Google Ghifari's Sketchbook Ghifari's Sketchbook

Inspirasi dari Dua Penulis Muda

Abi Sofyan Ghifari | Saturday, May 18, 2013 |
Travel in Love karya Diego Christian
   Saya tidak tahu apa yang membuat saya tertarik untuk membuat suatu karya sastra. Saya memang penggila baca, penggemar buku, sejak balita hingga usia kepala dua saat ini. Belum pernah sebelumnya terbersit di dalam pikiran untuk membukukan tulisan-tulisan saya, yang saya ragukan dapat membuat pembaca tertarik untuk membacanya. Mungkin pemikiran tersebut datang dari dua orang mahasiswa luar biasa ini, Diego Christian Immanuel dan Azhar Nurun Ala. 

   Mereka adalah dua penulis muda berbakat. Yang pertama adalah penulis novel remaja yang telah menerbitkan dua novel yang diterbitkan oleh penerbit mayor yang berbeda dan keduanya meraih penghargaan bergengsi. Novel-novelnya mendapat beragam pujian positif baik dari sesama penulis, maupun pembaca. Yang kedua bisa saya sebut seorang penyair, atau pujangga. Karya prosa bebas, cerpen dan puisi di blog pribadinya dikagumi dan menginspirasi banyak anak muda di seluruh Indonesia. Hingga akhirnya ia menerbitkan tulisan-tulisannya tersebut ke dalam sebuah antologi yang diterbitkan secara self publishing yang responnya sangat hangat. Bayangkan betapa inspiratifnya kedua penulis muda ini!! 

Ja(t)uh karya Azhar Nurun 'Ala
   Keduanya adalah mahasiswa Universitas Indonesia, sama dengan saya (tapi saat ini saya lebih tepat disebut alumni karena sudah lulus sih. Hehe..). Merekapun juga berasal dari angkatan yang sama dengan saya, angkatan 2009, sehingga otomatis kami mengalami masa-masa orientasi universitas yang sama, mengalami saat-saat dimana organisasi kampus dipimpin oleh orang yang sama, dan mengalami beragam peristiwa yang mungkin serupa di kampus. Yahh, meskipun saya baru mengenal mereka beberapa hari belakangan ini. Bacaan mereka pun serupa dengan saya. Keduanya juga menggemari Dewi Lestari dan Paulo Coelho, saya pun begitu. Tidak, saya bukan berusaha untuk menyamakan diri dengan mereka semua. Saya sama sekali berbeda, belum layak disandingkan dengan kehebatan mereka. Mereka adalah pionir, inovator, dan inspirator terutama di bidang tulis menulis. Sementara saya hanyalah pengagum, pengikut, salah satu pembaca yang ikut terinspirasi akan karya-karya hebat mereka. Saya pun tak dapat memungkiri bahwa merekalah yang memercikkan semangat dan menginspirasi saya untuk menerbitkan tulisan-tulisan saya. 

   Seperti orang kebanyakan, saya pun merasa semangat di awal, beragam ide seakan mengalir tanpa henti. Saya pun dengan semangat menuliskan beragam gagasan saya, di buku catatan, di laptop, bahkan di notes BlackBerry. Tetapi ketika saya telah memasuki fasa ‘eksekusi’ beragam negativisme mulai menyerang saya. Mungkin yang saya tidak sadari adalah bahwa saya telah menempatkan ekspektasi yang tinggi terhadap karya saya kelak. Saya berharap karya yang akan saya buat nanti akan diterima secara luas dan baik oleh semua kalangan, seperti halnya dua orang penulis muda yang saya sebutkan di atas. Sehingga terbit keraguan dan pesimisme dalam benak saya bahwa tidak mungkin bagi saya menelurkan karya sehebat mereka. 

   Mungkin juga ekpektasi itu yang membuat saya tidak nyaman dalam mengeksekusi gagasan-gagasan menulis saya. Saya merasa melambat, tidak berhasrat penuh dalam menulis, hingga bahkan mandek karena merasa tidak jujur terhadap apa yang saya coba tuliskan. Saya pun akhirnya merasa tidak nyaman dan merasa ada sesuatu yang salah. Saya merasa kosong, hampa. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk break sejenak dan memikirkan ulang apa yang kira-kira menjadi kesalahan saya dalam memulai semua ini. Ya, saya belakangan menyadari kesalahan saya memang dimulai sejak permulaan. 

   Saya juga membaca ulang beberapa buku favorit saya, terutama karya-karya Dewi Lestari dan Andrea Hirata. Saat membaca novel ‘Perahu Kertas’, saya disadari oleh salah satu penggalan cerita pada novel tersebut. Yaitu saat Keenan memberitahu Kugy bahwa cerpennya yang dimuat di majalah sama sekali tidak mencerminkan dirinya sesungguhnya yang berbeda saat ia menulis dongeng. Bahwa dalam cerpen tersebut, Kugy seperti merangkai kata-kata agar disukai pembaca, bukan berlari bebas seperti dalam dongengnya. Penggalan kisah ini kembali menyadarkan saya akan kejujuran dalam bercerita yang mungkin membuat saya merasa stuck karena hanya mendahulukan rangkaian kata, bukan kejujuran berkisah. 

   Ternyata masih belum selesai. Saya pun kemudian menyadari bahwa salah satu kesalahan saya dalam memulai ini adalah berekspektasi terlalu tinggi sehingga merasa khawatir akan kegagalan. Entah bagaimana muncul perasaan itu. Tetapi yang jelas saya bukanlah orang yang selalu terhindar dari kegagalan. Bahkan sebenarnya saya sudah terlalu sering gagal, jatuh berkali-kali di perasaan kecewa yang serupa dalam mendapatkan apa yang saya inginkan dan cita-citakan, terutama dalam berbagai kompetisi. Tetapi kegagalan-kegagalan itulah yang membuat saya memahami, mengerti, dan menghargai rasanya berada di puncak, ketika saya akhirnya bisa menjadi pemenang. Saya pun sadar saya tidak perlu lagi takut gagal. Saya hanya perlu memelihara perasaan itu pada seluruh proses kreatif saya. 

   Pemikiran-pemikiran itu yang akhirnya menyadarkan saya bahwa saya telah salah dalam memulai. Semoga setelah ini saya kembali menemukan diri saya, berkarya dengan penuh kejujuran terhadap apa yang memang ingin saya sampaikan kepada dunia, sehingga karya yang saya hasilkan akan mengalir apa adanya. Mohon doanya.. :)

Read More...

