Google Ghifari's Sketchbook - Learn Share Inspire

#02 – Book Hunting

Project kedua dari #Project22 yang telah saya mulai mungkin sudah tidak asing lagi: berburu buku! Setelah hari ulang tahun, beberapa buku telah saya beli dan baca meskipun belum seluruhnya selesai. Mungkin ini bisa menjadi catatan awal mengenai buku-buku tersebut.

Buku pertama yang saya beli setelah 021213 adalah "Sherlock Holmes: The Complete Novels and Stories. Volume 1" pada tanggal 7 Desember 2013. Judulnya sudah sangat jelas. Buku ini merupakan kumpulan lengkap seluruh novel berserta cerita tentang detektif imajinatif yang paling terkenal di dunia karangan Sir Arthur Conan Doyle.

Saya merasa sangat beruntung menemui buku ini di jejeran rak Periplus Pondok Indah Mall. Buku terbitan Bantam Classic ini ternyata memiliki harga yang sangat terjangkau untuk ukuran buku berbahasa Inggris. Buku ini memuat novel dan cerita Sherlock Holmes seperti "A Study in Scarlet", "The Sign of Four", Adventures of Sherlock Holmes", "Memoirs of Sherlock Holmes", dan juga "The Return of Sherlock Holmes". Dan untuk semua itu, harga buku ini hanya Rp 75.000!! Maka tanpa pikir panjang, buku ini langsung menjadi target pembelian saya dan sampai sekarang masih dalam tahap membacanya.

Lima hari setelahnya, sehabis saya work out di fitness center, saya pergi ke Lotte Mart Kuningan City yang pada niat awalnya untuk membeli beberapa kebutuhan. Namun ternyata di dalamnya ada sebuah stand Gramedia khusus buku-buku broken yang dihargai sangat miring, yaitu hanya seharga Rp 15.000 dengan bonus sebuah buku setelah pembelian dua buku. Atau dengan kata lain tiga buah buku hanya dihargai Rp 30.000.

Lagi-lagi tanpa pikir panjang saya langsung mencari buku-buku yang masih layak untuk dibeli dan dibaca hingga akhirnya terbelilah keenam buku (gambar di samping) dengan harga total hanya Rp 60.000!! Saya merasa sangat beruntung berjumpa dengan stand tersebut. Buku-buku tersebut adalah "Main Hati" karya Hilbram Dunar, "The 3rd Alternative" karya Stephen R. Covey, "Tipping Point" dan "Outliers" karya Malcolm Gladwell, "Chicken Soup for the Soul: Think Positive" dan "If Only They Could Talk" karya James Herriot.

Buku-buku ini secara umum masih sangat baik kondisinya. Kondisi broken hanya terlihat sepintas di beberapa buku, seperti kondisi sampul atau halaman yang sedikit terlipat, terkena noda debu atau tinta, dan tidak lagi bersampul plastik. Overall kondisi buku masih sangat baik dan tidak jauh berbeda dengan buku baru. Bayangkan saja berapa harga totalnya bila saya membeli semua buku tersebut dengan harga aslinya, mungkin bisa sekitar 4-5 kali lipat.

Tetapi sayangnya seminggu setelah membeli buku-buku tersebut, tumpukan buku-buku murah di stand Gramedia itu tidak ada lagi yang menarik minat saya untuk membelinya. Kebanyakan buku-buku bagus telah dibeli. Semoga saja kelak akan ada re-stock buku-buku broken yang masih sangat baik itu.. :)

Dari ketujuh buku tersebut, baru tiga buah yang telah saya baca seluruhnya. Masih ada 15 buku lagi yang harus dibeli dan 19 buku lagi yang harus selesai dibaca untuk mencapai target project!!



Read more...

#16 – Working Out, Burning Fat!!

Suasana fitness center (Kamis, 5 Desember 2013)

Believe me or not, my first accomplished project is ... working out!  Project ini langsung terealisasi tepat di hari ulang tahun saya Senin, 2 Desember lalu. Dan entah kebetulan atau memang takdir, pada hari itu sebuah fitness center yang berdekatan dengan kantor saya sedang mengadakan promo: cukup membayar biaya registrasi dan gratis biaya bulan pertama! Tanpa pertimbangan yang panjang saya langsung mendaftar promo itu.

Hari ini praktis menjadi hari ke-empat saya nge-gym. Melalui project ini setidaknya saya (minimal) dapat rutin membakar lemak dan mencapai tubuh ideal, hehe.. :p

Read more...

#Project22: The Essence of Life


   "I don't know about you, but I'm feeling 22." Penggalan lirik dari lagu '22' Taylor Swift tersebut mungkin sedikit banyak menggambarkan kondisi saya sekarang. Yap, hari ini, Senin 2 Desember 2013, adalah bertepatan dengan 22 tahun lahirnya saya ke dunia. Sudah terlalu banyak hal yang telah terjadi dan juga yang terlewatkan, baik di tahun ini maupun tahun-tahun sebelumnya.

   Waktu memang selalu terasa begitu cepat berlalu dan kita senantiasa berkejar-kejaran dengannya. Kadangkala waktu terasa 'tidak terasa', tidak terasa bertahun telah lewat sejak terakhir kali memakai seragam pramuka, dan kini berpakaian formal sebagai pekerja kantoran, tidak terasa dulu hanya seorang anak ingusan yang hanya mengenal main, dan sekarang menjadi tulang punggung keluarga dengan tanggung jawab yang lebih besar. Waktu memang absurd, seakan semua tunduk padanya meski keberadaannya tak pernah terbukti oleh eksperimen fisika manapun.

   Saya rasa beranjaknya usia saya ke 22 tahun hari ini merupakan momen yang sangat tepat untuk kembali berefleksi, mengintrospeksi dan berdialog dengan diri. Sangat banyak hal buruk yang harus dihilangkan, begitu banyak kesempatan yang mestinya bisa diikuti, dan juga banyak rencana baik dan juga cita-cita yang sebisa mungkin direalisasikan demi tercapainya diri yang seutuhnya. Maka dari itu, terinspirasi dari blog Mahasiswa Berprestasi Nasional tahun 2009, Muchdlir Zauhariy, saya akan merangkum rencana-rencana saya dalam menggapai impian dan cita-cita ke dalam sebuah project personal "#Project22: The Essence of Life".

   Dalam setahun ke depan, blog ini akan dipenuhi serangkaian tulisan mengenai pencapaian saya terhadap project-project tersebut. Setidaknya tulisan-tulisan tersebut akan menjadi komitmen dan selalu mengingatkan saya terhadap rencana dan harapan-harapan yang perlu diperjuangkan. Barangkali selama proses tulis-menulis itu saya akan menjumpai banyak hal yang bisa membuat diri ini menjadi lebih baik dan berarti.

   Inilah 22 project yang akan saya lakukan selama setahun ke depan. Urutan ini tidaklah mencerminkan prioritas.

#01 "My Life Retrosynthesis": A Life Blueprint

#02 "Voracious Reader": Buy and Read 22 New Books

#03 "Biochemist Once More": Learning Chemistry and Biochemistry from Basics
 
#04 "Travel Story Writing": Prose and Poem

#05 "English Mission": Reaching TOEFL Standards for University Application

#06 "A Long Road to Become A PhD": Getting Oversea Post-Graduate Scholarship

#07 "Running Like Wind!": Joining 5K and 10K Marathon Competition

#08 "Popular Science Writer": Writing 22 New Popular Science Articles

#09 "Become A Photography Enthusiast": Learning Photography Basics

#10 "Gadget Freak": New Gadget for Better Photography Experience

#11 "Short Story Writer": One Short Story to Media in A Month

#12 "Foreign Language Learner": Learning Deutsch and Arabic

#13: "The Fast and The Furious": Learning How to Drive Four-Wheel Vehicle

#14: "The Jakarta Secret": Exploring Museums and Historical Sites in Jakarta

#15: "Let's Do Fun!!": Traveling to Exciting Places

#16: "Healthy and Athletic Body": Working Out at Gym!

