors mentioned in the text. If I am caught doing plagiarism or any other cheating attempt. I am ready for the consequences, as my winning rights are revoked."

Jakarta, April 2013


Abi Sofyan Ghifari


Read more...

Teknologi Hijau Mobil Daihatsu: Inovasi Untuk Masa Depan


   Saat ini dunia tengah dihadapkan pada berbagai permasalahan yang berdampak secara global. Krisis energi, pencemaran lingkungan, hingga pemanasan global adalah beberapa di antaranya. Salah satu penyebab permasalahan global tersebut adalah meningkatnya penggunaan bahan bakar fosil terutama pada sektor transportasi. Seperti yang telah kita ketahui bersama, pada dekade ini permintaan konsumen terhadap moda transportasi pribadi seperti mobil meningkat dengan sangat signifikan dibanding dekade-dekade sebelumnya. Sementara itu, energi yang masih dominan digunakan saat ini adalah produk bahan bakar fosil seperti bensin, solar, gas, dan bahan bakar fosil lainnya. 

   Kemudian apa dampak yang dihasilkan? Krisis energi fosil akibat meningkatnya permintaan sehingga terjadi kenaikan harga dan kesulitan produksi. Emisi karbon dioksida (CO2) yang merupakan hasil pembakaran utama dari bahan bakar fosil meningkat drastis. Peningkatan emisi CO2 tersebut kemudian menyebabkan efek rumah kaca (greenhouse effect) yang akhirnya menyebabkan pemanasan global. Pemanasan global telah memiliki dampak yang sangat signifikan hingga saat ini. Peningkatan suhu muka bumi, meningkatnya permukaan air laut akibat melelehnya daerah es di kutub, hingga anomali cuaca dan iklim yang dapat menyebabkan gagal panen hingga krisis pangan. Sungguh luar biasa dampak dari penggunaan bahan bakar fosil yang semakin signifikan.

   Bagaimanapun juga, moda transportasi seperti mobil telah mempermudah aktivitas kehidupan kita sehari-hari. Tetapi kita semua juga tidak menginginkan dampak buruk dari penggunaan bahan bakar fosil terus terjadi dan bahkan meningkat. Lalu apa titik tengah dari permasalahan ini? Solusi terhadap masalah ini sangat diperlukan adalah agar kita tetap dapat menggunakan moda transportasi mobil tanpa perlu khawatir akan dampak lingkungan yang ditimbulkan. Salah satu solusi yang paling cerdas dan dapat diterapkan dengan baik adalah penggunaan teknologi hijau (green technology) pada moda transportasi mobil. Hal ini tentu tak lepas dari peran serta perkembangan dunia riset dan teknologi oleh para ilmuwan dan insinyur di dunia.

   Secara umum teknologi hijau merupakan teknologi yang berbasis pada kesadaran akan dampak atau pengaruhnya kepada lingkungan sekitar. Jenis teknologi ini memungkinkan minimisasi efek negatif terhadap lingkungan hingga ke tingkat yang paling minimum sehingga dapat secara bertahap mengurangi dampak global yang ditimbulkan pada penggunaan energi fosil sebelumnya. Beberapa kiat produsen produk-produk teknologi dalam menerapkan teknologi hijau ini antara lain ialah meningkatkan efisiensi penggunaan energi, maksimalisasi penyimpanan energi, memanfaatkan energi yang hilang (energy loss) untuk proses lainnya yang membutuhkan energi, pemanfaatan limbah sebagai sumber energi hingga penggunaan energi alternatif yang lebih ramah lingkungan karena menghasilkan lebih sedikit emisi polusi atau bahkan zero pollution (polusi nol). Kiat-kiat tersebut tak pelak juga diimplementasikan oleh produsen mobil seperti Daihatsu.