Apa Buku Pertama Anda?

Abi Sofyan Ghifari | Tuesday, May 14, 2013 |

Tiba-tiba saja saya terlintas pertanyaan tersebut di benak saya. Buku apa yang pertama kali saya baca? Sejauh ini saya telah membaca ratusan buku dari beragam genre dan banyak di antaranya telah menjadi koleksi pribadi saya di kamar. Mulai dari novel, roman, kumpulan cerpen dan prosa, puisi, kamus, buku-buku ilmiah mengenai kimia, fisika, matematika, biologi, studi Islam, hingga psikologi dan manajemen tersebar di rak buku saya. Cukup banyaknya buku yang telah saya koleksi saat ini menjadikan saya mengingat-ingat, buku apa yang sebenarnya pertama kali saya baca.

Ingatan saya pun kembali ke 16 tahun yang lalu saat saya masih berumur sekitar 5 tahun, ketika saya pertama kali mengenal aksara yang kemudian mengenalkan saya kepada dunia. Di usia tersebut saya sudah dapat membaca. Ya, mungkin termasuk cepat untuk anak dengan usia tersebut sudah mampu mengenal huruf dan angka. Pengetahuan saya tentang huruf dan angka tidak saya dapat dari sekolah atau taman kanak-kanak (saya tidak pernah mengenyam jenjang TK), melainkan dari almarhum Ayah saya. Beliaulah guru membaca pertama saya, yang membeli poster ilustratif berisi huruf dan angka, menuliskannya di papan hitam yang beliau beli dengan kapur tulis, mengajari saya mengeja serta melafalkannya untuk pertama kali, dan kata pertama yang saya tulis dan lafalkan dengan sempurna adalah "ABI", nama depan saya yang dalam bahasa Arab juga berarti "Ayah".

Ayah saya gemar membaca, meski beliau tidak pernah mengenyam pendidikan tinggi. Koleksinya saat itu lebih banyak mengenai studi agama Islam yang masih saya simpan di rak buku saya hingga saat ini. Samar-samar saya mengingat beberapa koleksi buku Ayah saya yang menjadi buku pertama yang saya baca dalam hidup saya. 

Buku-buku awal yang saya antara lain adalah "Riwayat Ringkas 25 Nabi dan Rasul" karya K.M. Asyiq (terbit tahun 1975), "Bromocorah" karya jurnalis kondang Mochtar Lubis (terbit tahun 1983), dan "Lembaga Hidup" karya cendekiawan Muslim Buya Prof. Dr. Hamka (terbit tahun 1962). Seperti yang Anda duga, saya memang hanya membaca karya-karya tersebut tanpa tahu makna kalimat di dalamnya karena usia saya yang masih sangat belia saat itu. 

Tetapi tentu hal itu tidak menyurutkan kegemaran saya akan membaca dan menulis. Saya membaca apapun, kapanpun, dan dimanapun. Tidak peduli membaca buku, koran, majalah, iklan, poster, baliho, sampai huruf-huruf yang tercetak di kaos teman saya. Pada usia tersebut, saya juga suka menulis dan menggambar. Medianya pun beragam, di buku tulis dan buku gambar hadiah lomba 17 Agustus, di papan tulis, di kertas bekas, di koran dan majalah, di kertas undangan, bahkan saya juga menulis dan menggambar di dinding dan pintu rumah kami. Saya membaca dan menulis huruf dan angka hingga akhirnya saya dikenal sebagai anak dengan kemampuan membaca dan menulis yang sangat baik saat itu. 

Melihat kegemaran anaknya membaca dan menulis tentu membuat orangtua saya bangga dan ingin mengembangkan minat anaknya. Keterbatasan ekonomi dan finansial tidak membuat orangtua saya patah semangat dalam memberikan dukungan terhadap minat anaknya. Selang beberapa tahun kemudian saat saya sedang berada di bangku sekolah dasar, Ibu saya berinisiatif untuk meminjam buku kepada salah satu yayasan sosial untuk anak-anak di lingkungan tempat tinggal kami, yaitu Panti Nugraha. Buku yang dipinjamkan secara gratis oleh Panti Nugraha sangat beragam dan sangat sesuai dengan proses tumbuh-kembang anak yang memerlukan bahan bacaan yang meningkatkan daya kreativitas dan imajinasi, serta nilai-nilai moral yang luhur.

Ibu saya meminjam beragam jenis buku anak-anak dan membawanya pulang untuk saya baca di rumah. Saya masih ingat beberapa dari buku tersebut adalah ensiklopedia kreatif mengenai bumi dan flora-fauna, ensiklopedia mengenai kehidupan dinosaurus dan manusia purba, serta dongeng-dongeng terkenal dari berbagai daerah di seluruh Indonesia dan juga dari belahan dunia lainnya.

Buku-buku itu adalah salah satu titik balik saya, kecintaan pertama saya terhadap buku dan ilmu pengetahuan secara umum. Saya sangat menyukai ilustrasi yang hidup dan menarik dari ensiklopedia tersebut. Saya terpukau akan fakta-fakta tentang planet yang kita tinggali ini dan dunia flora-fauna yang telah saya ketahui bahkan sebelum anak-anak lain seusia saya. Saya terinspirasi akan keluhuran moral para penggerak cerita pada dongeng-dongeng dari negeri sendiri dan juga dari negara lain. Tidak berlebihan bahwa saya menganggap buku-buku awal tersebut yang telah membuka cakrawala dunia untuk saya, menjadi jendela tempat saya melihat hal-hal yang tidak saya ketahui sebelumnya, dan mengubah jalan hidup saya selamanya untuk terus mencintai buku dan ilmu pengetahuan sepanjang hayat.

Itulah kekuatan buku pertama bagi saya. Saya yakin Anda juga punya buku pertama yang Anda baca. Semoga Anda ingat dan dapat menarik hikmah serta berbagi pengalaman mengenai hal tersebut.. ;) 

Jadi, apa buku pertama Anda?


Read More...

Generasi Muda Penggerak Sains Islam

Abi Sofyan Ghifari | Monday, May 06, 2013 |

   Dunia Islam dapat dikatakan mengalami ketertinggalan pada masa kini. Kemiskinan dan kebodohan seakan melekat. Bahkan cap terorisme pun terkadang disematkan kepada umat Muslim oleh negara-negara Barat. Kita juga tidak dapat memungkiri masih banyak negara Islam atau negara berpenduduk mayoritas Muslim yang merupakan negara miskin dan tertinggal. Beberapa dari negara tersebut bahkan mengalami krisis pangan, air bersih, energi, sumber daya alam (SDA) dan juga sumber daya manusia (SDM). Sedangkan lainnya masih merupakan negara berkembang yang umumnya memiliki kelimpahan sumber daya alam, termasuk Indonesia.