#17: "Experiencing Art and Culture": Attending Art and Culture Festivals

#18: "Literary Adventure": Attending Ubud Writers and Readers Festival

#19: "Balancing Brain with Music": Learning Guitar and Violin

#20: "A Healthy Way": More Healthy Food, Less Junk Food

#21: "Social Activist": Joining Social Movement

#22: "Stronger Vertical Link": Better Spiritualism


Hope I can achieve all of them!! :D



Read more...

Antara Teknologi dan Evolusi Manusia


"It has become appallingly obvious that our technology has exceeded our humanity."
Albert Einstein

   Kehidupan manusia saat ini, baik kita sadari atau tidak, selalu bersentuhan, berkaitan erat, dan bahkan sangat bergantung kepada teknologi. Teknologi mewarnai hampir seluruh aspek kehidupan manusia, mulai dari komunikasi, informasi, transportasi, ekonomi-bisnis, industri, hingga kehidupan sosial-budaya. Penggunaan teknologi yang begitu luas tersebut tentu menghasilkan dampak dan pengaruh yang luar biasa bagi umat manusia, salah satunya adalah evolusi.

   Sebelum berbicara lebih jauh mengenai pengaruh teknologi pada kehidupan manusia, kita perlu untuk mengetahui makna dari kata ‘teknologi’ itu sendiri. Teknologi terdiri atas dua kata yang berasal dari bahasa Yunani, yaitu techne yang berarti kemampuan, dan logia yang berarti pengetahuan. Secara umum makna dari teknologi adalah pengetahuan mengenai teknik, alat, sistem, atau metode untuk menyelesaikan suatu permasalahan. Pada hakikatnya, teknologi adalah buah pikir manusia yang hadir sebagai jawaban atas berbagai permasalahan yang dihadapi. 

   Teknologi telah hadir dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia semenjak manusia itu sendiri eksis di muka bumi. Penggunaan kapak batu untuk berburu pada zaman batu tua (paleolithicum) jutaan tahun lampau, penemuan metode peleburan dan penempaan tembaga dan perunggu di zaman logam, hingga penggunaan roda pada pembuatan piramida pada zaman Mesir kuno adalah beberapa contoh nyata bahwa teknologi telah melekat di kehidupan manusia sejak lama.

   Salah satu periode paling bersejarah yang kelak akan menentukan dalam perkembangan teknologi hingga saat ini adalah revolusi industri di Inggris. Revolusi industri yang terjadi pada tahun 1760 hingga 1840 mengawali perubahan besar-besaran di bidang industri. Mulai dari industri tekstil, pertambangan, produksi logam dan bahan kimia, penggunaan mesin uap, hingga pembuatan jalan dan jalur kereta. Tidak hanya Inggris tetapi juga Eropa dan seluruh dunia. 

   Bahkan pengaruh revolusi industri pun masih terasa hingga sekarang. Penggunaan mesin canggih di berbagai pabrik produksi, moda transportasi modern seperti mobil dan kereta api, hingga teknologi produksi beragam bahan kimia. Namun ternyata tidak hanya dampak positif, revolusi industri juga berperan menciptakan suatu kelas sosial baru, yaitu kelas buruh yang juga menjadi bagian tak terpisahkan dari evolusi sosial manusia. 

   Gelinding roda teknologi seakan tak dapat dihentikan sejak saat itu. Berbagai ledakan inovasi dan kreativitas para penemu di seluruh dunia menciptakan wajah teknologi hingga seperti dewasa ini. Penemuan lampu pijar oleh Thomas Alva Edison, radio oleh Guglielmo Marconi, telepon kabel oleh Alexander Graham Bell, dan televisi oleh John Logie Baird di awal abad ke-20 adalah beberapa penemuan yang akan selalu terkenang dalam pikiran kita yang juga menjadi tonggak sejarah berdirinya era teknologi modern.

   Abad 20 pun segera menjadi abad teknologi modern. Bahkan teknologi yang hadir pada setiap dekade pada abad ini memiliki perbedaan yang cukup signifikan dengan dekade sebelumnya. Pada periode ini, para penemu, ilmuwan, dan praktisi teknologi berlomba-lomba melahirkan berbagai produk teknologi mencengangkan yang dapat kita nikmati hingga saat ini. Tiga di antaranya adalah penemuan yang berdampak sangat besar terhadap dunia informasi dan komunikasi hingga menjadi sebuah fenomena sampai saat ini: komputer, telepon selular (ponsel), dan internet.

   Komputer merupakan salah satu penemuan terbesar di abad 20. Sejumlah perusahaan pengembang dan penemu visioner di berbagai negara saling berkontribusi dalam menciptakan algoritma, semikonduktor, mikroprosesor, program, hingga monitor dan keyboard sehingga membentuk komputer seperti yang kita gunakan saat ini. Raksasa teknologi seperti Microsoft, Apple, dan IBM pun memiliki peranan besar dalam pengembangan produk komputer.

   Produk teknologi ini memiliki fungsi dan dampak yang sangat besar bagi manusia. Personal computer (PC) desktop, laptop, notebook, netbook, maupun PC tablet seakan telah menjadi benda wajib, tidak hanya bagi perusahaan tetapi juga sekolah, universitas, perpustakaan, rumah sakit, dan juga berbagai profesi yang menuntut penggunaan komputer. 

   Pengolahan data, penyajian informasi, penyuntingan gambar dan video, membuat dan mendengarkan musik, bahkan hingga penelitian ilmiah dapat dilakukan melalui komputer. Kehebatan komputer yang multifungsi ini tentu menjadi salah satu hal yang mengubah paradigma manusia terhadap teknologi. Hingga saat ini diperkirakan sekitar 900 juta orang telah menggunakan komputer.

   Produk teknologi besutan abad 20 selanjutnya adalah telepon seluler (ponsel) atau telepon jinjing (handphone). Melanjutkan inovasi luar biasa yang dilakukan oleh Graham Bell atas penemuan telepon kabelnya, John F. Mithcell dan Martin Cooper dari perusahaan ponsel ternama Motorola berhasil mendemonstrasikan penggunaan ponsel pertama di dunia pada tahun 1973.

   Pada awalnya telepon nirkabel buatan mereka berbobot sekitar satu kilogram dan hanya dapat melakukan panggilan telepon. Namun pada perkembangannya, ternyata ponsel mengalami evolusi yang cepat dan signifikan. Di akhir abad ke-20 hingga awal abad ke-21, ponsel tidak hanya digunakan untuk melakukan panggilan, tetapi juga untuk mengirim pesan singkat (SMS), pesan multimedia (MMS), bermain game, memutar musik, hingga mengambil gambar dari kamera. 

Evolusi telepon seluler
   Kini, pada dekade kedua di abad 21, penggunaan ponsel cerdas atau lebih dikenal sebagai smartphones semakin marak. Smartphones dapat melakukan berbagai hal layaknya komputer dalam ukuran sebuah ponsel. Pengguna smartphone juga dimanjakan oleh layar sentuh (touchscreen) yang lebar, kualitas suara yang jernih, kamera resolusi tinggi, konektivitas internet juara, hingga variasi aplikasi yang menggiurkan. 