   Penggunaan teknologi hijau yang ramah lingkungan pada mobil saat ini seharusnya tidak hanya menjadi suatu segmen pasar baru bagi produsen mobil. Tetapi hal ini telah berkembang menjadi suatu keharusan dan tanggungjawab bagi produsen mobil untuk ikut berkontribusi mengurangi efek buruk global yang diakibatkan oleh penggunaan berlebihan energi fosil yang juga akan berdampak buruk bagi kelangsungan hidup manusia kelak. Teknologi hijau inilah yang juga sedang gencar dikembangkan oleh Daihatsu, produsen mobil kelas dunia yang berasal dari negara Jepang.

   Daihatsu merupakan salah satu perusahaan otomotif terbesar di dunia dan telah berkiprah selama 105 tahun dengan menghasilkan produk-produk otomotif berkualitas tinggi dengan harga yang dapat dijangkau masyarakat. Untuk mengurangi efek negatif yang ditimbulkan dari penggunaan bahan bakar fosil yang berlebihan, Daihatsu pun turut serta berkontribusi dengan mengembangkan rangkaian teknologi hijau yang dapat diaplikasikan pada mobil. Hal ini tentu merupakan kabar yang sangat menggembirakan. Tidak hanya bagi konsumen setia Daihatsu yang peduli pada lingkungan, tetapi juga seluruh elemen masyarakat yang menginginkan terciptanya lingkungan hijau yang bersih dan tidak terpolusi. Inovasi mobil berteknologi hijau dari Daihatsu ini tentu diharapkan dapat menjadi jawaban bagi tersedianya mobil berteknologi tinggi di masa depan yang tidak menghasilkan dampak buruk bagi lingkungan.
   Lalu bagaimana kiat Daihatsu dalam menerapkan teknologi hijau pada mobil produksi mereka? Langkah ini tentu sudah direncanakan dengan sangat baik oleh manajemen Daihatsu. Daihatsu sangat cermat dan terperinci dalam hal ini dengan membangun tahapan teknologi hijau yang realistis, terjadwal dengan baik, terukur secara akurat, serta dapat diimplementasikan secara langsung dan nyata. Daihatsu memiliki tiga tahapan utama yang sangat brilian dalam membangun mobil berteknologi hijau. Teknologi ini akan dikembangkan secara berkesinambungan dari waktu ke waktu diiringi dengan peningkatan performa mobil terhadap lingkungan (environmental performance). Sehingga pada akhir tahapan akan dihasilkan "mobil hijau" yang menjadi impian setiap orang di masa mendatang. Linimasa pengembangan teknologi hijau Daihatsu dapat digambarkan sebagai berikut.

Linimasa tiga tahap penerapan teknologi hijau Daihatsu

   Tahap pertama disebut sebagai teknologi "Eco-IDLE". Sistem teknologi ini mampu mengatur hidup-mati mesin dalam keadaan macet. Mesin mobil dapat secara otomatis mati ketika mobil berada pada kecepatan di bawah 7 km/jam. Hal ini diterapkan sebagai langkah penghematan bahan bakar dan juga efisiensi mesin mobil sehingga konsumsi bahan bakar dapat berkurang begitupun dengan emisi karbon dioksida (CO2) yang dihasilkan. Pembakaran mesin juga menjadi lebih efisien dan sempurna berkat sistem i-EGR, sehingga tidak menghasilkan karbon monoksida (CO) yang merupakan hasil pembakaran tidak sempurna bahan bakar fosil yang sangat berbahaya bagi makhluk hidup termasuk manusia. Sistem teknologi hijau tahap awal ini sangat aplikatif dan tentunya sangat cocok untuk lalu lintas Indonesia terutama Jakarta yang selalu macet tiap harinya.

   Selanjutnya pada tahap kedua Daihatsu semakin mematangkan teknologi efisiensi penggunaan bahan bakar dengan menggunakan mesin turbocharged dua silinder injeksi langsung (2-cylinder turbocharged direct injection). Mesin ini diklaim mampu meningkatkan efisiensi konsumsi bahan bakar hingga 30% karena teknologi "active ignition system" yang lebih maju disertai beragam pengembangan teknologi inovatif lainnya tetapi penggunaan komponen mobil yang lebih sedikit sehingga membuat bobot pacu mobil menjadi lebih ringan. Dengan menggunakan mesin ini, nantinya mobil-mobil Daihatsu dapat menggunakan hanya 1 liter bensin untuk menempuh jarak sejauh 35 km. Suatu teknologi efisiensi bahan bakar yang luar biasa sehingga dapat mengurangi penggunaan bahan bakar sekaligus emisi karbon secara signifikan. Hal ini tentu berdampak sangat besar terhadap kehijauan dan kelangsungan lingkungan hidup sekitar. 