   Tetapi kelimpahan sumber daya alam tersebut tidak menjanjikan kemakmuran dan kesejahteraan bagi warganya. Sebagai contoh negara kita Indonesia justru terkenal sebagai negara pengutang terbesar dengan tingkat kemiskinan yang masih relatif tinggi dan juga pengekspor tenaga kerja kasar. Sumber daya alam yang melimpah seperti minyak bumi dan gas, beragam bahan tambang, produk hutan, hingga kekayaan laut masih belum dimanfaatkan dengan maksimal. Kebanyakan dari hasil alam tersebut hanya diekspor dalam keadaan mentah tanpa proses yang dapat meningkatkan nilai jualnya, atau bahkan dikelola oleh pihak asing yang memiliki teknologi canggih. 

   Lalu apa akibat dari semua itu? Devisa mengalir ke luar negeri, sumber daya alam Indonesia tidak dapat dinikmati oleh bangsa sendiri, Indonesia terlilit hutang ekonomi yang tidak sedikit, dan rakyat yang terkena imbasnya dengan harga bahan kebutuhan yang tinggi sementara kesejahteraan masih rendah. Negara kita luluh lantak oleh produk-produk sains dan teknologi dari negara-negara non-Muslim. Penyebabnya hanya satu, kita sebagai umat Muslim tidak menguasai ilmu pengetahuan, sains dan teknologi, baik teoritis maupun praktis.

   Ilustrasi yang mungkin dapat menjadi gambaran betapa sains dan teknologi dapat menjadi kekuatan suatu bangsa adalah laporan dari Islamic Educational Scientific and Cultural Organization (ISESCO) pada tahun 2000. Berdasarkan laporan tersebut sebanyak 57 negara Islam yang tergabung dalam Organisasi Konferensi Islam (OKI) dan memiliki sekitar 1,1 miliar penduduk atau 20 persen penduduk dunia, mendiami wilayah seluas 26,6 juta kilometer persegi, dan menyimpan 73 persen cadangan minyak dunia hanya memiliki gross national product (GNP) sebesar 1016 miliar dollar US. Suatu angka yang sangat kecil jika dibandingkan dengan GNP satu negara maju seperti Perancis misalnya, yang berpenduduk kurang dari 60 juta jiwa dan mendiami wilayah sekitar setengah juta kilometer persegi dan memiliki GNP sebesar 1293 miliar dollar US.

   Fakta itu dikarenakan negara-negara maju yang mayoritas non-Muslim termasuk Perancis mendasarkan pertumbuhan ekonominya pada ilmu pengetahuan dan teknologi, sementara negara-negara Muslim hanya bergantung pada sumber daya kualitatif seperti minyak bumi, gas, dan produk tambang, maupun kuantitatif seperti sumber daya manusia. Mayoritas negara Islam tidak membangun dasar iptek yang kuat sehingga tidak dapat bersaing secara global dengan negara-negara lain yang memiliki fundamen iptek yang kokoh.

   Sekarang kita dapat melihat perkembangan pesat China dan India yang telah menjadi kekuatan ekonomi global baru yang bahkan telah mengalahkan Amerika Serikat. Kiat mereka serupa, membangun dasar iptek yang kuat dengan mengirimkan banyak pemudanya menimba ilmu di luar negeri yang kemudian kembali lagi untuk mengabdi kepada negara dengan membangun infrastuktur ilmu pengetahuan-teknologi. Hasilnya dapat dilihat saat ini, China merupakan negara pengekspor kedua terbesar di dunia setelah Amerika Serikat dan negara dengan industri manufaktur terbesar di dunia. Sementara India saat ini merupakan negara penyedia SDM untuk teknologi informasi terbanyak dan berkualitas. China dan India, berkat kegigihan mereka membangun dasar iptek, kini telah menuai hasilnya dengan menjadi negara dengan ekonomi adidaya di dunia.

   Indonesia sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia tentu sebenarnya memiliki potensi untuk hal yang sama. Banyaknya penduduk dapat menjadi kekuatan tersendiri seperti yang dicontohkan China dan India. Terlebih lagi, banyak anak muda Indonesia yang telah berprestasi di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, baik di kancah nasional maupun internasional yang tentu merupakan suatu kebanggaan bagi kita semua. Tetapi semangat membangun dasar iptek yang kokoh ini tidak merata di seluruh pelosok Indonesia. Generasi muda Muslim Indonesia saat ini kebanyakan masih berkutat pada permasalahan fiqih dan aqidah yang terus menerus diperdebatkan. Hal ini tentu baik, apabila juga diimbangi dengan semangat membangun kembali sains Islam.

   Dalam rangka untuk membangkitkan semangat membangun sains Islam, yaitu sains yang didasarkan atas iman dan tauhid kepada Allah SWT, kita perlu menengok kembali ke sekitar abad ke-8 hingga abad ke-15. Pada masa dinasti 'Abbasiyah ini, dunia Islam pernah mencapai kejayaannya berkat tradisi intelektual yang melanda para cendekiawan Muslim pada periode itu. Pada masa keemasan Islam ini pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sangat marak dan pesat, diawali dengan translasi masif karya-karya para filsuf Yunani kuno. Cendekiawan Muslim pada masa itu mengembangkan lebih lanjut dan mendalam apa yang ditulis oleh para filsuf Yunani kuno seperti Socrates, Plato, Aristoteles, Hippocrates, dan lainnya menjadi cikal bakal sains dan teknologi modern.

   Di masa keemasan inilah lahir para filsuf, ilmuwan, teknokrat, dan cendekiawan Muslim yang sangat termasyhur dan berjasa pada kehadiran era sains dan teknologi modern saat ini. Mereka tidak hanya dikenang oleh umat Muslim, tetapi juga seluruh dunia berkat keuletan dan inovasi dalam membangun fundamen yang kokoh bagi sains dan teknologi modern. Pada rentang masa itu telah lahir saintis Muslim seperti Jabir Ibnu Hayyan (atau dikenal dengan nama Geber di Eropa) yang dikenal sebagai "Bapak Kimia Modern", Al-Khawarizmi sang "Bapak Matematika" yang namanya diabadikan sebagai ilmu algoritma, dan Ibnu Sina (atau dikenal sebagai Avicenna di Eropa) seorang dokter Muslim yang termasyhur di dunia Timur dan Barat berkat bukunya "Canon of Medicine". Di masa ini juga lahir cendekiawan Muslim ternama lainnya seperti Al-Biruni (fisikawan), Ibnu Rusyd atau Averroes (filsuf dan ahli biologi), Ibnu Haitsam (teknokrat), dan juga Ibnu Khaldun (sosiolog-antropolog). Selain itu ada juga Al-Kindi (filsuf), Al-Razi (kimiawan kedokteran), Al-Bitruji (astronom), dan banyak lagi yang lainnya.