   Saat ini pengguna ponsel diperkirakan mencapai enam miliar pengguna atau setara dengan 87% dari total populasi dunia. Hal ini membuat ponsel telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari gaya hidup dan kehidupan sosial-budaya manusia sehari-hari. Ponsel menjadi salah satu benda yang wajib dibawa kemanapun, kapanpun, dan pada kesempatan apapun. Ponsel pun dapat dikatakan menjadi salah satu faktor yang menyebabkan evolusi perilaku manusia.

   Produk teknologi yang diciptakan pada abad 20 dan tak kalah fenomenal adalah internet yang merupakan akronim dari international network atau jejaring internasional. Berawal dari ide untuk menghubungkan komputer di seluruh dunia, organisasi ilmu pengetahuan Eropa CERN memulai instalasi dan operasi penggunaan internetworking pada berbagai sistem komputer, workstation, komputer pribadi, dan juga sistem akselarator di Eropa pada tahun 1984-1988. 

   Penggunaan metode internet pun menjamur setelah itu. Internet dengan segera menjadi penghubung yang luar biasa antar komputer, ponsel, basis data, dan sistem jejaring di seluruh dunia. Kemajuan pesat internet pun telah mengubah pandangan kita terhadap komunikasi dan informasi. Salah satu contoh nyata yang sehari-hari kita temui adalah berkembangnya mesin pencari seperti Google yang membuat informasi sangat mudah untuk ditemukan. Selain itu, bersosialisasi di dunia virtual via jejaring sosial seperti Twitter dan Facebook, mengobrol lewat aplikasi messenger dan video call, berbagi ide dan gagasan di blog, hingga bertransaksi bisnis melalui internet banking sudah tak lagi asing bagi kita. 

   Ketiga produk teknologi tersebut telah membentuk dunia seperti saat ini. Dunia yang dinamis dimana informasi dari seluruh penjuru bumi dapat diakses dengan cepat dan mudah, komunikasi dapat dilakukan meski terpisah jarak puluhan ribu kilometer, transaksi bisnis dan ekonomi secara real time, serta berbagai ide dan gagasan tersimpan di tiap halaman web. Mungkin tidak pernah terbayangkan sebelumnya oleh para pendahulu kita bahwa semua ‘keajaiban’ tersebut bisa terjadi karena berkembangnya teknologi. 

   Teknologi telah menjadi bagian penting dalam setiap aspek kehidupan manusia. Teknologi yang merupakan hasil pemikiran manusia pada akhirnya akan mengubah dan menjadi bagian dari evolusi manusia itu sendiri. Beberapa contoh nyata sebagian besar telah kita alami sendiri seperti misalnya social networking yang dapat menjadi faktor evolusi sosial-budaya, transaksi internet yang menjadi tonggak evolusi ekonomi, serta penggunaan smartphone yang menjadi faktor evolusi perilaku dan psikologis manusia. 

   Begitupun dengan pesan singkat dan chatting dapat mengevolusi dunia linguistik, penggunaan surat elektronik yang mengurangi penggunaan kertas secara signifikan, hingga berbagi ide dan karya pikir di web yang dapat merubah tatanan ideologi dan cara berpikir. Dapat dibayangkan, betapa besar dampak, baik positif maupun negatif, dari penggunaan teknologi yang dekat dengan kehidupan kita sehari-hari.

   Bagaimanapun, penemuan teknologi adalah salah satu pencapaian terbesar umat manusia yang tetap harus digunakan secara bijak. Selama manusia masih ada di muka bumi, teknologi akan terus berkembang, berinovasi, dan menciptakan berbagai kemudahan yang mungkin tidak pernah kita duga sebelumnya, serta menjadi bagian dari evolusi kehidupan manusia yang akan terus menerus berlangsung.

 Follow @abighifari untuk berkomunikasi lebih lanjut :) 


Read more...

You Are One of Google Books Contributor!

   A few days ago, I got a news from a friend of mine in Twitter that we can download e-books from Google Play Store for free! I was very excited about this, so without any further due I downloaded several epic novels such as "Les Miserables", "The Three Musketeers", "Wuthering Heights", "Frankenstein", and even "Romeo and Juliet". I also downloaded Google Play Book to read them and made my own e-library in my tablet.

My collection on Google Play Book
   Based on my own rough observation, I might conclude that the typical books that can be downloaded in Google Play are fairly old literature books which were published before the beginning of twenty-first century. Maybe, this can be a fair reason why those books are available for free.

   Then I am wondering and questioning myself: are there any other reasons why all of those amazing books are free? What if I say that you are one of contributor that bring those old books to become available for free in digital format?

   However, those free books reminded me of a TED talk by Luis von Ahn of Carnegie Mellon University in 2011 (you may see the video below) about his project, "Captcha" and "Re-Captcha". I assumed that all of you are fairly familiar with those terms. Yeah, you must have found it everywhere across the world wide webs, email services, blogs, internet forums or even while you add your Facebook friend or make a new Twitter account. 

   Basically, "Captcha" is a service which prevents bot activity by providing combination of words, letters, or numbers that must be correctly inputted by users to done some internet activities. This task cannot be done by computers yet, so it may prove that you are a human, not a bot. Thus it can secure the websites, reduce spams, preventing fraud, etc.


   Since the invention, "captcha" were used widely on the internet for the reason of internet security. But, most of internet users found this as an annoying service. For your information, roughly there are 200 million captchas typed everyday around the world and each captcha 'wasted' 10 seconds of your time, every time you typed it. So, essentially around 555 thousands hours of human time are 'wasted' every day because we typed those captchas.

   Based on those facts, Luis von Ahn as the inventor of "Captcha" started feeling bad about this and questioning himself 'is there any way we can use this effort for good of humanity?' Then he came up with a new project "Re-Captcha", as a bright and brilliant solution to bridge internet security problem and book digitization project!

   Like I mentioned before, this captcha cannot be solved by computers yet. So for those 10 seconds of our 'wasted' time to type captcha, basically we are doing something amazing that computer cannot yet do. The idea of "Re-Captcha" itself is the effort of you to type captcha can be used to help computers recognizing words or characters in the paper of old books, newspaper, or other documents which cannot be read or deciphered by computers due to their degraded ink and paper. The scanned images of those papers that contain text were split into words. And then these words are used as captcha images.


    So, every time you solve "Re-Captcha" words, you are not only proving that you are a human, but also contributing to digitize human knowledge. Not surprisingly, Google has acquired "Re-Captcha" from around four years ago to support their own project like Google News and Google Books. And now the answers for my questions above are clearly seen. Literally, without our consideration, we are all contributing to digitize those free books every time we type captcha. Currently, we may see that the projects seems quite well and bring something good for humanity, free books.


Read more...

Moon Over My Obscure Little Town


    There are too many interesting, wonderful and heart-touching stories in Andrea Hirata's novel "Padang Bulan" (Moon Field) that I never get bored to read it again and again. But there is a fragment of story in this novel that could make me moved to rewrite it in this blog. It is about a wonderful poetry wrote by Andrea himself.
    One day Andrea was asked by his friend, Enong (Maryamah binti Zamzami) who has a literature homework from her English course.  Andrea agreed to help her, and then he started to tell his true feelings through words, as a representation of his heartache, his jealousy, his regret, and his fear to lose somebody that he loved.

Moon Over My Obscure Little Town

Stranger
Stranger
Someone stranger

Standing in a mirror
I can't believe what I see
How much love has been taken away from me

My heart cries out loud
Everytime I feel lonely in the crowd
Getting you out of my mind
Like separating the wind from the cloud

Afraid
Afraid

I'm so afraid
of losing someone I never have
Crazy, oh, crazy
Finding reasons for my jealousy

All I can remember
When you left me alone
Under the moon over my obscure little town
As long as I can remember
Love has turned to be as cold as December

The moon over my obscure little town
The moon over my obscure little town

Photo by: StudioUnderTheMoon 

Read more...