   Tahapan terakhir dari pengembangan mobil dengan teknologi hijau dari Daihatsu mungkin menjadi dambaan seluruh masyarakat dunia, yaitu teknologi nol emisi (zero emission). Penurunan emisi gas buang karbon dioksida (CO2) hingga ke tingkat nol dimungkinkan karena penerapan teknologi lanjut Precious Metal Free Liquid Feed Fuel Cell (PMfLFC). Teknologi sel bahan bakar (fuel cell) ini tidak menggunakan logam mulia berharga seperti emas, perak, atau platinum yang biasa digunakan sebagai elektroda pada sel bahan bakar sehingga harganya lebih murah dengan efisiensi yang sama baiknya. Emisi CO2 nol juga dapat dicapai karena Daihatsu semakin fokus pada pengembangan energi alternatif yang tidak mengemisikan gas CO2 seperti hidrazin hidrat (N2H4.H2O). Hidrazin hidrat merupakan sumber energi hijau (green energy) yang memiliki kepadatan energi lebih tinggi dibanding bahan bakar fosil. Artinya, untuk satuan massa atau volume yang sama, hidrazin menghasilkan energi yang lebih besar dibanding bahan bakar fosil. Hidrazin dapat terbakar pada suhu ruang sehingga dapat meningkatkan efisiensi mesin. Hidrazin hidrat juga tidak menghasilkan emisi CO2 yang merupakan gas rumah kaca penyebab pemanasan global. Sehingga penggunaan hidrazin hidrat menjawab beragam permasalahan sekaligus, yaitu permasalahan krisis energi fosil, pencarian energi alternatif, penggunaan sumber energi ramah lingkungan, dan juga pencarian energi yang murah dan efisien. Ini merupakan suatu inovasi yang sangat dinantikan kehadirannya.


   Penerapan ketiga tahapan teknologi hijau tersebut menjadikan Daihatsu berada di garda terdepan sebagai produsen mobil masa depan yang menjawab kebutuhan masyarakat akan mobil berteknologi tinggi yang hijau dan ramah lingkungan. Realisasi dari inovasi teknologi hijau ini tidak hanya menjadi  langkah Daihatsu untuk mewujudkan visinya "Innovation for Tomorrow" tetapi juga komitmen dan kontribusi nyata Daihatsu dalam mengurangi dampak buruk dari penggunaan berlebihan bahan bakar fosil yang efeknya telah dirasakan secara global di seluruh belahan bumi. Tentu kita semua harus menyambut baik langkah cerdas dan nyata dari Daihatsu untuk menjaga keberlangungan lingkungan hidup. Semoga masa depan kita dan bumi yang kita tinggali akan menjadi lebih baik.



Sumber gambar:
http://www.daihatsu.co.id/ 
http://www.daihatsu.com/ 
http://microsite.detik.com/minisite/daihatsublog/

Read more...

Komputer Biomolekuler Pemecah Sandi


  Pernahkah Anda menonton film box office Hollywood “Transformers”? Kalau jawaban Anda ya, mungkin Anda mengingat salah satu adegan tentang komputer berbasis DNA. Saat robot-robot transformersDecepticons” meretas situs web Departemen Pertahanan AS untuk mengetahui lokasi “All Spark”, para kriptografer menduga bahwa robot-robot transformers tersebut merupakan teknologi alien DNA based computer yang mengolah data dengan unik dan mampu mengirim virus yang sangat kuat. Film bergenre science fiction tersebut sangat diminati dan ternyata tidak seluruhnya bersifat fiksi. Teknologi komputer berbasis material biologis seperti DNA saat ini memang tengah dikembangkan.