   Sayangnya sejarah besar dunia Islam yang menjadi pionir dan peletak dasar sains dan teknologi modern kini dilupakan, bahkan oleh umat Islam sendiri. Generasi muda umat Islam lebih berfokus pada paradigma fikih dari Al-Qur'an. Padahal apabila ditelisik secara lebih mendalam sebenarnya ayat-ayat fikih di dalam Al-Qur'an hanya berjumlah 150 ayat, coba bandingkan dengan ayat-ayat kauniyah, yaitu ayat tentang alam semesta yang berjumlah hingga 750 ayat. Di dalam ayat-ayat kauniyah tersebut, Allah mengajak kita untuk berpikir, di antara berbagai fenomena alam yang ada terdapat tanda-tanda kekuasaan-Nya. Al-Qur'an bukanlah kitab sains, tetapi kenyataan ini tentu berarti sesuatu, yaitu kita juga perlu mendalami dan membangun sains yang bernafaskan iman dan tauhid seperti yang telah dilakukan oleh para cendekiawan Muslim di abad keemasan Islam.


Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda–tanda  bagi orang–orang yang berakal”. [QS. Ali Imran (3): 190]

   Kita semua tentu telah menyadari bahwa sains dan teknologi benar-benar memiliki peranan penting bagi kesejahteraan dan kemakmuran suatu bangsa dan negara. Indonesia mungkin memang terlambat dan tidak begitu fokus pada pembentukan dasar-dasar iptek yang kokoh sehingga mengalami ketertinggalan saat ini. Namun kita seharusnya sebagai generasi muda Muslim yang berasaskan tauhid dalam mengembangkan sains dan teknologi dapat kembali membangkitkan era kejayaan dunia Islam.

   Sebagai generasi muda Muslim yang sebisa mungkin bermanfaat bagi bangsa, negara, dan juga agama, kita memiliki tanggungjawab untuk membuat kemajuan dengan mengembangkan sains Islam. Sains Islam tidak hanya menjadi identitas kita sebagai umat Islam, tetapi juga dapat menjadi momentum kebangkitan dan kejayaan Islam di kancah global.
  
Read More...

Optimasi Nanopartikel untuk Aplikasi Komersial

Abi Sofyan Ghifari | Friday, May 03, 2013 |

   Nanopartikel saat ini banyak digunakan pada beragam produk komersial mulai dari katalis, media cat dan cairan magnetik, hingga kosmetik dan tabir surya. Suatu review terbaru dari peneliti di Swedia dan Spanyol mendeskripsikan hasil kerja terkini untuk optimasi sintesis, dispersi, dan fungsionalisasi permukaan titania (titanium dioksida), seng oksida, dan seria (serium oksida) -- tiga nanopartikel utama yang digunakan pada fotokatalis, penghalau sinar UV (ultraviolet), dan tabir surya. Review mereka dipublikasikan pada 26 April 2013 di jurnal Science and Technology of Advanced Materials.

    Dengan keberhasilan aplikasi komersial nanopartikel titania untuk kaca swabersih pada jendela di gedung-gedung bertingkat tinggi, kini ketertarikan untuk mengaplikasikan sistem fotokatalisis dan pelapis titania swabersih pada beragam material konstruksi semakin meningkat. Pelapisan ini tidak hanya melindungi permukaan gedung untuk tetap bersih tetapi juga dapat mengurangi konsentrasi polutan berbahaya di udara. Sifat anti-bakteri dari pelapis fotokatalis juga menjadi solusi untuk mengendalikan bakteria berbahaya yang persisten, yang merupakan karakter yang sangat berguna terutama bila digunakan di rumah sakit.

   Sementara itu, pelapis yang memiliki karakter menyerap atau menangkal sinar UV saat ini memiliki dua pemanfaatan utama: sebagai pernis pelindung pada permukaan kayu, dan sebagai pelapis penghalang sinar UV pada permukaan produk maupun peralatan berbasis polimer untuk mencegah pelapukan.

   Studi review tersebut menjelaskan secara struktural dan kimiawi apa saja yang diperlukan dan beragam rute yang dapat digunakan untuk memproduksi fotokatalis transparan serta pelapis dan tabir surya penghalau sinar UV berbasis nanopartikel. Penulis artikel tersebut mengulas metode utama untuk sintesis nanopartikel titania, seng oksida, dan seria, dengan berfokus pada riset terkini mengenai pembuatan serbuk nanopartikel yang tidak teraglomerasi (tidak menggumpal). Penulis juga mengidentifikasi senyawa aditif organik yang merupakan dispersan yang efektif dan mampu meningkatkan kecocokan antara nanopartikel anorganik dengan matriks organik.

   Selanjutnya artikel ini mendiskusikan lebih jauh mengenai performa teknis dari nanopartikel, terutama kaitannya dengan keberadaannya di lingkungan. Mereka menyimpulkannya dengan menjelaskan prospek masa depan dari nanopartikel dan mengidentifikasi material terbaru yang menjanjikan, seperti pelapis yang multifungsi dan lembaran film hibrid.


ScienceDaily


Read More...

Mikroskop "Resolusi-Super" untuk Deteksi Struktur Nano

Abi Sofyan Ghifari | Thursday, May 02, 2013 |


   Para peneliti telah menemukan suatu cara untuk melihat struktur nano sintetik dan molekul menggunakan mikroskop optik resolusi-super tipe baru yang tidak membutuhkan zat warna fluoresen, menjadikannya alat yang praktis untuk digunakan pada riset biomedis dan nanoteknologi. 