Create Your Academic Plan


   Sekitar setahun yang lalu saya diminta menjadi pembicara pada sebuah acara talkshow ringan yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Departemen Kimia UI. Acara tersebut bertajuk "Tetrahedral" dan (kalau saya tidak salah) diselenggarakan dua kali dalam setahun. Saya pernah menghadiri acara ini beberapa kali selama duduk di bangku kuliah. Topik yang didiskusikan beragam dan juga pembicaranya. Tetapi yang istimewa pada saat itu adalah karena saya tidak duduk di bangku peserta, melainkan di depan sebagai pembicara. Berikut adalah slide presentasi yang saya bawakan pada waktu itu.
   Topik acara "Tetrahedral" saat itu adalah mengenai rencana akademis dan organisasi semasa perkuliahan. Topik ini memang ditujukan untuk mahasiswa tingkat awal agar dapat merencanakan kegiatan akademis sekaligus organisasi dengan baik. Bagaimanapun juga sukses dalam berencana sama dengan merencanakan kesuksesan. Sehingga merencanakan berbagai kegiatan akademis selama kuliah menjadi sangat penting untuk menggapai kesuksesan akademis. Ada beberapa kiat yang saya sampaikan pada talkshow tersebut. Berikut beberapa di antaranya.

1. Ketahui informasi akademik
   Kiat pertama ini adalah langkah yang paling krusial dalam menentukan rencana akademis selama masa perkuliahan. Dengan mengetahui kegiatan perkuliahan, mata kuliah, jadwal dan materi kuliah, serta berbagai hal lainnya yang terkait dengan dunia perkuliahan tentu membuat rencana yang dibuat dapat diimplementasikan dengan baik.

2. Ketahui minat dan prioritas
   Mengetahui minat serta prioritas kita selama duduk di bangku kuliah merupakan kiat penting selanjutnya. Dengan mengetahui minat dan prioritas, kita dapat mematangkan rencana kita dalam melakukan kegiatan yang benar-benar kita minati dan prioritaskan.

3. Tentukan waktu kelulusan
   Tidak masalah apakah kita sebagai mahasiswa ingin lulus 3,5 tahun, 4 tahun atau bahkan 6 tahun. Yang terpenting adalah pertimbangan apa yang ada di baliknya. Kegiatan apa yang akan kita lakukan selama di masa perkuliahan sebelum kelulusan. Karya dan kontribusi seperti apa yang ingin kita hasilkan. Hal itu tentu membuat waktu perkuliahan kita menjadi jauh lebih bermakna.

4. Tuliskan rencana
   Menulis rencana yang telah dibuat menjadi sarana yang baik untuk senantiasa mengingatkan diri kita agar setidaknya menjalankan aktivitas sesuai rencana, atau bahkan lebih baik. Rencana yang telah ditulis juga dapat menjadi semacam checkerboard aktivitas-aktivitas yang akan kita lakukan dan juga yang belum atau telah kita lakukan. Kiat ini adalah cara yang baik untuk memulai menjalankan aktivitas berdasarkan rencana yang telah dibuat.

Untuk lebih lengkap bagaimana membuat perencanaan akademis yang baik silakan mengunduh e-book "Create Your Academic Plan!!" yang telah saya buat. Silakan klik di sini untuk mengunduh.

Semoga bermanfaat dan menginspirasi!! :)

Untuk pertanyaan lebih lanjut seputar dunia akademis, follow @abighifari :)
Read more...

Be Yourself


Always be yourself. Never try to hide who you are.
The only shame is to have shame. Always stand up for what you believe in.
Always question what other people tell you.
Never regret the past. It's a waste of time. There's a reason for everything.
Every mistake, every moment of weakness, every terrible thing that has happened to you.
Grow from it.
The only way you can ever get the respect of others is when you show them that you respect yourself and most importantly, do your thing and never apologize for being you..

By Anonimous 

Photo by DeviantArt
Read more...

Wahai Kata



Betapa ingin aku menumbuhkanmu
Wahai kata..
Termangu aku, menatapi keajaiban dirimu

'Kan kupelihara engkau
dari bibit-bibit aksara 
yang kutanam di tanah jiwa

Kusirami engkau 
dengan seguci penuh selaksa ilmu
Kupupuki dengan berupa-rupa pengalaman

Hingga akhirnya kau 'kan tumbuh
Meninggi
Bercabang dan beranting sana-sini

Wahai kata..
Alangkah inginnya aku
Melihatmu menembusi benak pikir khalayak
Meluapinya dengan pijar semangat yang menyala-nyala

Betapa bahagianya diriku
Jika mendapatimu mengembuskan aura hidup
Ke dalam setiap sanubari yang mengejamu lamat-lamat

Sungguh besar dambaku
Bila engkau menjadi pohon yang meneduhi
Menaungi jiwa-jiwa yang dingin berselimut kabut

Semoga..
Semoga engkau mendengar harap sederhanaku ini
Wahai kata..

Kuningan-Pondok Labu, Juni 2013


Read more...

Six Thinking Hats

   "Six Thinking Hats" merupakan sebuah buku sekaligus metode yang diciptakan oleh Dr. Edward de Bono, seorang pakar psikologi dan konsultan kelahiran Malta. Sejatinya buku ini telah diterbitkan sejak tahun 1985, tetapi saya baru selesai membacanya minggu lalu. Itu pun karena dipinjamkan oleh salah seorang kolega di kantor saya. Buku ini sangat menarik karena metode yang diajarkan cukup berbeda dan merupakan hal baru bagi saya.

   Seperti namanya, "Six Thinking Hats" merupakan metode berpikir yang direpresentasikan dengan enam buah 'topi' dengan warna berbeda (putih, merah, hitam, kuning, hijau, dan biru) yang melambangkan peran masing-masing topi tersebut. Penggunaan topi dan warna tersebut tentu membuat metode ini lebih mudah untuk dipahami dan diterapkan. Keenam topi berwarna ini bukan merupakan penggolongan cara berpikir. Misalnya beberapa orang hanya berperan sebagai topi hitam, sedangkan yang lain berpikir sebagai topi merah. Meski tidak harus menguasai seluruhnya, setiap orang setidaknya harus dapat berperan dengan cukup baik untuk keenam topi tersebut.

   Metode ini bukan merupakan penggolongan manusia dari cara berpikirnya. Tetapi metode ini merupakan salah satu pendekatan kerangka organisasi berpikir untuk menghasilkan gagasan atau menciptakan solusi yang dapat diimplementasikan dengan baik. Metode ini dapat bermanfaat baik dalam diskusi organisasi maupun individual.

   Bagi sebagian besar orang, berpikir merupakan proses yang rumit dan melibatkan banyak hal untuk diolah. Hal tersebut tentu wajar mengingat kapasitas otak manusia yang luar biasa besar disertai kemampuannya dalam menyerap berbagai informasi. Banyaknya informasi yang harus diolah tentu membuat proses berpikir menjadi lebih sulit. Akan jauh lebih mudah bagi kita untuk berpikir fokus dan sistematis untuk menghasilkan kesimpulan yang lebih baik dan akurat. Metode ini dapat membantu kita untuk mencapai hal tersebut.

   Berikut adalah keenam topi berwarna tersebut yang merupakan representasi cara berpikir.

