Google Ghifari's Sketchbook - Learn Share Inspire Ghifari's Sketchbook - Learn Share Inspire

Widgets

Widgets

Keutamaan Akhlak dan Tuntunan Islam dalam Menyempurnakan Akhlak


   Islam merupakan agama yang senantiasa mengajarkan para penganutnya menjadi manusia dengan fitrah manusia yang seutuhnya, manusia sebagai makhluk yang paling mulia, manusia sebagai khalifah di muka bumi, serta manusia sebagai rahmat bagi semesta alam. Untuk itu, Islam memiliki aturan-aturan serta tuntunan-tuntunan tersendiri agar para penganutnya dapat mencapai tujuan-tujuan tersebut. Di dalam Islam telah dikenal ruang lingkup ajaran agama Islam yang terdiri atas tiga struktur utama, yaitu aqidah, syariat, dan akhlaq [1]. Ruang lingkup tersebut yang kemudian menjadi dasar-dasar perbuatan dan perilaku umat Muslim baik mengenai hubungan dengan Allah (hablum minallah) maupun hubungan dengan sesama manusia (hablum minannaas). Berikut akan dibahas mengenai salah satu ruang lingkup Islam yaitu akhlak.

   Secara terminologis akhlak berasal dari kata “akhlaq” yang merupakan bentuk jamak dari “khulqu” dari bahasa Arab yang artinya perangai, budi, tabiat dan adab. Akhlak itu terbagi dua yaitu akhlak yang mulia atau akhlak yang terpuji (al-akhlakul mahmudah) dan akhlak yang buruk atau akhlak yang tercela (al-ahklakul mazmumah)[2]. Menurut seorang filsuf besar Islam, Imam Al-Ghazali, akhlak merupakan ilmu yang dibentuk oleh syariat Islam di samping mengikuti perkembangan pemikiran dan jalan para Nabi, orang-orang saleh dan syuhada’ serta para ulama Islam yang telah mendapat kasyaf [3]. Selain itu, Ghazali juga memberi pengertian bahwa akhlak dapat disebut juga sebagai ilmu sifat hati dan ilmu rahasia hubungan keagamaan yang kemudian menjadi pedoman akhlaknya orang-orang baik [4].

   Akhlak memiliki keistimewaan tersendiri di dalam ajaran Islam, dimana posisi dan eksistensi akhlak sangat penting dan esensial yang harus dimiliki oleh segenap umat Muslim. Seperti sabda Rasulullah Muhammad SAW, “Sesungguhnya Aku diutus untuk menyempurnakan keluhuran akhlak.” (HR. Malik). Kemudian ketika beliau ditanya mengenai makna agama, beliau menyatakan “bahwa agama adalah akhlak yang baik“[6]. Selain itu keutamaan akhlak yang mulia dalam Islam juga dapat dilihat dari sabda Rasulullah SAW ketika beliau ditanya mengenai kriteria orang yang paling banyak memasuki surga, kemudian beliau menjawab:“Taqwa kepada Allah dan Akhlak yang Baik.” (Hadits Shahih Riwayat Tirmidzi, juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad) [6]. Keistimewaan-keistimewaan tersebutlah yang seharusnya menjadi cambuk bagi kita untuk senantiasa menyempurnakan akhlak yang mulia, karena tujuan diutusnya Nabi Muhammad SAW tidak lain adalah untuk menyempurnakan akhlak umat manusia.

   Akhlak yang mulia merupakan akhlak yang diridhoi oleh Allah SWT. Tentu saja hal ini tidak bisa didapatkan begitu saja tanpa adanya usaha dari kita sebagai hamba Allah. Memang manusia selalu memiliki kecenderungan untuk berperilaku baik dan berakhlak makrumah seperti kecondongan individu terhadap hikmah (pengetahuan), kecintaan kepada Allah SWT, keinginan untuk mengenal Allah (ma’rifatullah), dan beribadah kepada-Nya selalu ada karena hal itu termasuk naluri (tabiat) dan merupakan fitrah manusia. Menurut pandangan Ghazali, pendidikan akhlak itu penting untuk dilakukan demi mencapai kesempurnaan beribadah kepada Allah SWT dan mencapai akhlak yang mulia. Ghazali mempertimbangkan adanya perubahan-perubahan akhlak pada manusia yang sangat mungkin terjadi. Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW: “Perbaikilah akhlakmu.”, yang senantiasa ditunjukkan kepada kaum Muslimin agar terus menerus memperbaiki dan menyempurnakan akhlaknya [7].
   Rasulullah Muhammad SAW juga telah memberikan tuntunan hidup beragama Islam yang paling dasar yang dapat menjadi pendidikan akhlak bagi umat Muslim yaitu Rukun Islam. Rukun Islam yang dikenal saat ini merupakan hadis shahih yang berasal dari Abdullah ibnu Umar dan diriwayatkan oleh beberapa imam hadis, yaitu Bukhari, Muslim, Tirmidzi, dan An-Nasa’i. Hadis tersebut redaksinya adalah sebagai berikut [8].
“Buniya al-islamu ‘ala khams syahadah an la ilaha illa Allah wa anna muhammadan rasulullahi wa iqami al-shalah wa itai al-zakah wa al-hajji wa shawmi ramadhan.”
Islam dibangun atas lima tiang, yaitu: syahadat yang menyatakan bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad itu Rasul Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan haji, serta berpuasa pada bulan Ramadhan.