   "Mikroskop optik resolusi-super ini telah membuka jendela baru pada dunia nanoskop," ujar Ji-Xin Cheng, seorang associate professor teknik dan kimia biomedis dari Purdue University. Mikroskop optik konvensional dapat melihat objek berukuran tidak lebih kecil dari 300 nanometer (1 nanometer sama dengan sepermiliar meter), yang merupakan batasan yang disebut sebagai "limit difraksi". Limit difraksi didefinisikan sebagai setengah dari panjang gelombang cahaya yang digunakan untuk melihat spesimen pada mikroskop. Bagaimanapun, peneliti berharap mikroskop dapat digunakan untuk melihat struktur molekul seperti protein dan lipid, dan juga struktur nano sintetik seperti nanotabung yang memiliki diameter beberapa nanometer.

   "Limit difraksi merepresentasikan batasan fundamental dari resolusi pencitraan optik," ujar Cheng. "Stefan Hell dari Max Planck Institute dan lainnya telah mengembangkan suatu metode pencitraan resolusi-super yang membutuhkan penandaan fluoresens. Di sini, kami mendemonstrasikan suatu skema baru yang mendobrak limit difraksi pada pencitraan optik pada spesimen non-fluoresens. Karena bebas penanda, maka sinyal gelombang dari objek dapat langsung dideteksi sehingga kami dapat mempelajari lebih jauh struktur nano tersebut."

    Penjelasan mengenai penemuan ini secara detail dibahas pada makalah riset yang tampil sejak hari Minggu (28 April 2013) di jurnal Nature Photonics. Sistem pencitraan ini, yang disebut saturated transient absorption microscopy (STAM) menggunakan trio pancaran laser, termasuk pancaran laser yang berbentuk seperti donat yang hanya memendarkan beberapa molekul tertentu secara selektif. Elektron pada atom dari molekul yang berpendar keluar sesaat menuju tingkat energi yang lebih tinggi atau disebut juga sebagai proses eksitasi, sementara elektron lain tetap berada pada keadaan dasar. Citra objek dibentuk menggunakan laser yang mampu membandingkan perbedaan antara molekul dalam keadaan tereksitasi dan keadaan dasar.

   Para peneliti mendemonstrasikan sistem mikroskop tersebut dengan mengambil citra dari kepingan nano grafit yang memiliki lebar 100 nanometer. Sistem ini berpotensi besar pada studi nanomaterial, baik alami maupun sintetik. Riset selanjutnya di masa mendatang kemungkinan akan menyertakan laser dengan panjang gelombang yang lebih pendek. Ketika panjang gelombang cahaya memendek, peneliti dimungkinkan untuk meneliti objek yang lebih kecil secara lebih fokus.


ScienceDaily


Read More...

Fosil Predasi Pertama di Muka Bumi Ditemukan

Abi Sofyan Ghifari | Wednesday, May 01, 2013 |


   Sebuah fosil kecil berusia 1,9 miliar tahun yang berasal dari batu di sekitar Danau Superior, Kanada, memberikan gambaran pertama mengenai predasi organisme yang memakan organisme lainnya serta memberikan prediksi seperti apa rupa Bumi purba pada saat pertama kali terbentuk kehidupan. Fosil yang terawetkan oleh tanah kapur di sekitar danau ini menggambarkan aksi suatu mikroba purba sedang memakan fosil yang mirip cyanobacterium (bakteri cyan atau hijau-biru) yang disebut Gunflitia.

   Tim riset yang dipimpin oleh Dr. David Wacey dari University of Western Australia dan Bergen University, Norwegia dan Professor Martin Brasier dari Oxford University telah melaporkan hasil penelitian ini pada jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS). Disebutkan pada jurnal tersebut bahwa hasil penelitian tim ini menjadi bukti awal terbentuknya spesies heterotrofi yang memperoleh makanan dari bahan organik. Mereka juga menunjukkan bahwa kebanyakan mikroba purba tampaknya sangat menyukai Gunflitia sebagai kudapan lezat mereka dibanding jenis bakteri lainnya yang telah hidup pada saat itu seperti Huroniospora.

   "Apa yang kami sebut 'heterotrofi' di sini adalah hal yang sama terjadi ketika setelah kita makan malam, bakteria di usus kita memecah materi organik," ujar Professor Martin Brassier dari Departemen Ilmu Bumi Universitas Oxford, penulis makalah tersebut. "Sementara itu, terdapat bukti kimia yang menunjukkan bahwa  mode heterotrofi ini telah ada sejak 3,5 miliar tahun yang lalu. Pada studi ini untuk pertama kalinya kami dapat mengidentifikasi apa yang sebenarnya terjadi dan 'siapa yang memakan siapa'. Faktanya kita semua mengalami hal ini di tubuh kita dimana bau yang dihasilkan seperti telur busuk karena hidrogen sulfida yang dihasilkan sebagai gas buang proses tersebut. Sehingga, cukup mengherankan, bahwa kami dapat menyimpulkan kehidupan di Bumi pada 1,9 miliar tahun yang lalu akan berbau seperti telur busuk.

   Tim menganalisis fosil mikroskopik yang diameternya bervariasi antara 3-15 mikron (mikrometer) menggunakan teknik terbaru dan menemukan bahwa sebuah bentuk tubular yang diyakini merupakan selubung luar dari Gunflitia ternyata lebih berlubang setelah kematiannya dibandingkan fosil bakteria lainnya. Temuan ini konsisten dengan pernyataan bahwa Gunflitia lebih disukai sebagai makanan oleh mikroba dibanding jenis bakteri lainnya.

   Pada beberapa tempat kebanyakan fosil berukuran mikro telah tergantikan sebagian atau seluruhnya oleh besi sulfida, suatu hasil samping dari bakteria heterotrofik pereduksi sulfur/belerang yang juga merupakan penanda yang paling terlihat. Tim ini juga menermukan bahwa fosil Gunflitia ini juga membawa sejumlah kelompok bakteria berbentuk tabung yang lebih kecil, berukuran sekitar 1 mikron yang kemungkinan juga terlibat dalam konsumsi inang mereka.

   Dr. Wacey berkata: "analisis geokimia saat ini telah menunjukkan bahwa aktivitas berbasis sulfur dari bakteria dapat dideteksi hingga 3,5 miliar tahun yang lalu seperti yang kami laporkan pada jurnal Nature Geoscience pada tahun 2011. Sementara itu fosil Gunflint memiliki usia hanya sekitar setengah dan fosil tersebut juga menjadi bukti bahwa bakteria semacam itu berkembang biak dengan sangat baik pada masa itu sehingga mereka memiliki banyak pilihan terhadap apa yang mereka makan."

ScienceDaily


Read More...