1. White Hat
Topi pertama adalah topi putih. Bayangkan kertas putih. Berisi data, fakta, dan seluruh informasi yang terkait dengan topik pemikiran atau pembicaraan. Topi putih berperan untuk memaparkan seluruh fakta yang ada yang akan berguna dalam langkah perumusan masalah dan pengambilan keputusan. Hanya fakta, tidak perlu ditambahi dengan pendapat, kritik, perasaan, gagasan atau lainnya. Putih adalah warna yang bersih, datar, tanpa tambahan apapun. Dengan kata lain, topi putih di sini berperan sebagai pembeber fakta yang independen.

2. Red Hat
Kedua adalah topi merah. Merah adalah warna yang agresif, berani, emosional. Peran topi merah dalam organisasi berpikir adalah untuk memberikan pandangan emosional. Topi merah harus berani mengemukakan perasaannya terhadap permasalahan atau fakta yang ada. Topi merah ini berguna untuk memperjelas situasi emosional yang ada. Karena sebaik apapun hasil pemikiran atau diskusi, langkah pengerjaannya tetap bergantung pada kondisi emosional para pemikirnya.

3. Black Hat
Berbicara tentang topi hitam, coba Anda bayangkan profesi-profesi yang menggunakan pakaian hitam yang khas seperti hakim, jaksa, atau wasit. Profesi-profesi tersebut memiliki peran yang hampir serupa, yaitu menemukan hal yang negatif atau kurang baik dari sesuatu. Topi hitam juga memiliki peran yang serupa. Ia dapat menjelaskan apa hal negatif yang dapat terjadi apabila suatu gagasan dijalankan serta memberikan argumentasi. Topi hitam sangat berperan dalam ketelitian dan kehati-hatian dalam mengambil tindakan berdasarkan logika atas gagasan dan fakta yang ada.

4. Yellow Hat
Selanjutnya adalah topi kuning. Bayangkan cahaya matahari yang kuning cerah dan memberikan semangat positif. Dapat dikatakan bahwa peran topi kuning merupakan kebalikan topi hitam. Topi kuning melihat peluang, kesempatan, dan berbagai hal positif lain yang dapat timbul dari implementasi suatu gagasan.

5. Green Hat
Untuk topi hijau, coba Anda bayangkan hijaunya pucuk tanaman yang baru tumbuh, rimbunnya pepohonan, dan suburnya sawah. Ide baru akan muncul, kreativitas terbentuk. Hijau memang telah sering diasosiasikan dengan kreativitas dan dalam organisasi berpikir ini, topi hijau juga berperan menimbulkan kreativitas. Peran topi hijau di sini bukanlah untuk seketika membuat seseorang menjadi lebih kreatif dalam menghasilkan ide, tetapi lebih untuk memberikan waktu yang lebih banyak bagi seseorang untuk berpikir kreatif.

6. Blue Hat
Topi yang terakhir adalah topi biru. Biru melambangkan langit, berada di atas segalanya. Topi biru mengambil peran sebagai organisator. Memikirkan keseluruhan proses kerangka berpikir. Menentukan kapan waktu yang tepat untuk menggunakan suatu topi. Memutuskan siapa yang memberikan pandangan topi merah, siapa yang topi hijau, dan seterusnya. Menuntun diskusi ke arah yang memang ingin dituju. Si topi biru harus mampu melihat diskusi atau kerangka berpikir sebagai suatu gambar besar. Biasanya yang berperan sebagai topi biru ini adalah pimpinan rapat atau diskusi.

Itulah keenam topi pada metode berpikir "Six Thinking Hats" karya Edward de Bono. Metode ini memang sangat simpel dan praktis, tetapi begitu bermanfaat dan dapat menjadi salah satu cara untuk memfokuskan pikiran kita agar dapat lebih efektif menghasilkan sebuah keputusan yang tepat.

Bagaimanapun artikel ini hanyalah pendapat saya pribadi dari apa yang bisa saya simpulkan setelah membaca buku tersebut. Apabila Anda ingin memahami lebih jauh mengenai metode berpikir tersebut Anda dapat mengunjungi laman Dr. de Bono di http://www.edwdebono.com.

Selamat mencoba!! :D

Read more...

The Rules For Being Amazing


  This is a simple writing wrote by Robin Sharma that I took from a Twitter account (actually I don't have any idea who he is yet, but I definitely have to give him credit). Even though its words and sentences are very simple and easy to understand, somehow it's just like a wonderful poem. I think (at least in my opinion) it also contains such a powerful message and great motivation for us to be an amazing person.. Well, here is his writing..

Risk more than is required. Learn more than is normal.
Be strong. Show courage.
Excel. Love. Lead.
Speak your truth. Live your values.
Laugh. Cry. Innovate. Simplify.
Adore mastery. Release mediocrity.
Aim for genius. Stay humble.
Be kinder than expected. Deliver more than is needed.
Exude passion. Shatter your limits.Trascend your fears.
Inspire others by your bigness.
Dream big but start small.
Act now.
Don't stop.
Change the world.

Amazing, isn't it?
And then the question is.. Are you ready to do all of those? :)

Read more...

Waktu



Waktu yang hakikat

   Bagi para pesakitan, waktu adalah musuh yang mereka tipu saban hari dengan harapan. Namun, di sana, di balik jeruji yang dingin itu, waktu menjadi paduka raja, tak pernah terkalahkan. Bagi para politisi dan olahragawan, waktu adalah kesempatan yang singkat, brutal, dan mahal.
   Para seniman kadang kala melihat waktu sebagai angin, hantu, bahan kimia, seorang putri, payung, seuntai tasbih, atau sebuah rezim. Salvador Dali bahkan telah melihat waktu dapat meleleh. Bagi para ilmuwan, waktu umpama garis yang ingin mereka lipat dan putar-putar. Atau lorong, yang dapat melemparkan manusia dari masa ke masa, maju atau mundur. Bagi mereka yang terbaring sakit, tergolek lemah tanpa harapan, waktu mereka panggil-panggil, tak datang-datang.
   Bagi para petani, waktu menjadi tiran. Padanya mereka tunduk patuh. Kapan menanam, kapan menyiram, dan kapan memanen adalah titah dari sang waktu yang sombong. Tak bisa diajak berunding. Tak mempan disogok. Bagi yang tengah jatuh cinta, waktu mengisi relung dada mereka dengan kegembiraan, sekaligus kecemasan. Karena teristimewa untuk cinta, waktu dapat menjelma menjadi jerat. Semakin cinta melekat, semakin kuat waktu menjerat. Jika cinta yang lama itu menukik, jerat itu mencekik.

* Penggalan kisah di atas diambil dari mozaik ke-16 pada buku "Padang Bulan" karangan penulis fenomenal asal pulau Belitong, Andrea Hirata
Read more...

Sajak Stasiun Beos



Perlahan mulai menyeruak
Wajah-wajah yang tak kukenal, yang belum kukenal, yang mungkin juga pernah kukenal
Bergegas menuju petang, menggenggam semburat lembayung Matari
Menggapai-gapai langit

Terkuak wajahmu
Tersibak rambutmu
Terbersit senyummu
di antara debu dan panas yang menguar, yang mengaburkan pandangan

Akankah kuseberangi peron yang menjaraki kaki-kaki kita?
Beranikah diriku menjejaki gerbong penuh sesak itu, demi menemui bayanganku dalam iris matamu?
Dapatkah kutingkapi rel berkarat ini, demi membisikkan ke telingamu 'aku ada..'?

Stasiun tua ini yang menjadi saksi dalam bisu

Tebet - Kuningan, 23-24 Juli 2013

Read more...