  Para ilmuwan dari Scripps Research Institute California dan the Technion-Israel Institute of Technology telah berhasil membangun komputer berbasis biomolekul. Komputer ini menggunakan chip DNA (deoxyribonucleic acid/asam deoksiribonukleat, suatu materi genetik yang umum pada organisme) yang dapat memecahkan kode atau sandi. Studi mereka telah dipublikasi pada jurnal Angewandte Chemie.
Tim yang dipimpin oleh Professor Ehud Keinan ini menciptakan sistem komputer berbasis biomolekul. Ketika perangkat lunak yang sesuai diaplikasikan, komputer ini dapat memecahkan sandi yang terdapat di dalam gambar berpendar/fluoresens dari logo The Scripps Research Institute and The Technion yang dibuat sebelumnya secara terpisah.

  Teknologi komputer dibangun atas empat komponen utama yaitu perangkat keras (hardware), perangkat lunak (software), data masukan (input), dan data luaran (output). Pada komputer tradisional, seluruh komponen dibuat secara elektronik, input maupun output merupakan sinyal elektronik. Perangkat keras merupakan komposisi kompleks yang terdiri dari komponen logam, metaloid dan plastik, kabel, dan transistor. Sementara perangkat lunak memberikan instruksi kepada mesin untuk membentuk sinyal elektronik.

  Menurut Professor Keinan, komputer berbasis biomolekul memiliki perbedaan yang nyata dengan komputer tradisional yaitu dalam hal komponen-komponen penyusunnya. Apabila komputer tradisional hanya terdiri dari komponen elektronik, komputer biomolekuler seluruhnya terbuat dari molekul. Menurutnya, seluruh sistem biologis dan bahkan seluruh organisme hidup dapat digolongkan sebagai komputer biomolekuler, yaitu sebuah mesin yang memiliki empat komponen utama yang dapat berbicara satu sama lain.

  Perangkat keras dan lunak dari komputer ini merupakan molekul biologis kompleks yang dapat mengaktivasi satu sama lain untuk mengirimkan sinyal kimia yang belum diketahui. Data masukannya berupa molekul yang menjalani perubahan yang spesifik yang mengikuti aturan yang spesifik pula (software). Data luarannya dari proses komputasi kimia ini adalah molekul lainnya yang telah ditentukan.

Komputer biomolekuler ini dibangun dari kombinasi komponen-komponen kimia dalam bentuk larutan di dalam sebuah tabung. Beragam sekuens molekul DNA dicampurkan dengan beberapa enzim DNA dan ATP (adenosin triphosphate, sebuah molekul berenergi tinggi) yang bertindak sebagai penyedia energi bagi komputer.

  Produk hibrida biologi dan ilmu komputer ini diharapkan dapat bersaing dengan komputer tradisional yang sudah lebih dahulu merajai teknologi informasi dan komunikasi. Secara umum, teknologi ini memang memiliki beberapa kelebihan dibanding dengan komputer konvensional seperti yang terlihat pada hasil studi tim peneliti ini. Informasi yang melimpah dapat disimpan dan dikodekan pada molekul DNA. Meskipun tiap langkah komputasinya lebih lambat dibandingkan dengan aliran elektron pada komputer elektronik, faktanya triliunan proses kimia terjadi secara paralel sehingga menjadikan proses komputasi berjalan lebih cepat. Professor Keinan juga menambahkan bahwa komputer biomolekuler ini juga memiliki kemungkinan dapat berinteraksi langsung dengan sistem biologis bahkan dengan organisme hidup. Kelebihan-kelebihan ini, terutama kemampuan DNA dalam menyimpan informasi, menjadikan teknologi ini amat diminati untuk terus dikembangkan.

  Melalui teknologi ini mungkin saja kelak robot-robot yang diciptakan manusia dapat berkembang menjadi makhluk yang benar-benar dapat berinteraksi langsung dengan manusia. Bahkan mungkin, robot-robot Transformers pun kelak bukan hanya fiksi sains semata.

Diolah dari ScienceDaily.Com
Sumber gambar: http://mautao.com/

Read more...