Menjadi Technopreneur Membangun Indonesia

Abi Sofyan Ghifari | Monday, April 29, 2013 |


Ilustrasi: Tony Stark a.k.a Iron Man adalah seorang technopreneur.
Sumber gambar: http://rubenlicera.com/ 

    Saya tak meragukan bahwa sebagian besar dari Anda mengenal sosok di atas. Robert Downey Jr menempatkan dirinya sebagai salah satu artis Hollywood paling terkenal di dunia setelah memerankan Tony Stark sekaligus Iron Man dalam film trilogi Iron Man dan The Avenger. Lalu apa hubungan Iron Man dengan judul artikel ini? Saya yakin Anda dapat menebaknya. Ya, Tony Stark sebagai pemilik Stark Industries dalam film tersebut adalah salah satu contoh seorang technopreneur.

   Apa yang pertama kali terlintas di benak Anda ketika mendengar atau membaca istilah "technopreneur" dan "technopreneurship"? Bagi Anda yang belum familiar dengan istilah kewirausahaan atau entrepreneurship mungkin akan bertanya-tanya. Tetapi bagi Anda yang cukup familiar atau setidaknya pernah mendengar istilah tersebut, saya yakin Anda dapat menduga apa yang dimaksud dengan technopreneur dan technopreneurship.

    Ya, seperti namanya technopreneur memang merupakan gabungan dua kata dalam bahasa Inggris, yaitu technology dan entrepreneur. Istilah ini secara harfiah berarti wirausahawan yang menggunakan teknologi tidak hanya sebagai basis produk tetapi juga terintegrasi dan menjadi elemen kunci dalam berbagai aspek bisnisnya untuk meningkatkan performa produk dan layanan. Mungkin contoh yang cukup tepat untuk menggambarkan technopreneur dan technopreneurship saat ini adalah perusahaan-perusahaan teknologi global berikut: Microsoft, Apple, Google, Facebook, Amazon, dan Twitter. Siapa yang tidak kenal mereka saat ini? Mereka merajai produk teknologi komputer dan internet dunia serta dirintis dari nol oleh para pendiri yang memiliki visi jauh ke depan dengan memutuskan menjadi seorang technopreneur.

   Definisi di atas juga mungkin cukup relevan dengan ilustrasi di awal artikel ini yang menampilkan sang superhero favorit dekade ini, Tony Stark atau Iron Man yang memiliki bisnis pengembangan teknologi baju pelindung, senjata, energi, dan lainnya pada film tersebut. Iron Man dapat menjadi contoh yang cukup representatif sebagai technopreneur, meski technopreneur tentu tak harus seperti Iron Man.. :)

   Apabila technopreneur merupakan orang atau pribadi yang melakukan kewirausahaan, maka tentu technopreneurship merupakan segala hal yang berkaitan dengan kewirausahaan berbasis teknologi, baik itu proses, sistem, pihak yang terlibat, produk, konsumen, pelayanan, peraturan, media promosi, hingga faktor-faktor lain yang diperlukan pada kewirausahaan berbasis teknologi. Selain technopreneur beberapa istilah lain yang termasuk ke dalam kategori wirausahawan yang lebih spesifik antara lain adalah creativepreneur (wirausahawan kreatif) dan sociopreneur (wirausahawan sosial).

     Istilah technopreneur sendiri cukup menjadi sorotan utama pada dekade ini, meski telah diperkenalkan sejak tahun 1987. Di tengah kebutuhan masyarakat Indonesia yang mendesak akan lahirnya para wirausahawan (entrepreneur) baru yang mampu menciptakan lapangan kerja, serta perkembangan pesat dunia teknologi informasi dan komunikasi, menjadikan pemahaman mengenai pentingnya teknologi sebagai aspek krusial dalam bisnis oleh para entrepreneur baru sangat diperlukan. Bagaimana tidak, teknologi komunikasi dan informasi yang berkembang pesat saat ini seperti ponsel cerdas (smartphone), gadget, serta internet yang dapat diakses secara bebas dimanapun dan kapanpun memungkinkan kita mengakses beragam informasi dari seluruh dunia secara real-time. Fakta ini tentu juga dapat dimanfaatkan menjadi keuntungan besar oleh para entrepreneur muda untuk mempromosikan dan mengembangkan bisnis mereka secara mudah, cepat, dan tidak memakan banyak biaya yang tentu sangat diperlukan para entreprenur yang tengah merintis bisnis. Hal ini kemudian berpotensi meningkatkan taraf hidup masyarakat dan juga perekonomian bangsa yang merupakan cita-cita kita bersama sebagai bangsa Indonesia.

    Anda mungkin memiliki definisi, opini, deskripsi, maupun pengalaman tersendiri mengenai technopreneur. Saya pun mengalami hal yang serupa, sehingga pada artikel ini saya tidak akan membahas beragam hal mengenai technopreneur dari apa yang tertulis di dalam kamus, ensiklopedia, teori-teori, buku, maupun jurnal ilmiah, tetapi saya akan mengulas technopreneur berdasarkan pengalaman dan pengamatan saya. Semoga saya dan Anda dapat berbagi pengalaman dan pendapat seputar dunia technopreneur sehingga dapat saling menambah wawasan, memperkaya ilmu, dan menjadi masyarakat Indonesia yang paham dalam menggunakan dan membangun teknologi serta menjadi seorang technopreneur dan membangun Indonesia di masa depan.. :)

    Perkenalan saya dengan istilah technopreneur bermula saat melihat publikasi suatu event seminar dan workshop mengenai technopreneur di kampus saya, Universitas Indonesia. Seminar dan workshop pertama di UI yang membahas mengenai technopreneurship tersebut diselenggarakan langsung oleh Direktorat Kemitraan dan Inkubator Bisnis UI bekerja sama dengan Wira Muda UI, suatu organisasi kemahasiswaan yang fokus di bidang entrepreneurship mahasiswa. Acara tersebut dipublikasikan secara masif via media jejaring sosial Twitter dan Facebook dan begitu saya melihat tweet mengenai acara tersebut tanpa ragu lagi saya langsung mendaftar. Acara itu ternyata memang ditujukan untuk mahasiswa dari rumpun ilmu sains dan teknologi yaitu Fakultas MIPA, Fakultas Teknik, dan Fakultas Ilmu Komputer serta dirancang untuk memberikan pemahaman lebih mengenai technopreneurship yang dapat dikembangkan oleh para mahasiswa dari rumpun ini.