Pohon Pinus



Gemerisik angin membelai lembut rambutmu
Selapis kabut menggantung, melayang-layang di atas kepalamu
Matamu menangkap kilas cahaya Matari yang menelusup, memantulkan pancaran jingganya
Sisa hujan semalam mengembun, menetes, membasahi
Membuat pelupukmu sembap, mengerjap-ngerjap basah, sendu

Masih ingatkah engkau kepada wanginya tanah basah?
Yang meruap, menyembur, memenuhi udara
Menyesakkan rongga dadamu dengan rindu tak terbendung
Engkau tak menjawab

Masih kenalkah engkau dengan hijaunya rerumputan dan padang ilalang?
Yang melindungi kaki-kakimu, menyuburkan ragamu
Sehingga kau merasa nyaman karenanya
 Engkau masih tak bersuara

Masih sadarkah engkau akan jalinan pepohonan di sekelilingmu?
Yang rindang, menaungi dirimu tanpa perlu dipinta
Melindungi tubuhmu dari limbung guruh, sengat petir, dan deru badai
Engkau masih jua tak mau berucap

Kutunggu, detik demi detik
Menit demi menit berlalu
Engkau masih juga sunyi sepi sendiri

Kupandangi dirimu lekat-lekat
Hingga akhirnya ku meragu
Dirimukah yang benar ada di balik pohon pinus itu?

Mega Kuningan, 22 Juli 2013


Read more...

Inspirasi dari Dua Penulis Muda

Travel in Love karya Diego Christian
   Saya tidak tahu apa yang membuat saya tertarik untuk membuat suatu karya sastra. Saya memang penggila baca, penggemar buku, sejak balita hingga usia kepala dua saat ini. Belum pernah sebelumnya terbersit di dalam pikiran untuk membukukan tulisan-tulisan saya, yang saya ragukan dapat membuat pembaca tertarik untuk membacanya. Mungkin pemikiran tersebut datang dari dua orang mahasiswa luar biasa ini, Diego Christian Immanuel dan Azhar Nurun Ala. 

   Mereka adalah dua penulis muda berbakat. Yang pertama adalah penulis novel remaja yang telah menerbitkan dua novel yang diterbitkan oleh penerbit mayor yang berbeda dan keduanya meraih penghargaan bergengsi. Novel-novelnya mendapat beragam pujian positif baik dari sesama penulis, maupun pembaca. Yang kedua bisa saya sebut seorang penyair, atau pujangga. Karya prosa bebas, cerpen dan puisi di blog pribadinya dikagumi dan menginspirasi banyak anak muda di seluruh Indonesia. Hingga akhirnya ia menerbitkan tulisan-tulisannya tersebut ke dalam sebuah antologi yang diterbitkan secara self publishing yang responnya sangat hangat. Bayangkan betapa inspiratifnya kedua penulis muda ini!! 

Ja(t)uh karya Azhar Nurun 'Ala
   Keduanya adalah mahasiswa Universitas Indonesia, sama dengan saya (tapi saat ini saya lebih tepat disebut alumni karena sudah lulus sih. Hehe..). Merekapun juga berasal dari angkatan yang sama dengan saya, angkatan 2009, sehingga otomatis kami mengalami masa-masa orientasi universitas yang sama, mengalami saat-saat dimana organisasi kampus dipimpin oleh orang yang sama, dan mengalami beragam peristiwa yang mungkin serupa di kampus. Yahh, meskipun saya baru mengenal mereka beberapa hari belakangan ini. Bacaan mereka pun serupa dengan saya. Keduanya juga menggemari Dewi Lestari dan Paulo Coelho, saya pun begitu. Tidak, saya bukan berusaha untuk menyamakan diri dengan mereka semua. Saya sama sekali berbeda, belum layak disandingkan dengan kehebatan mereka. Mereka adalah pionir, inovator, dan inspirator terutama di bidang tulis menulis. Sementara saya hanyalah pengagum, pengikut, salah satu pembaca yang ikut terinspirasi akan karya-karya hebat mereka. Saya pun tak dapat memungkiri bahwa merekalah yang memercikkan semangat dan menginspirasi saya untuk menerbitkan tulisan-tulisan saya. 

   Seperti orang kebanyakan, saya pun merasa semangat di awal, beragam ide seakan mengalir tanpa henti. Saya pun dengan semangat menuliskan beragam gagasan saya, di buku catatan, di laptop, bahkan di notes BlackBerry. Tetapi ketika saya telah memasuki fasa ‘eksekusi’ beragam negativisme mulai menyerang saya. Mungkin yang saya tidak sadari adalah bahwa saya telah menempatkan ekspektasi yang tinggi terhadap karya saya kelak. Saya berharap karya yang akan saya buat nanti akan diterima secara luas dan baik oleh semua kalangan, seperti halnya dua orang penulis muda yang saya sebutkan di atas. Sehingga terbit keraguan dan pesimisme dalam benak saya bahwa tidak mungkin bagi saya menelurkan karya sehebat mereka. 

   Mungkin juga ekpektasi itu yang membuat saya tidak nyaman dalam mengeksekusi gagasan-gagasan menulis saya. Saya merasa melambat, tidak berhasrat penuh dalam menulis, hingga bahkan mandek karena merasa tidak jujur terhadap apa yang saya coba tuliskan. Saya pun akhirnya merasa tidak nyaman dan merasa ada sesuatu yang salah. Saya merasa kosong, hampa. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk break sejenak dan memikirkan ulang apa yang kira-kira menjadi kesalahan saya dalam memulai semua ini. Ya, saya belakangan menyadari kesalahan saya memang dimulai sejak permulaan. 

   Saya juga membaca ulang beberapa buku favorit saya, terutama karya-karya Dewi Lestari dan Andrea Hirata. Saat membaca novel ‘Perahu Kertas’, saya disadari oleh salah satu penggalan cerita pada novel tersebut. Yaitu saat Keenan memberitahu Kugy bahwa cerpennya yang dimuat di majalah sama sekali tidak mencerminkan dirinya sesungguhnya yang berbeda saat ia menulis dongeng. Bahwa dalam cerpen tersebut, Kugy seperti merangkai kata-kata agar disukai pembaca, bukan berlari bebas seperti dalam dongengnya. Penggalan kisah ini kembali menyadarkan saya akan kejujuran dalam bercerita yang mungkin membuat saya merasa stuck karena hanya mendahulukan rangkaian kata, bukan kejujuran berkisah. 

   Ternyata masih belum selesai. Saya pun kemudian menyadari bahwa salah satu kesalahan saya dalam memulai ini adalah berekspektasi terlalu tinggi sehingga merasa khawatir akan kegagalan. Entah bagaimana muncul perasaan itu. Tetapi yang jelas saya bukanlah orang yang selalu terhindar dari kegagalan. Bahkan sebenarnya saya sudah terlalu sering gagal, jatuh berkali-kali di perasaan kecewa yang serupa dalam mendapatkan apa yang saya inginkan dan cita-citakan, terutama dalam berbagai kompetisi. Tetapi kegagalan-kegagalan itulah yang membuat saya memahami, mengerti, dan menghargai rasanya berada di puncak, ketika saya akhirnya bisa menjadi pemenang. Saya pun sadar saya tidak perlu lagi takut gagal. Saya hanya perlu memelihara perasaan itu pada seluruh proses kreatif saya. 

   Pemikiran-pemikiran itu yang akhirnya menyadarkan saya bahwa saya telah salah dalam memulai. Semoga setelah ini saya kembali menemukan diri saya, berkarya dengan penuh kejujuran terhadap apa yang memang ingin saya sampaikan kepada dunia, sehingga karya yang saya hasilkan akan mengalir apa adanya. Mohon doanya.. :)

Read more...

Apa Buku Pertama Anda?