Reaktor Hidrogen Portabel Untuk Sel Bahan Bakar


  Penggunaan baterai sekali pakai pada peralatan tentara yang cukup berat dan kurang ramah lingkungan menginspirasi para mahasiswa dari Stevens Institute of Technology untuk menciptakan suatu sel baterai yang dapat dipakai ulang dan efisien secara bobot. Para mahasiswa tersebut berhasil menciptakan suatu reaktor mikrosistem yang dapat mengonversi gas fosil seperti propana dan butana menjadi hidrogen yang dimanfaatkan untuk baterai sel bahan bakar. Baterai ini tidak hanya memiliki efisiensi yang tinggi tetapi juga dapat berulang kali menggunakan hidrogen tanpa penggantian baterai sehingga mengurangi limbah baterai sekali pakai.

  Penelitian yang didanai oleh U.S. Army itu mengkreasikan suatu mikroreaktor yang dapat menghasilkan hidrogen melalui pembentukan plasma. Proses produksi hidrogen dewasa ini cukup sulit dan berisiko tinggi karena membutuhkan temperatur tinggi. Namun mikroreaktor ini dapat memproduksi hidrogen pada temperatur dan tekanan atmosfer rendah untuk mencegah terjadinya ledakan hidrogen pada suhu tinggi. Mikroreaktor ini dibuat dengan mesin mikrofabrikasi seperti halnya pada produksi televisi plasma.

   Tim ini sebelumnya telah memproduksi hidrogen dari metanol menggunakan mikroreaktor. Metanol sebelumnya digasifikasi menggunakan gas nitrogen panas sebagai gas inert. Campuran ini kemudian dilewatkan melalui saluran mikro berukuran 25µm. Kemudian di dalam mikroreaktor, metanol bereaksi dengan plasma hingga terdekomposisi menjadi komponen-komponennya, yaitu metanal (formaldehida) dan gas hidrogen.  Setelah penemuan tersebut, tim ini kemudian sedikit memodifikasi mikroreaktor tersebut sehingga dapat menggunakan gas fosil seperti propana dan butana.
  Purwarupa mikrorektor ini telah dipresentasikan di Senior Projects Expo 2011. Hasil kreasi mereka dapat digunakan untuk mengganti baterai yang saat ini digunakan oleh tentara Amerika saat ini yang masih kurang efisien dan tidak ramah lingkungan.

Diterjemahkan secara bebas dari www.sciencedaily.com
Ilustrasi : : http://www.hydrogenboyz.com/images/hydrogen-fuel-cell.jpg

Read more...

Sel Surya yang Mengadopsi Sistem Fotosintesis


  Pernahkah Anda membayangkan suatu sel surya yang bekerja layaknya sebuah sistem fotosintesis pada tumbuhan hidup? Hal tersebut kini hampir menjadi kenyataan, pasalnya para peneliti dari Purdue University telah berhasil mengembangkan suatu model sel surya yang mengadopsi sistem fotosintesis tumbuhan hidup. Seperti layaknya sel tumbuhan hidup, sel surya ini juga mampu memperbaiki dirinya sendiri sehingga lebih awet dan tahan lama.

  Tim peneliti yang dipimpin oleh Jong Hyun Choi, seorang asisten professor di Purdue University ini membuat suatu sel surya yang mengadopsi sistem fotosintesis tumbuhan yang dapat mereparasi dirinya sendiri. Sel ini dapat mengkonversi energi dari cahaya matahari menjadi energi listrik. Hal yang berbeda dari sel surya komersial lainnya adalah bahwa sel surya ini terbuat dari bahan karbon nanotubes dan DNA dengan fotoreseptor suatu zat warna yang disebut kromofor (chromophore) sebagai pengganti klorofil pada tumbuhan.

Read more...