   Rukun Islam sebenarnya adalah landasan hidup kaum Muslimin dalam berperilaku lahiriah yang makrumah, berakhlak mulia. Tetapi, untuk bisa mewujudkan akhlakyang mulia tersebut aplikasi Rukun Islam dalam kehidupan sehari-hai tidak dapat dipisahkan dengan Rukun Iman. Sehingga pada tahap puncaknya, akhlak yang mulia dari individu Muslim merupakan perwujudan dari sikap hidup ihsan.

   Dari uraian di atas, dapat terlihat dengan jelas bahwa Islam merupakan agama yang mengutamakan akhlak yang mengatur hubungan individu Muslim kepada Allah SWT, Sang Pencipta Alam Semesta serta mengatur perilaku terhadap sesama umat Muslim dan kepada sesama manusia dan makhluk Allah SWT. Memiliki akhlak yang mulia memiliki banyak keutamaan dan manfaat, dengan terus-menerus menyempurnakan akhlak, manusia khususnya umat Muslim, dapat menjalani fitrahnya dengan mulia sebagai makhluk yang paling mulia, sebagai khalifah di muka bumi, serta sebagai rahmat bagi semesta alam.


REFERENSI

[1] Zakky Mubarak. Menjadi Cendekiawan Muslim. [Jakarta: Yayasan Ukhuwah Ihsaniyah.2007], hlm: 26
[2] Aribowo. Akhlak. Diambil dari situs http://mediasauna.multiply.com/journal/item/8 diakses pada tanggal
18 Februari 2010.
[3] Dalam Kamus Akbar Arab-Indonesia karangan Syarif Al-Qusyairi, kata kasyaf yang berasal dari kata kasyafa, yaksyifu, kasyafan dapat berarti membukakan atau menampakkan sesuatu. Lebih lanjut dijelaskan dalam buku Ajaran-Ajaran Akhlak Imam Ghazali karangan Hussein Bahreisj, bahwa kata kasyaf merujuk pada istilah terbukanya tabir rahasia.
[4] Hussein Bahreisj. Ajaran-Ajaran Akhlak Imam Ghazali. [Surabaya: Penerbit Al-Ikhlas. 1981], hlm: 39
[5] Andrean El-Fachri. Eksistensi Akhlak Dalam Islam. Diambil dari situs http://andreanelfachri.wordpress.com/akhlaq/eksisitensi-akhlak-dalam-islam/ diakses pada tanggal 18 Februari 2010
[6] Aribowo. Akhlak. Diambil dari situs http://mediasauna.multiply.com/journal/item/8 diakses pada tanggal
18 Februari 2010.
[7] Hussein Bahreisj. Ajaran-Ajaran Akhlak Imam Ghazali. [Surabaya: Penerbit Al-Ikhlas. 1981], hlm: 41
[8] Achmad Chojim. Syekh Siti Jenar: Makrifat dan Makna Kehidupan. [Jakarta: Serambi. 2007], hlm:149

Anda sedang membaca artikel Keutamaan Akhlak dan Tuntunan Islam dalam Menyempurnakan Akhlak yang dibuat oleh Abi Sofyan Ghifari dengan URL berikut http://abi-ghifari.blogspot.com/2010/03/keutamaan-akhlak-dan-tuntunan-islam.html, apabila Anda ingin menggunakan artikel ini sebagai sumber, mohon sertakan link Keutamaan Akhlak dan Tuntunan Islam dalam Menyempurnakan Akhlak beserta nama penulis untuk menghargai Hak Cipta penulis dan menghindari plagiarisme. Terima kasih telah berkunjung :)

3 comments:

  1. Thank's a lot for this information. Usefull for me

    ReplyDelete
  2. You're welcome.. Thanks for visiting and happy blogging! :)

    ReplyDelete
  3. Always be a first-rate version of yourself, instead of a second-rate version of somebody else.
    - Ge capital care credit

    ReplyDelete

Thanks for visiting and please leave your comments!! :D

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...