Tiba-tiba saja saya terlintas pertanyaan tersebut di benak saya. Buku apa yang pertama kali saya baca? Sejauh ini saya telah membaca ratusan buku dari beragam genre dan banyak di antaranya telah menjadi koleksi pribadi saya di kamar. Mulai dari novel, roman, kumpulan cerpen dan prosa, puisi, kamus, buku-buku ilmiah mengenai kimia, fisika, matematika, biologi, studi Islam, hingga psikologi dan manajemen tersebar di rak buku saya. Cukup banyaknya buku yang telah saya koleksi saat ini menjadikan saya mengingat-ingat, buku apa yang sebenarnya pertama kali saya baca.

Ingatan saya pun kembali ke 16 tahun yang lalu saat saya masih berumur sekitar 5 tahun, ketika saya pertama kali mengenal aksara yang kemudian mengenalkan saya kepada dunia. Di usia tersebut saya sudah dapat membaca. Ya, mungkin termasuk cepat untuk anak dengan usia tersebut sudah mampu mengenal huruf dan angka. Pengetahuan saya tentang huruf dan angka tidak saya dapat dari sekolah atau taman kanak-kanak (saya tidak pernah mengenyam jenjang TK), melainkan dari almarhum Ayah saya. Beliaulah guru membaca pertama saya, yang membeli poster ilustratif berisi huruf dan angka, menuliskannya di papan hitam yang beliau beli dengan kapur tulis, mengajari saya mengeja serta melafalkannya untuk pertama kali, dan kata pertama yang saya tulis dan lafalkan dengan sempurna adalah "ABI", nama depan saya yang dalam bahasa Arab juga berarti "Ayah".

Ayah saya gemar membaca, meski beliau tidak pernah mengenyam pendidikan tinggi. Koleksinya saat itu lebih banyak mengenai studi agama Islam yang masih saya simpan di rak buku saya hingga saat ini. Samar-samar saya mengingat beberapa koleksi buku Ayah saya yang menjadi buku pertama yang saya baca dalam hidup saya. 

Buku-buku awal yang saya antara lain adalah "Riwayat Ringkas 25 Nabi dan Rasul" karya K.M. Asyiq (terbit tahun 1975), "Bromocorah" karya jurnalis kondang Mochtar Lubis (terbit tahun 1983), dan "Lembaga Hidup" karya cendekiawan Muslim Buya Prof. Dr. Hamka (terbit tahun 1962). Seperti yang Anda duga, saya memang hanya membaca karya-karya tersebut tanpa tahu makna kalimat di dalamnya karena usia saya yang masih sangat belia saat itu. 

Tetapi tentu hal itu tidak menyurutkan kegemaran saya akan membaca dan menulis. Saya membaca apapun, kapanpun, dan dimanapun. Tidak peduli membaca buku, koran, majalah, iklan, poster, baliho, sampai huruf-huruf yang tercetak di kaos teman saya. Pada usia tersebut, saya juga suka menulis dan menggambar. Medianya pun beragam, di buku tulis dan buku gambar hadiah lomba 17 Agustus, di papan tulis, di kertas bekas, di koran dan majalah, di kertas undangan, bahkan saya juga menulis dan menggambar di dinding dan pintu rumah kami. Saya membaca dan menulis huruf dan angka hingga akhirnya saya dikenal sebagai anak dengan kemampuan membaca dan menulis yang sangat baik saat itu. 

Melihat kegemaran anaknya membaca dan menulis tentu membuat orangtua saya bangga dan ingin mengembangkan minat anaknya. Keterbatasan ekonomi dan finansial tidak membuat orangtua saya patah semangat dalam memberikan dukungan terhadap minat anaknya. Selang beberapa tahun kemudian saat saya sedang berada di bangku sekolah dasar, Ibu saya berinisiatif untuk meminjam buku kepada salah satu yayasan sosial untuk anak-anak di lingkungan tempat tinggal kami, yaitu Panti Nugraha. Buku yang dipinjamkan secara gratis oleh Panti Nugraha sangat beragam dan sangat sesuai dengan proses tumbuh-kembang anak yang memerlukan bahan bacaan yang meningkatkan daya kreativitas dan imajinasi, serta nilai-nilai moral yang luhur.

Ibu saya meminjam beragam jenis buku anak-anak dan membawanya pulang untuk saya baca di rumah. Saya masih ingat beberapa dari buku tersebut adalah ensiklopedia kreatif mengenai bumi dan flora-fauna, ensiklopedia mengenai kehidupan dinosaurus dan manusia purba, serta dongeng-dongeng terkenal dari berbagai daerah di seluruh Indonesia dan juga dari belahan dunia lainnya.

Buku-buku itu adalah salah satu titik balik saya, kecintaan pertama saya terhadap buku dan ilmu pengetahuan secara umum. Saya sangat menyukai ilustrasi yang hidup dan menarik dari ensiklopedia tersebut. Saya terpukau akan fakta-fakta tentang planet yang kita tinggali ini dan dunia flora-fauna yang telah saya ketahui bahkan sebelum anak-anak lain seusia saya. Saya terinspirasi akan keluhuran moral para penggerak cerita pada dongeng-dongeng dari negeri sendiri dan juga dari negara lain. Tidak berlebihan bahwa saya menganggap buku-buku awal tersebut yang telah membuka cakrawala dunia untuk saya, menjadi jendela tempat saya melihat hal-hal yang tidak saya ketahui sebelumnya, dan mengubah jalan hidup saya selamanya untuk terus mencintai buku dan ilmu pengetahuan sepanjang hayat.

Itulah kekuatan buku pertama bagi saya. Saya yakin Anda juga punya buku pertama yang Anda baca. Semoga Anda ingat dan dapat menarik hikmah serta berbagi pengalaman mengenai hal tersebut.. ;) 

Jadi, apa buku pertama Anda?


Read more...

Generasi Muda Penggerak Sains Islam


   Dunia Islam dapat dikatakan mengalami ketertinggalan pada masa kini. Kemiskinan dan kebodohan seakan melekat. Bahkan cap terorisme pun terkadang disematkan kepada umat Muslim oleh negara-negara Barat. Kita juga tidak dapat memungkiri masih banyak negara Islam atau negara berpenduduk mayoritas Muslim yang merupakan negara miskin dan tertinggal. Beberapa dari negara tersebut bahkan mengalami krisis pangan, air bersih, energi, sumber daya alam (SDA) dan juga sumber daya manusia (SDM). Sedangkan lainnya masih merupakan negara berkembang yang umumnya memiliki kelimpahan sumber daya alam, termasuk Indonesia.

   Tetapi kelimpahan sumber daya alam tersebut tidak menjanjikan kemakmuran dan kesejahteraan bagi warganya. Sebagai contoh negara kita Indonesia justru terkenal sebagai negara pengutang terbesar dengan tingkat kemiskinan yang masih relatif tinggi dan juga pengekspor tenaga kerja kasar. Sumber daya alam yang melimpah seperti minyak bumi dan gas, beragam bahan tambang, produk hutan, hingga kekayaan laut masih belum dimanfaatkan dengan maksimal. Kebanyakan dari hasil alam tersebut hanya diekspor dalam keadaan mentah tanpa proses yang dapat meningkatkan nilai jualnya, atau bahkan dikelola oleh pihak asing yang memiliki teknologi canggih. 

   Lalu apa akibat dari semua itu? Devisa mengalir ke luar negeri, sumber daya alam Indonesia tidak dapat dinikmati oleh bangsa sendiri, Indonesia terlilit hutang ekonomi yang tidak sedikit, dan rakyat yang terkena imbasnya dengan harga bahan kebutuhan yang tinggi sementara kesejahteraan masih rendah. Negara kita luluh lantak oleh produk-produk sains dan teknologi dari negara-negara non-Muslim. Penyebabnya hanya satu, kita sebagai umat Muslim tidak menguasai ilmu pengetahuan, sains dan teknologi, baik teoritis maupun praktis.