Mengubah Polusi Panas Menjadi Energi Listrik

Peneliti dari Northwestern University telah menemukan suatu material yang dapat memanfaatkan polusi panas yang dihasilkan dari mesin kalor untuk menghasilkan listrik. Para peneliti tersebut menempatkan nanokristal garam batu (stronsium tellurida, SrTe) ke dalam timbal tellurida (PbTe). Material ini telah terbukti dapat mengkonversi kalor yang dihasilkan sistem pembuangan kendaraan (knalpot), mesin-mesin dan alat-alat industri yang menghasilkan kalor, hingga cahaya matahari dengan efisiensi yang jauh lebih tinggi dibanding penemuan-penemuan serupa sebelumnya.

Paduan material ini menunjukkan karakteristik termoelektrik yang cukup tinggi dan dapat mengubah 14% dari polusi kalor menjadi listrik, tanpa perlu sistem turbin maupun generator. Kimiawan, fisikawan, dan ilmuwan material dari Northwestern University berkolaborasi untuk mengembangkan material dengan kemampuan luar biasa ini. Hasil studi mereka telah dipublikasikan dalam jurnal Nature Chemistry.

“Hal ini telah diketahui selama 100 tahun belakangan, bahwa semikonduktor memiliki karakteristik dapat mengubah panas menjadi listrik secara langsung,” jelas Mercouri Kanatzidis, seorang Professor Kimia di The Weinberg College of Arts and Sciences. “Untuk membuat proses ini menjadi suatu proses yang efisien, yang dibutuhkan hanyalah material yang tepat. Dan kami telah menemukan resep atau sistem untuk membuat material dengan karakter tersebut.”

Mercouri Kanatzidis, co-author dari studi ini bersama dengan tim risetnya mendispersikan nanokristal garam batu stronsium tellurida, SrTe ke dalam material timbal (II) tellurida, PbTe. Percobaan sebelumnya pada penyertaan material berskala nano ke dalam material bulk telah meningkatkan efisiensi konversi kalor menjadi energi listrik dari material timbal (II) tellurida. Tetapi penyertaan material nano ke dalamnya juga meningkatkan jumlah penyebaran elektron, sehingga secara keseluruhan konduktivitas material ini berkurang. Pada studi ini, tim riset dari Northwestern menawarkan suatu model penggunaan material nano pada timbal (II) tellurida untuk menekan penyebaran elektron dan meningkatkan persentase konversi kalor menjadi energi listrik dari material ini.

“Kami dapat menggunakan material ini dengan menghubungkannya dengan peralatan yang cukup murah dengan beberapa kabel listrik dan dapat langsung digunakan, misalnya untuk menyalakan bola lampu,” terang Vinayak Dravid, Professor Ilmu Material dan Teknik di Northwestern's McCormick School of Engineering and Applied Science dan juga merupakan co-author dari publikasi ilmiah ini. “Perangkat ini dapat membuat bola lampu menjadi lebih efisien dengan memanfaatkan polusi kalor yang dihasilkan dan mengubahnya menjadi energi yang lebih berguna seperti energi listrik, dengan persentase konversinya sekitar 10 hingga 15 persen.

Industri otomotif, kimia, batu bata, kaca, maupun jenis industri lainnya yang banyak membuang panas dalam proses produksinya dapat membuat sistem produksinya lebih efisien dengan menggunakan terobosan ilmiah ini dan dapat menuai keuntungan lebih, kata Kanatzidis yang juga mengadakan perjanjian kerjasama dengan Argonne National Laboratory.

“Krisis energi dan lingkungan adalah dua alasan utama ditemukannya terobosan ilmiah ini, tetapi ini tentu hanyalah permulaan,” kata Dravid. “Tipe struktur material seperti ini dapat saja menimbulkan dampak lain bagi komunitas sains yang tidak kami duga sebelumnya, mungkin saja di bidang mekanik seperti untuk menguatkan dan meningkatkan kinerja sistem mesin. Saya berharap, bidang lainnya dapat mengaplikasikan terobosan ilmiah ini dan menggunakannya untuk kebaikan.”

Sumber:
Northwestern University. "Breakthrough in converting heat waste to electricity: Automotive, chemical, brick and glass industries could benefit from discovery." ScienceDaily 18 January 2011. 19 January 2011 /releases/2011/01/110118143228.htm>. Dengan beberapa perubahan 


Read more...