   Sesi seminar berlangsung dengan sangat menarik, atraktif, interaktif dan dapat membuat saya memahami lebih jauh mengenai technopreneurship. Para pembicara adalah technopreneur yang merupakan pionir dan mumpuni di bidangnya masing-masing sehingga kami dapat mendengar secara langsung bagaimana pengalaman mereka saat awal merintis usaha tersebut hingga menjadi besar dan terkenal seperti sekarang ini. Technopreneurship ternyata tidak hanya mengenai basis teknologi yang kuat sebagai produk yang saat ini sedang sangat berkembang pesat, tetapi juga mengenai penggunaan teknologi terkini dalam beragam aspek kewirausahaan untuk meningkatkan performa bisnis. Penggunaan teknologi tersebut antara lain adalah untuk desain produk yang inovatif dan solutif, perancangan harga, pembuatan website atau blog yang efektif, strategi promosi dan pemasaran, maksimalisasi penggunaan social media, manajemen waktu dan SDM, hingga perancangan proposal dan presentasi.

   Untungnya saya tidak terlalu asing dengan bahasan yang mengarah kepada entrepreneurship tersebut. Hal itu dikarenakan saya pernah mengambil mata kuliah pilihan Manajemen dan Kewirausahaan saat di tingkat pertama kuliah. Ya, meskipun saya kuliah di jurusan kimia, faktanya mata kuliah tersebut merupakan mata kuliah pilihan luar bidang dengan peminat paling banyak karena paling menarik dan menambah wawasan kewirausahaan. Dosen saya saat itu juga seorang technopreneur yang bergerak di bisnis pendidikan sains dan teknologi untuk anak usia dini hingga sekolah dasar. Saya pun memiliki pengalaman menarik saat mengikuti kuliah ini yaitu di saat business plan saya menjadi juara di antara peserta kuliah lainnya. Ternyata, ide saya saat itu untuk membuat distro (distribution store) yang menyediakan pakaian bertema sains dan teknologi dianggap paling menarik dan dapat direalisasikan dengan baik.

    Hari selanjutnya berlanjut ke sesi workshop yang menurut saya sangat interaktif dan inspiratif. Kami diminta untuk membuat focus group yang berisi lima orang minimal dari tiga fakultas berbeda (karena hanya tiga fakultas yang diperbolehkan mengikuti acara tersebut). Kemudian kami diminta untuk membuat suatu desain produk beserta rancangan harga, strategi pemasaran, struktur organisasi, hingga simulasi presentasi di depan investor. Sangat menarik, hal ini belum pernah saya alami sebelumnya jadi merupakan pembelajaran yang baik bagi saya dan seluruh peserta workshop.

   Saya dan keempat orang teman kelompok saya (satu dari FMIPA, satu dari FT, dan dua dari Fasilkom) sepakat untuk berbisnis aplikasi mobile game yang dapat diunduh dari berbagai smartphone seperti Android, BlackBerry, dan iPhone. Game tersebut kami rancang juga untuk memperkenalkan dongeng, fabel, dan legenda dari Indonesia yang sebenarnya banyak mengandung nilai-nilai moral yang baik tetapi saat ini sudah dilupakan oleh kebanyakan anak-anak Indonesia yang sudah telalu fokus pada gadget yang mereka miliki. Berangkat dari permasalahan itulah kami memiliki ide untuk menghadirkan game ini. Game yang tidak hanya seru dan interaktif, tetapi juga edukatif. Saya pun bertindak sebagai presenter yang memperkenalkan produk kami pada "calon investor" pada saat simulasi berlangsung. Meski tidak keluar sebagai pemenang, kelompok kami termasuk salah satu kelompok favorit dengan "dana investasi" terbanyak. Betapa sangat berharganya pengalaman saya saat itu.

  Berdasarkan pengalaman-pengalaman saya mengenai technopreneur tersebut, saya dapat menarik dan merangkum beberapa pelajaran yang mungkin berguna bagi saya dan Anda yang ingin, sedang, atau bahkan telah merintis usaha sebagai seorang technopreneur. Semoga hal-hal ini dapat menginspirasi kita semua.. :)

# Berangkat dari kebutuhan masyarakat

   Hampir seluruh produk berbasis teknologi yang sangat terkenal dan banyak dibeli saat ini adalah yang berangkat dari kebutuhan masyarakat. Mobil, motor, telepon seluler, televisi, internet, provider seluler, social media, beragam produk elektronik, hingga beragam gadget berawal dari kebutuhan masyarakat akan kemudahan bertransportasi, berkomunikasi, dan bersosialisasi serta gaya hidup. Jika ingin menjadi seorang technopreneur berangkatlah dari kebutuhan dan permasalahan masyarakat sehingga kita dapat memiliki ide atau gagasan tertentu untuk memberikan solusi melalui teknologi yang dapat kita kembangkan menjadi suatu business core. Hal ini pun menjadikan produk kita diminati masyarakat sehingga kita dapat terus mengembangkannya menjadi lebih baik lagi.

# Perkaya diri dengan ide dan inspirasi

   Di era yang sangat kompetitif ini, kita diharuskan memiliki ide yang brilian untuk memulai bisnis dan mempertahankannya. Produk yang kita hasilkan tidak perlu baru, tetapi harus inovatif dengan memodifikasi sesuatu yang sudah ada dan menjadikan fungsinya jauh lebih baik atau beragam. Ide dan inspirasi memang terkadang dapat datang dengan sendirinya, namun cara terbaik adalah dengan mendatangkan ide dan inspirasi itu sendiri. Bagaimana caranya? Tentu sangat mudah. Perkaya wawasan dengan membaca, mengikuti seminar atau workshop mengenai technopreneurship, atau berbincang dengan para technopreneur secara langsung. Hal-hal tersebut kita sadari atau tidak akan menimbulkan suatu ide orisinal yang dapat kita kembangkan sebagai bisnis kita sendiri.

# Rencanakan dengan matang akan tetapi lakukan dengan cepat

   Seorang technopreneur harus mampu menganalisis pasar, mendesain suatu produk, membuat strategi pemasaran, menentukan harga dan target pasar, menyusun struktur organisasi, serta memegang tanggung jawab terhadap seluruh proses bisnis. Kemampuan itulah yang harus dimiliki entrepreneur secara umum dalam membuat suatu rancangan bisnis (business plan). Tetapi tentu rencana itu tidak akan menjadi kenyataan apabila tidak diwujudkan. Jadi, mulailah secepatnya atau bahkan sekarang juga. Mulailah dari hal-hal yang mudah dan sederhana seperti mencari inspirasi, mendesain produk atau membuat strategi promosi.