   Ilustrasi yang mungkin dapat menjadi gambaran betapa sains dan teknologi dapat menjadi kekuatan suatu bangsa adalah laporan dari Islamic Educational Scientific and Cultural Organization (ISESCO) pada tahun 2000. Berdasarkan laporan tersebut sebanyak 57 negara Islam yang tergabung dalam Organisasi Konferensi Islam (OKI) dan memiliki sekitar 1,1 miliar penduduk atau 20 persen penduduk dunia, mendiami wilayah seluas 26,6 juta kilometer persegi, dan menyimpan 73 persen cadangan minyak dunia hanya memiliki gross national product (GNP) sebesar 1016 miliar dollar US. Suatu angka yang sangat kecil jika dibandingkan dengan GNP satu negara maju seperti Perancis misalnya, yang berpenduduk kurang dari 60 juta jiwa dan mendiami wilayah sekitar setengah juta kilometer persegi dan memiliki GNP sebesar 1293 miliar dollar US.

   Fakta itu dikarenakan negara-negara maju yang mayoritas non-Muslim termasuk Perancis mendasarkan pertumbuhan ekonominya pada ilmu pengetahuan dan teknologi, sementara negara-negara Muslim hanya bergantung pada sumber daya kualitatif seperti minyak bumi, gas, dan produk tambang, maupun kuantitatif seperti sumber daya manusia. Mayoritas negara Islam tidak membangun dasar iptek yang kuat sehingga tidak dapat bersaing secara global dengan negara-negara lain yang memiliki fundamen iptek yang kokoh.

   Sekarang kita dapat melihat perkembangan pesat China dan India yang telah menjadi kekuatan ekonomi global baru yang bahkan telah mengalahkan Amerika Serikat. Kiat mereka serupa, membangun dasar iptek yang kuat dengan mengirimkan banyak pemudanya menimba ilmu di luar negeri yang kemudian kembali lagi untuk mengabdi kepada negara dengan membangun infrastuktur ilmu pengetahuan-teknologi. Hasilnya dapat dilihat saat ini, China merupakan negara pengekspor kedua terbesar di dunia setelah Amerika Serikat dan negara dengan industri manufaktur terbesar di dunia. Sementara India saat ini merupakan negara penyedia SDM untuk teknologi informasi terbanyak dan berkualitas. China dan India, berkat kegigihan mereka membangun dasar iptek, kini telah menuai hasilnya dengan menjadi negara dengan ekonomi adidaya di dunia.

   Indonesia sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia tentu sebenarnya memiliki potensi untuk hal yang sama. Banyaknya penduduk dapat menjadi kekuatan tersendiri seperti yang dicontohkan China dan India. Terlebih lagi, banyak anak muda Indonesia yang telah berprestasi di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, baik di kancah nasional maupun internasional yang tentu merupakan suatu kebanggaan bagi kita semua. Tetapi semangat membangun dasar iptek yang kokoh ini tidak merata di seluruh pelosok Indonesia. Generasi muda Muslim Indonesia saat ini kebanyakan masih berkutat pada permasalahan fiqih dan aqidah yang terus menerus diperdebatkan. Hal ini tentu baik, apabila juga diimbangi dengan semangat membangun kembali sains Islam.

   Dalam rangka untuk membangkitkan semangat membangun sains Islam, yaitu sains yang didasarkan atas iman dan tauhid kepada Allah SWT, kita perlu menengok kembali ke sekitar abad ke-8 hingga abad ke-15. Pada masa dinasti 'Abbasiyah ini, dunia Islam pernah mencapai kejayaannya berkat tradisi intelektual yang melanda para cendekiawan Muslim pada periode itu. Pada masa keemasan Islam ini pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sangat marak dan pesat, diawali dengan translasi masif karya-karya para filsuf Yunani kuno. Cendekiawan Muslim pada masa itu mengembangkan lebih lanjut dan mendalam apa yang ditulis oleh para filsuf Yunani kuno seperti Socrates, Plato, Aristoteles, Hippocrates, dan lainnya menjadi cikal bakal sains dan teknologi modern.

   Di masa keemasan inilah lahir para filsuf, ilmuwan, teknokrat, dan cendekiawan Muslim yang sangat termasyhur dan berjasa pada kehadiran era sains dan teknologi modern saat ini. Mereka tidak hanya dikenang oleh umat Muslim, tetapi juga seluruh dunia berkat keuletan dan inovasi dalam membangun fundamen yang kokoh bagi sains dan teknologi modern. Pada rentang masa itu telah lahir saintis Muslim seperti Jabir Ibnu Hayyan (atau dikenal dengan nama Geber di Eropa) yang dikenal sebagai "Bapak Kimia Modern", Al-Khawarizmi sang "Bapak Matematika" yang namanya diabadikan sebagai ilmu algoritma, dan Ibnu Sina (atau dikenal sebagai Avicenna di Eropa) seorang dokter Muslim yang termasyhur di dunia Timur dan Barat berkat bukunya "Canon of Medicine". Di masa ini juga lahir cendekiawan Muslim ternama lainnya seperti Al-Biruni (fisikawan), Ibnu Rusyd atau Averroes (filsuf dan ahli biologi), Ibnu Haitsam (teknokrat), dan juga Ibnu Khaldun (sosiolog-antropolog). Selain itu ada juga Al-Kindi (filsuf), Al-Razi (kimiawan kedokteran), Al-Bitruji (astronom), dan banyak lagi yang lainnya.

   Sayangnya sejarah besar dunia Islam yang menjadi pionir dan peletak dasar sains dan teknologi modern kini dilupakan, bahkan oleh umat Islam sendiri. Generasi muda umat Islam lebih berfokus pada paradigma fikih dari Al-Qur'an. Padahal apabila ditelisik secara lebih mendalam sebenarnya ayat-ayat fikih di dalam Al-Qur'an hanya berjumlah 150 ayat, coba bandingkan dengan ayat-ayat kauniyah, yaitu ayat tentang alam semesta yang berjumlah hingga 750 ayat. Di dalam ayat-ayat kauniyah tersebut, Allah mengajak kita untuk berpikir, di antara berbagai fenomena alam yang ada terdapat tanda-tanda kekuasaan-Nya. Al-Qur'an bukanlah kitab sains, tetapi kenyataan ini tentu berarti sesuatu, yaitu kita juga perlu mendalami dan membangun sains yang bernafaskan iman dan tauhid seperti yang telah dilakukan oleh para cendekiawan Muslim di abad keemasan Islam.


Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda–tanda  bagi orang–orang yang berakal”. [QS. Ali Imran (3): 190]

   Kita semua tentu telah menyadari bahwa sains dan teknologi benar-benar memiliki peranan penting bagi kesejahteraan dan kemakmuran suatu bangsa dan negara. Indonesia mungkin memang terlambat dan tidak begitu fokus pada pembentukan dasar-dasar iptek yang kokoh sehingga mengalami ketertinggalan saat ini. Namun kita seharusnya sebagai generasi muda Muslim yang berasaskan tauhid dalam mengembangkan sains dan teknologi dapat kembali membangkitkan era kejayaan dunia Islam.

   Sebagai generasi muda Muslim yang sebisa mungkin bermanfaat bagi bangsa, negara, dan juga agama, kita memiliki tanggungjawab untuk membuat kemajuan dengan mengembangkan sains Islam. Sains Islam tidak hanya menjadi identitas kita sebagai umat Islam, tetapi juga dapat menjadi momentum kebangkitan dan kejayaan Islam di kancah global.
  
Read more...