# Tambahkan value pada produk

   Produk yang kita hasilkan bisa saja sama persis dengan wirausahawan lain. Tetapi ada satu hal yang membuat suatu produk tertentu lebih disukai dan lebih laris dibandingkan produk lainnya yang serupa, yaitu nilai (value). Value yang kita dapat tambahkan kepada produk kita tentunya beragam dan sesuai dengan inovasi dan kreativitas masing-masing technopreneur. Perlu diingat, value yang dijelaskan di sini bukanlah mengenai harga (price) melainkan suatu nilai tambah. Sebagai contoh kita dapat menambahkan suatu value pendidikan sains dan teknologi pada mobile games yang kita kembangkan dan kita jual di beragam application store. Hal tersebut tentu akan menambah nilai jual produk, terutama kepada masyarakat yang menginginkan game yang tidak hanya sekedar menghibur tetapi juga edukatif.

   Tentu ada sangat banyak pelajaran yang bisa saya bagi dari beragam pengalaman menarik saya seputar dunia technopreneurship. Tetapi untuk saat ini saya rasa beberapa hal yang sudah saya rangkum dalam artikel ini mampu mewakili kiat-kiat yang dapat saya dan Anda implementasikan demi meraih impian dan cita-cita menjadi seorang technopreneur. Sungguh banyak hal yang dapat kita raih dengan menjadi technopreneur. Tidak hanya untuk kepuasan atau meraih kesuksesan pribadi kita semata. Tetapi dengan menjadi seorang entrepreneur kita juga turut berkontribusi meningkatkan taraf hidup masyarakat Indonesia dengan menghasilkan lapangan pekerjaan dan membangun perekonomian sekaligus teknologi Indonesia.  

Menjadi technopreneur membangun Indonesia!!

Tulisan ini berhasil menjadi juara ketiga dalam Blog Competition Technopreneurship: "Write Your Idea to Build Technopreneurship for Indonesia" 2013 yang diselenggarakan oleh Master of Business Administration (MBA) Institut Teknologi Bandung (ITB).

Personal Identity
Name  : Abi Sofyan Ghifari
Email  : abi.ghifari@gmail.com

Statement of Disclaimer:
"I hereby declare that my article entitled "Menjadi Technopreneur Membangun Indonesia" is a work of its own and has not been submitted in any form to any competition or social media posting. Sources of information derived or quoted from published and unpublished works from the other authors mentioned in the text. If I am caught doing plagiarism or any other cheating attempt. I am ready for the consequences, as my winning rights are revoked."

Jakarta, April 2013


Abi Sofyan Ghifari


Read More...

Sangkar Protein untuk Melawan Penyakit

Abi Sofyan Ghifari | Sunday, April 28, 2013 |

  Perkembangan dunia medis dan pengobatan saat ini sangat pesat. Hal ini juga dikarenakan perkembangan berbagai ilmu terkait yang juga meningkat pesat. Baru-baru ini, ahli biokimia dari UCLA berhasil merancang protein terspesialisasi yang dapat mengatur diri mereka sendiri untuk membentuk suatu sangkar molekuler yang sangat kecil, ratusan kali lebih kecil dari ukuran sel normal. Kreasi struktur miniatur ini dapat menjadi suatu langkah besar dalam mengembangkan metode penghantaran obat dan bahkan desain vaksin artifisial.

  Desain sangkar molekuler ini menggunakan pemodelan komputer dimana dua molekul protein yang berbeda dilihat kemungkinannya untuk dapat menyatu membentuk sangkar tiga dimensi yang sempurna. Pemodelan ini sekilas serupa dengan memasang potongan puzzle. Apabila dua molekul protein acak disatukan, maka kemungkinannya membentuk jaringan yang stabil akan sedikit dan akan terbentuk lebih banyak jaringan yang irreguler. Untuk menentukan geometrinya diperlukan pengetahuan mengenai sisi rigid dari protein agar dapat membentuk jaringan stabil.

  Sangkar protein ini dapat didesain memiliki rongga sehingga dapat diisi dengan molekul obat. Sangkar ini diharapkan dapat dimanfaatkan pada teknologi penghantaran obat yang menuju target sel yang spesifik seperti sel tumor atau kanker. Sangkar ini juga dapat didesain agar memiliki pori-pori yang cukup agar senyawa obat dapat keluar saat mendekati sel target.

  Fungsi lain sangkar protein yang tak kalah hebat adalah sebagai vaksin artifisial. Vaksin biasanya diperoleh dari partikel virus/virion yang telah dilemahkan (attenuated vaccine). Virion yang telah dilemahkan ini kemudian diinjeksikan ke dalam pembuluh darah sehingga tubuh dapat membentuk imunitas terhadap partikel virus tersebut. Meski efektif, kelemahan metode ini adalah sulitnya melemahkan virus karena tingkat bahayanya sehingga sangat berisiko untuk digunakan pada manusia. Untuk itu saat ini telah dicari solusi lainnya untuk melawan virus yaitu dengan menggunakan vaksin buatan/artifisial.

  Vaksin artifisial merupakan vaksin yang bukan berasal dari partikel virus/virion tetapi berasal dari molekul lain dengan struktur yang serupa. Sangkar protein ini dapat dimanfaatkan sebagai vaksin artifisial dengan struktur yang menyerupai partikel virus yang asli. Sangkar protein ini dapat mengelabui sistem imunitas tubuh sehingga menganggapnya sebagai partikel virus yang sedang menyerang sel tubuh. Tentu metode ini tidak selalu berhasil, tetapi struktur sangkar protein yang kecil dan menyerupai struktur virus dapat menghasilkan respon imunitas yang bahkan dapat melebihi respon terhadap vaksin konvensional.

  Untuk penggunaannya pada penghantaran obat, sangkar protein sebaiknya berasal dari protein manusia atau protein yang menyerupai struktur protein pada manusia. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi penghantaran obat karena sistem imun tidak menganggapnya sebagai protein asing yang harus dihancurkan.

  Desain molekul protein dengan struktur dan geometri yang diinginkan dapat terlebih dahulu menggunakan pemodelan komputer, yang berarti membutuhkan pengetahuan bioinformatika terutama mengenai sekuens asam amino dan folding protein. Realisasi metode ini membutuhkan penelitian lebih lanjut di bidang biologi struktural, bioinformatika, dan teknik biomedis. Tentu kita berharap metode ini segera terealisasikan agar berbagai permasalahan di bidang medis dapat teratasi, terutama permasalahan drug delivery dan vaksin.

Read More...